Tamu Ketiga

No comment 552 views


Karya: Rusmin

Lelaki renta lusuh itu datang ke kediaman Migrun saat senja. Saat rembulan mulai menggeliat dari mimpi panjangnya. Saat mentari mulai kembali keperaduannya.
Lelaki setengah baya itu adalah tamu ketiga yang berkunjung ke rumah Migrun. Sebelumnya ada tetangga dan tokoh masyarakat yang datang ke rumah Migrun saat lelaki muda itu baru saja tiba di rumahnya. Dan entah apa yang mereka bicarakan. Yang pasti lelaki tua berbaju lusuh itu meninggalkan rumah yang terletak di pojokan Kampung saat para warga mulai menuju masjid.
“Mohon Bapak pikirkan kembali soal penolakan Bapak untuk membantu saya,” desis lelaki renta itu saat hendak meninggalkan rumah lelaki muda itu.
“Saya sungguh membutuhkan uang itu untuk biaya berobat,” sambung lelaki itu dari luar pagar.
Migrun hanya terdiam menatap kepergian lelaki tua. Dan sudah tiga senja berturut-turut, lelaki tua itu mendatangi rumah Migrun. Dan seperti biasa, lelaki berbaju lusuh itu kembali saat senja mulai menua ketika azan magrib hendak dikumandangkan untuk mengingatkan semua orang bersujud kepada Sang Maha Pencipta.
Dan malam itu, malam yang dipenuhi bintang gemintang. Migrun berbincang dengan istrinya. Sinar rembulan seolah menjadi saksi dua manusia itu. Sesekali kerlap kerlip bintang mengornamen dua sejoli itu. Perbincangan pasangan suami istri ini mengingatkan mareka akan masa-masa romantisme saat masih berpacaran dulu. Sebuah nostalgia hidup yang masih layak untuk dikenang. Sebuah sejarah hidup yang layak diwariskan kepada anak cucu sebagai simbol pertautan dua hati yang saling mencintai.
“Jadi Ayah ingin membantu Bapak tua itu?” tanya istrinya.
” Sebenarnya aku enggan membeli rumah tua itu. Tapi Bapak itu memaksa aku, Bu. Dan surat-suratnya lengkap,” jawab Migrun sembari menyeruput kopi hitam buatan istrinya.
“Lantas untuk apa rumah dan kebun Bapak tua itu kalau Ayah jadi membelinya?” kembali istrinya bertanya.
“Bapak itu ingin aku menjadikan rumahnya dan kebun itu sebagai masjid,” ungkap lelaki muda itu.
“Masjid?” ujar istrinya dengan diksi setengah bertanya.
“Iya,” jawab Migrun.
Malam makin merenta. Kehidupan mulai menyepi. Para warga mulai merebahkan diri di peraduan untuk menghilangkan kepenatan. Menemui mimpi yang indah dibalik sesatnya kehidupan yang makin mengganas ditelan era moderenisasi dan duniawi yang makin tergerus dengan dekadensi moral yang makin menyusut sebagai simbol hidup dan kehidupan.
Setidaknya dibalik beristirahatnya raga, terselip rasa rindui akan kehidupan yang layak untuk ditemui esok pagi, seiring datangnya mentari pagi dengan cahayanya yang indah. Di balik rumah tua, seorang lelaki renta masih terus berzikir dengan menggemakan ayat-ayat suci untuk religiuskan malam. Sementara malam makin merenta. Serenta tubuhnya yang mulai dimakan usia dan zaman.

Migrun akhirnya bersedia membeli rumah milik lelaki renta itu. Lelaki muda itu seakan tak percaya bisa membeli rumah Bapak tua itu. Padahal dananya hampir tak mencukupi. Hampir-hampir mustahil. Namun disaat niatnya sudah bulat dan tekadnya ingin membantu Bapak tua itu, tiba-tiba dia mendapat kabar soal kenaikan gaji dari kantornya yang membuat tabungannya tak terkuras habis untuk pembelian rumah milik Pak Tua itu.
Dan senja itu, wajah sumringah menghampiri lelaki tua saat Migrun datang bersama istrinya ke rumah. Bapak tua itu seolah percaya dan yakin kedatangan Migrun dan istrinya akan mewujudkan impiannya, menjadikan rumahnya sebagai masjid. Bapak tua itu menyambut kedatangan Migrun dan istrinya dengan semangat juara. Semangat kemenangan.
“Saya percaya dengan Bapak, maka rumah dan kebun ini saya jual untuk dijadikan masjid. Saya percaya,” ungkap lelaki tua itu sambil menyalami tangan Migrun penuh erat berkali-kali sebagai tanda terima kasih.
“Lantas, kalau rumah ini dijual, Bapak mau tinggal dimana?” tanya Migrun.
Lelaki tua itu terdiam. Hanya desis angin yang hadir seakan menjawab pertanyaan Migrun. Dan sebelum Bapak tua itu menjawab, suara bedug telah berdentang yang membuat Migrun dan istrinya dengan terburu-buru meninggalkan kediaman Bapak tua itu. Semilir angin berhembus.

