Syariat Membawa Maslahat: Pelajaran dari Ibadah Puasa

  • Whatsapp

Oleh: Sofiyan Rudianto

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Dzar yang artinya:“Umatku akan senantiasa ada dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka dan mengakhirkan sahur.” Hadits ini menjelaskan dua hal kepada kita,Pertama sunnah bagi orang yang berpuasa untuk mempercepat buka dan mengakhirkan sahur. Kedua Umat Islam akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka menjalankan sunnah Nabi, menyalahi kebiasaan kaum kafir. Sabab wurud hadits ini menjelaskan bahwa kebiasaan yahudi adalah mempercepat sahur dan mengakhirkan buka. Kemudian nabi memerintahkan umatnya untuk menyalahi kebiasaan Yahudi dan berpegang pada sunnah nabi yaitu mempercepat buka dan mengakhirkan sahur. Dalam riwayat lain nabi mengatakan, yang artinya: ”percepatlah berbuka karena kaum Yahudi selalu mengakhirkan buka”
Namun yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah poin yang kedua, yakni Umat Islam akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka menjalankan sunnah Nabi, menyalahi kebiasaan kaum kafir. Dalam pelaksanaan Ibadah puasa, Rasulullah SAW telah memberikan contoh kepada kita agar menyalahi kebiasaan kaum kafir meski dalam hal sahur dan berbuka puasa yang sifat dan efeknya hanya kepada individu seorang muslim saja. Apalagi dalam mengatur dan mengurusan urusan umat, urusan rakyat, yang memiliki dampak secara luas bagi kemaslahatan umat, kemaslahatan rakyat, maka tentu bagi siapa saja yang diberikan amanah untuk mengurus urusan ini tidak boleh tidak, mereka tidak menggunakan aturan yang berasal dari orang kafir dan peradaban kufur, mereka harus menyalahi seluruh aturan yang berasal dari orang kafir dan peradaban kufur, serta mereka harus dan senantiasa berpegang teguh pada sunnah Nabi SAW.
Muncul pertanyaan, mengapa kita harus menyalahi kebiasaan orang kafir dan wajib berpegang teguh pada sunnah Nabi SAW? Selain memang perkara tersebut diperintahkan oleh syariat, ternyata di dalamnya terdapat maslahat dan kebaikan untuk kaum muslimin khususnya, dan seluruh manusia pada umumnya. Dalam hadits di atas dicontohkan sunnah nabi yang hukumnya mandub atau mustahab yaitu mempercepat buka dan mengakhirkan sahur. Dari sini bisa kita tarik mafhum muwaafaqah min babi aula, yaitu jika berpegang teguh pada syariat yang hukumnya sunnah /mandub saja akan mendapatkan kebaikan,apalagi berpegang teguh pada Syariat yang wajib. Jika bergang teguh pada sebagian syariat saja akan mendapatkan kemaslahatan apalagi jika kita berpegang teguh pada syariat secara total. Tentunya kemaslahatan yang akan didapat pasti akan lebih besar lagi.
Syaikh Muhammad Muhammad Ismail menyatakan dalam kitabnya fikrul Islam bahwa “Di mana saja ada Syariat maka di sana ada kemsalahatan”. Inilah yang menjadi keyakinan setiap muslim. Syariat Islam yang diturunkan oleh Allah pasti membawa kemaslahatan. Berpegang teguh pada syariat akan membawa kebaikan (baca;kemaslahatan) sebaliknya meninggalkan Syariat akan mebawa bencana dan malapetaka. Mari kita renungkan firman Allah SWT dalam Al Qur’an, surat Thaha ayat 123 – 126, yang artinya: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari per ingatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.”
“… maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku.” (Thaha: 123). Abul Aliyah mengatakan yang dimaksud dengan petunjuk ialah melalui para nabi dan para rasul serta keterangan yang disampaikan mereka. “…lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123). Ibnu Abbas mengatakan, bahwa dia tidak akan sesat di dunia ini dan tidak akan celaka di akhiratnya nanti.
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku…” (Thaha: 124)Yaitu menentang perintah-Ku dan menentang apa yang Kuturunkan kepada rasul-rasul-Ku, lalu ia berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil petunjuk dari selainnya. “… maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (Thaha: 124), Yakni kehidupan yang sempit di dunia. Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (Thaha: 124) Yaitu kesengsaraan.Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, yaitu Segala sesuatu yang Aku berikan kepada seorang hamba, sedikit atau banyak, ia tidak bertakwa kepada-Ku karenanya, maka tiada kebaikan pada sesuatu itu; inilah yang dimaksud dengan kehidupan yang sempit.
“… dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (Thaha: 124). Menurut Mujahid, Abu Saleh, dan As-Saddi, makna yang dimaksud ialah bahwa orang yang bersangkutan tidak mempunyai alasan kelak di hari kiamat untuk membela dirinya. Ikrimah mengatakan bahwa orang kafir dibutakan matanya dari segala sesuatu, kecuali neraka Jahanam. Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? (Thaha: 125)Yakni ketika di dunia ia melihat. Maka Allah menjawab melalui firman-Nya: “Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (Thaha: 126). Maksudnya, karena engkau berpaling dari ayat-ayat Allah dan kamu memperlakukannya seakan-akan kamu tidak mengingatnya, padahal sudah disampaikan kepadamu. Kamu pura-pura melupakannya, berpaling darinya, serta melalaikannya. Maka begitu pula pada hari ini, Kami memperlakukan kamu sebagaimana perlakuan orang yang melupakanmu.
Oleh karena itu sangat terang dan jelas apa yang disampaikan Allah SWT di dalam ayat-ayat tersebut, bahwa setiap hamba yang berpegang teguh pada syariat-NYA, maka pasti akan membawa kebaikan pada dirinya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sebaliknya, siapa saja yang berpaling dari syariat-NYA, maka baginya kehidupan yang sempit, sulit dan sengsara tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat kelak. Demikian pula, jika suatu negeri berpegang teguh pada syariat Allah SWT, maka pastilah negeri tersebut akan menjadi negeri yang barokah, aman dan sejahtera serta diridhai Allah SWT, sebaliknya negeri yang meninggalkan syariat Allah SWT, seraya mengambil aturan hidup yang lain, maka bisa dipastikan negeri tersebut pada akhirnya akan mengalami kehancuran!

Related posts