Cerpen

Tak Ada yang Datang, yang Tak Pernah Pergi

foto: ilustrasi/pixabay.com

Karya : R Sutandya Yudha Khaidar

Bagian I : Laki-Laki yang Menyeberang

Setiap kali sebuah peran dimasukinya, laki-laki itu tahu, ada jiwa baru yang tumbuh. Jiwa-jiwa baru yang memesona. Jiwa-jiwa baru yang menyeretnya dalam pusaran. Semakin ia mengenal jiwa-jiwa itu, semakin ia merasa kerdil. Kecil. Sebuah arus kecil dalam luasnya samudra. Semakin banyak yang belum dikuasainya. Ia seperti perenang pemula di tengah-tengah perenang olimpiade. Diam-diam, ia merasa iri. Pada jiwa-jiwa besar yang telah dimasukinya. Ia sengaja membiarkan dirinya terserap, diombang-ambingkan pusaran, timbul tenggelam menuju dasar yang amat jauh dan dalam. Ia tak mau menjadi sepotong wajah yang menawan.

Ia tahu, sejak saat itu, ia tidak pernah lagi bisa menjadi sosok yang sederhana. Ia tidak dapat lagi menjadi seseorang yang memikirkan hal-hal yang dangkal. Ia tidak dapat lagi menjadi seseorang yang tertawa keras dan lebar. Ia telah mendatangi tempat-tempat yang membuatnya mengenal air mata yang meleleh di lubuk hati. Air mata yang tidak pernah tumpah menjadi titik-titik air yang dapat dipegang. Air mata yang mengalir bersama garis senyum dan tawa. Ia telah bertemu dan mengenal orang-orang yang memiliki kebesaran jiwa. Jiwa yang lebih besar dari bumi yang dapat mengukurnya. Air mata itu meresap dan menetes dalam batinnya. Menetes-netes di sudut yang kosong dan perlahan memanjat ke dalam jiwa-jiwa barunya yang terus tumbuh besar.

Laki-laki itu mencintai perempuan itu. Perempuan yang membuat tarikan senyumnya selalu melebar walaupun ia berusaha sembunyikan. Namun, ia tahu, ia dan perempuan itu tak lagi berbagi ruang batin. Tawa lebar perempuan itu berada di dunia yang berbeda dengannya. Mereka dapat menikmati tawa masing-masing, namun mereka tak lagi berada pada dimensi yang sama.

Ia percaya cinta dapat abadi di hati pemiliknya. Ia dapat memeluk dirinya sendiri, seperti ketika dua puluh empat tahun yang lalu, ia memeluk dirinya sendiri meluncur dari rahim ibunya. Sendirian memeluk tangisnya yang melengking membelah kesunyian. Kesendirian bukanlah penderitaan, namun kesadaran akan jiwa yang telah genap sejak ia dilahirkan.

Pages: 1 2 3 4

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

ads






To Top