Tantangan Ekonomi Indonesia Pasca Pemilu

  • Whatsapp

Oleh: M. Hanafi R
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UBB

Pemilu Serentak 2019 adalah Pemilu pertama di Indonesia yang diselenggarakan secara serentak yang melibatkan 2 Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden serta ribuan Calon Anggota Legislatif dari 16 Partai Politik di seluruh Indonesia. Dari segi ekonomi, pelaksanaan Pemilu, terutama pada tahun 2019 ini, tentu memberikan tantangan tersendiri bagi Indonesia, utamanya dilihat isu – isu ekonomi yang ada. Dilihat dari prospeknya, bagaimana kondisi ekonominya? Apakah membaik atau sebaliknya? Dan apa tantangan yang akan dihadapi nantinya?
Arah perekonomian Indonesia pasca Pemilu perlu kita lihat dari bagaimana para pengamat memandang situasi ekonomi terkini setelahnya. Dilihat dari kacamata para pengamat, sebetulnya mereka optimis dengan perekonomian Indonesia kali ini, dimana mereka menggambarkan kurs rupiah membaik yang kinerjanya menguat 1% sejak Januari lalu, dan pertumbuhan ekonomi yang konsisten tumbuh di 5%, serta aliran dana asing yang terus membanjiri pasar modal Indonesia sejak awal tahun. Hasil Pilpres yang memenuhi ekspektasi pasar juga menarik para investor untuk masuk ke Indonesia.
Dilihat dari perkembangan ekonominya, kita juga bisa melihat dari data kinerja neraca perdagangan yang membaik sejak awal tahun, indikator perekonomian juga menunjukkan tanda-tanda membaik sejak awal tahun, dimana inflasi selalu mendekati level 3% (data di 2018 sebesar 3,13%), tingkatan inflasi terendah sejak 10 tahun yang lalu, di tahun 2009. Perkembangan realisasi investasi di Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup lumayan, kendati beberapa indikator realisasi investasi belum sesuai dengan target yang ingin ditetapkan pemerintah, misalnya pada perkembangan realisasi investasi di Indonesia mencapai Rp721,3 triliun sepanjang tahun lalu.
Meski realisasi investasi mencatat kenaikan sekitar 4,1% dibanding periode yang sama 2017, itu belum menembus target realisasi Rp765 triliun. Ada juga indikator yang mengalami penurunan seperti realisasi investasi Penanaman Modal asing (PMA) yang pada tahun 2018 turun 8,8% menjadi sebesar Rp392,7 triliun tetapi di bidang lain, realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) tembus Rp328,6 triliun atau naik 25,3% dibanding periode 2017. Sementara itu, tenaga kerja yang terserap sepanjang 2018 mencapai 960.052 orang, terdiri atas PMDN 469.684 tenaga kerja dan PMA 225.239 tenaga kerja.

Ada beberapa penyebab realisasi investasi tidak memenuhi target, diantaranya kurangnya implementasi kebijakan hingga transisi perizinan sistem online single submission (OSS). Walau target realisasi investasi tahun lalu tidak terwujud, pihak BKPM optimistis meraih target investasi sebesar Rp792,3 triliun pada tahun ini. Melemahnya realisasi investasi terutama dari PMA tak terlepas dari kondisi perekonomian global, di mana Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) dan European Central Bank (ECB) memberlakukan pengetatan kebijakan moneter yang menyebabkan arus modal memilih masuk ke negara berkembang.
Melihat dari perkembangan ekonomi yang cukup menggembirakan, wajar saja Menko Perekonomian, Darmin Nasution, merasa optimistis bahwa investor tidak lagi wait and see menanamkan modal di Indonesia pascapemilu yang berjalan aman. Karena itu, mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) itu berharap tahapan pemilu yang memuncak pada 22 Mei itu atau pengumuman hasil real count KPU bisa berjalan aman, siapa pun kelak yang dikehendaki masyarakat untuk memimpin Indonesia.
Tetapi kita harus ketahui, bahwa banyak sekali tantangan yang akan dihadapi siapapun Presiden terpilih untuk mengendalikan kondisi ekonomi kita agar tertahan dari adanya guncangan ekonomi global, seperti terjadinya Perang dagang antara Amerika Serikat dan China, atau yang sekarang disebut dengan Tiongkok, negosiasi Brexit yang tak kunjung usai, dan juga krisis keuangan yang melanda sebagian negara berkembang seperti Turki, Venezuela, dll. Defisit Transaksi berjalan dan juga mahalnya harga pangan harus menjadi perhatian utama bagi siapapun Presiden yang terpilih, karena dua masalah di atas akan sangat berpengaruh bagi ekonomi Indonesia serta hajat hidup rakyat banyak.
Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih nantinya juga akan dihadapkan oleh lemahnya daya beli masyarakat serta meningkatnya angka setengah pengangguran yang ada pada masyarakat Indonesia dan penciptaan lapangan pekerjaan yang masih kurang memadai. Oleh karena itu, setelah Pemilu nanti Presiden terpilih harus bisa memastikan bahwa mereka bisa menjaga stabilitas ekonomi dan menciptakan lapangan kerja yang memberikan rasa aman bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Mudah-mudahan pasca pemilu, dengan terpilihnya seorang pemimpin yang diberi amanah oleh masyarakat Indonesia, seseorang pemilih bisa lebih mengerti tentang apa permasalahan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini, dan jangan sampai nanti keadaan ekonomi yang baik ini terganggu oleh pergantian pimpinan negara di negeri ini.(***).

Related posts