Usai Sholat Isya, Migrun didatangi beberapa warga soal rencana pembangunan masjid. Mareka berharap banyak ada solusi dari lelaki muda yang bekerja di kota itu. Setidaknya hubungan perkawanan Migrun lebih luas dan lebih banyak dari mareka yang tinggal di kampung. Setidaknya para warga percaya, Migrun akan bisa menjawab impian mereka untuk membangun masjid yang representatif.
“Dana kita masih kurang. Maka itu kami datang ke sini untuk meminta solusi bagaimana baiknya agar pembangunan masjid ini terlaksana,” ujar Pak Bujang tokoh agama di Kampung.
“Bagaimana kalau rumah yang saya beli itu kita jadikan masjid. Dan kekuarangan dananya bisa kita peroleh dari penjualan kebun yang letaknya di belakang rumah itu,” ujar Migrun memberi solusi.
“Itu ide yang bagus, Pak,” ungkap warga yang hadir di rumah Migrun.
“Akhirnya impian kita warga kampung untuk memiliki masjid yang baik terkabul juga,” sela warga lainnya dengan wajah sumringah.
Malam memancarkan cahayanya yang indah. Seindah impian para warga kampung yang akan memiliki masjid representatif.
Seorang pimpinan developer menyambangi kediaman Migrun saat Migrun baru saja pulang dari Kantornya. Wajah lelaki berbadan tegap itu tampak gembira, seolah-olah dirinya akan berhasil mendapatkan apa yang diinginkan dengan kedatangannya. Wajahnya menampakkan sebuah kemenangan. Wajah seorang juara.
“Saya ingin membeli kebun Bapak. Dan saya beli dengan harga yang mahal dan sangat fantastik,” ungkap lelaki parlente itu sembari menyebut sebuah angka yang sangat besar nominal.
Dan Migrun kaget. Harga yang ditawarkan Bos developer itu bukan hanya sekedar bisa untuk membangun masjid saja. Dan sebelum sempat Migrun menjawab, Bos developer langsung menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat.
“Iya. Saya beli dengan harga yang saya sebutkan tadi,” ujar lelaki itu dengan senyum kemenangan.

Rumah tua yang dibeli Migrun akhirnya berubah menjadi sebuah masjid yang sangat megah. Kebahagian memancar dari seluruh penghuni kampung saat pembangunan masjid itu selesai dalam tempo yang cepat. Tak kurang dari tiga bulan. Impian mereka untuk memiliki masjid yang bagus dan luas akhirnya tercapai.
“Masjid ini sebenarnya adalah sumbangan seorang Bapak tua yang saya sendiri kurang kenal. Hanya beliau menitipkan amanah kepada saya agar rumahnya dibangun masjid,” ungkap Migrun kepada para warga Kampung.
“Siapa lelaki hebat itu,” tanya warga dengan penuh rasa penasaran.
“Saya juga tidak mengenal secara dekat. Beliau hanya datang ke rumah sebanyak tiga kali untuk menawarkan rumahnya dan kebun agar saya beli,” jelas Migrun.
Semua warga terdiam. Mereka mulai menerka-nerka siapa lelaki dermawan itu. Mereka mulai bertanya-tanya siapa lelaki hebat itu.
Usai pembangunan masjid, para warga selalu melihat ada lelaki tua yang datang menyambangi masjid saat malam beranjak renta. Ya, lelaki tua itu selalu datang saat tengah malam. Beberapa warga sering kali menjumpai lelaki tua itu masuk ke masjid saat malam merenta. Berzikir ditengah malam.
Senja mulai melingkupi bumi, ketika lelaki tua itu datang kembali menyambangi rumah Migrun. Rasa terkejut bercampur bahagia menghampiri wajah lelaki tua itu. Tak terkecuali Migrun. Ada kebahagiaan yang terselip dari relung hatinya.
“Saya cuma mau mengucapkan terima kasih kepada adik yang telah melaksanakan amanah saya. Terima kasih,” ujar lelaki tua itu dan langsung meninggalkan rumah Migrun.
Lelaki muda itu cuma terdiam. Tertegun menyaksikan kepergian Bapak tua itu meninggalkan rumahnya. Mulutnya seakan terkunci untuk menanyakan sesuatu kepada lelaki tua itu. Ada rasa sesal yang mengaliri nuraninya. Setidaknya Migrun ingin bertanya dimanakah Bapak itu tinggal sekarang. Tapi kembali mulutnya terkunci. Dan Bapak tua itu telah hilang dari pandangan matanya. Yang dilihatnya hanya kesunyian jalanan dan beberapa warga Kampung yang mulai ramai menuju masjid untuk bersujud kepada Sang Maha Pencipta. (***)

Toboali, Bangka Selatan

Print Friendly
No Response

Leave a reply "Tamu Ketiga"