Tak Lolos Tes Bawaslu, Syawal Tuntut Dunia Akhirat

Syawaludin, peserta seleksi anggota Bawaslu Babel yang tidak lolos 12 besar ketika memprotes kebijakan Timsel, dalam jumpa pers dengan awak media, kemarin. (Foto: Roni Bayu)

12 Calon Anggota Bawaslu Diumumkan
Protes, Pertanyakan Kinerja Timsel

PANGKALPINANG – Pengumuman calon anggota Badan Pengawas Pemilu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Bawaslu Babel), Senin (14/8/2017) kemarin telah disampaikan ke publik. Namun, 12 nama calon anggota yang dinyatakan lolos seleksi oleh Tim Seleksi (Timsel) dan telah diumumkan, mengundang protes dari salah satu peserta, yakni Syawaludin, S.Pd.
Mantan anggota KPUD Provinsi Babel dan KID Babel ini ternyata tidak lolos seleksi. Ia meragukan tahapan seleksi yang disebut-sebut sangat transparans dengan ujian menggunakan sistem CAT (Computer Assisted Test). Sebab, sejumlah nama yang masuk dalam daftar urutan nilai tertinggi, disingkirkan oleh Timsel Bawaslu.
Bahkan, kata Syawal sapaan Syawaludin, ada salah satu calon anggota Bawaslu Babel yang namanya masuk dalam 12 besar tersebut, justru berada di urutan penilaian ke-69 dengan skor hanya 27,33 ketika seleksi berlangsung.
Karenanya, pengumuman 12 besar calon anggota Bawaslu Babel oleh Timsel Bawaslu dengan nomor 012/TIMSEL/BAWASLU-BB/VIII/2017, dinilainya subyektif dan berbanding terbalik dengan bobot seharusnya. Menurut Syawal, ujian menggunakan sistem CAT dengan nilai bobot 70 persen tersebut, tidak berguna dan tidak berdampak besar dalam menentukan nama 12 besar calon anggota Bawaslu.
“Dalam hal ini, saya selaku peserta dengan nomor 068, mempertanyakan kinerja Timsel. Karena, berdasarkan hasil CAT dan sudah diketahui khalayak ramai, sistem CAT yang digunakan Bawaslu, tes online. Didalam hasilnya, menunjukkan saya adalah peringkat pertama, dengan hasil skor 58,00. Yang ingin saya pertanyakan, bagaimana Timsel dalam menghitung hasil tes tersebut. Dimana hasil CAT tersebut yang disampaikan Ketua Timsel sendiri Bapak Profesor Hatamar Rasyid bobotnya 70 persen. Itu sudah disampaikan Ketua Timsel Bawaslu,” keluh Syawaludin dalam jumpa pers yang digelarnya kemarin.
Ia menyebutkan, jika rujukan 12 besar calon anggota Bawaslu Babel menggunakan sistem CAT dengan bobot 70 persen, seleksi-seleksi selanjutnya yaitu tes psikologi, tes kesehatan dan wawancara tinggal diakumulasi 30 persennya saja.
“Sementara dalam pengumuman tahapan pertama ini, saya menilai harusnya objektif dan kuantitatif. Artinya, apapun yang dihasilkan peserta itu harus diumumkan. Kalau sistem CAT ini digunakan, harus transparan, karena setelah mengetahui hasil tes peserta langsung mengetahui hasilnya. Sistem yang susah-payah digunakan Bawaslu, seolah-olah tidak diperhatikan sama sekali,” sesalnya.
“Namun mohon maaf, saya tidak menyebutkan namanya, ada peserta dengan nilai 27,33 ranking 69 masuk. Kok saya yang nomor satu disingkirkan? Saya hanya mengejar keadilan dan profesionalisme. Karena lembaga ini, harus diawali dengan proses yang benar dan baik, bukan proses sesuka hati saja. Semuanya ada mekanisme dan aturannya. Saya kira, Bawaslu ketika menunjuk Timsel, sudah membuat petunjuk-petunjuk teknisnya. Saya akan minta kepada Timsel, bagaimana mereka mengkonversi nilai secara transparan dari tiga tes ini, hingga mengumukan 12 besar itu. Apa yang membuat Timsel dengan tidak memperhatikan sama sekali CAT dengan skor 58? Yang katanya nilai CAT itu 70 persen. Ini bukan hanya kepentingan diri saya, tapi menyelamatkan demokrasi di Bangka Belitung,” tegasnya.
Disinggung adanya indikasi “permainan” oleh Timsel Bawaslu Babel, Syawal enggan menuding. Kendati demikian, masyarakat menurutnya dapat melihat fakta sesungguhnya. Dan ia akan melaporkan hal tersebut ke Bawaslu pusat, untuk mempertanyakan hasil seleksi.
“Tolong Timsel menjelaskan kepada publik dan saya. Saya anggap ini tidak adil. Tapi jika anda lihat dalam hasil CAT dan sudah menyebar semuanya. Kalau masalah ada tanggapan masyarakat, atau saya memiliki persoalan, ada tahapan klarifikasi, bukan tahapan saat ini. Karena Timsel bekerja berdasarkan tahapan-tahapan,” imbuhnya.
Mahasiswa pascasarjana hukum ini menegaskan, untuk mencari keadilan terhadap dirinya dalam tahapan seleksi anggota Bawaslu Babel ini, ia akan berjuang sekuat tenaga bahkan siap menuntutnya dunia akhirat.
“Saya akan tuntut ini dunia akhirat. Saya bukan mesti masuk ke dalam Bawaslu, itu lain ceritanya. Tapi secara objektif, saya sudah mengikuti seleksi ini sesuai dengan aturan yang ada. Dan pada saat ini juga, jika mereka sesuai aturan sampaikan kepada publik, jika memang sesuai dengan aturan yang ada,” pungkasnya.
Sekadar informasi, Timsel Bawaslu Babel telah mengumukan 12 besar calon anggota Bawaslu Babel. Adapun 12 besar tersebut berikut dengan hasil tes CAT yakni, Andi Budi Yulianto (52,67), Yandi (52,67), Pardi (48,67), Edi Irawan (50,67), Rizal (44,00), Harly Juniarsah (46,67), Firman TB Pardede (48,00), Zulkarnain (47,37), Hendra Sinaga (42,67), Rusdi (39,33), Anas Fauzi (44,00) dan Ernawati (27,33).
Sedangkan urutan dari nilai tertinggi 12 besar berdasarkan hasil CAT Bawaslu Babel yang digelar 9 Agustus 2017 lalu yaitu, Syawaluddin (58,00), Robert Randy Wandra (56,00), Guid Cardi (54,67), Ujang Adhari (54,00), Andi Budi Yulianto (52,67), Pudjiarti (52,67), Yandi (52,67), Zulterry Apsupi (50,67), Edi Irawan (50,67), Pardi (48,67), Firman TB Pardede (48,00) dan Zulkarnain (47,33).
Sayangnya, Ketua Timsel Bawaslu Babel, Hatamar Rasyid ketika dikonfirmasi via telepon seluler kemarin sore sekira pukul 17.12 WIB terkait protes Syawaludin ini tidak berhasil. Dihubungi berulangkali, ponselnya dalam kondisi tidak aktif. Demikian juga ketika kembali dihubungi tadi malam pukul 22.34 WIB, ponsel yang bersangkutan masih dalam keadaan tidak aktif. (ron/1)

No Response

Leave a reply "Tak Lolos Tes Bawaslu, Syawal Tuntut Dunia Akhirat"