by

Surat Al Fatihah untuk Ayah dan Ibu

-Cerpen-419 views

Karya: Rusmin

Azan baru saja berkumandang dengan sakralnya. Sakralkan jagad raya. Sakralkan cakrawala. Aku bergegas untuk menyegerakan membatalkan puasa. Segelas air putih membatalkan puasaku. Dengan langkah nan riangsegera menuju masjid yang tak terlalu jauh dari rumahku.
Aku tiba di rumah saat jam menunjukkan pukul delapan. Usai Sholat Taraweh aku baru pulang ke rumah dan menikmati menu berbuka puasa yang disajikan istriku. Hari ini menu berbuka puasa kami sangat banyak. Ada empek-empek. Ada lempah kuning khas daerah kami. Dan sederet minuman segar lainnya. Sungguh aku bersyukur bisa menikmati buka puasa dengan makanan ini.
Tiba-tiba aku teringat dengan ayah dan ibu. Sudah sekitar 10 tahunan mereka tidak pernah berpuasa lagi. Sudah 10 tahunan lamanya aku tak bisa berbuka puasa dengan mereka lagi. Mereka telah menghadap Sang Maha Pencipta, Allah SWT.
Tiba-tiba aku ingin berkirim surat Al-Fatihah buat mereka. Entah kenapa aku tiba-tiba rindu dengan mereka. Sebelum Ramadan tiba, aku berziarah ke kubur mereka bersama istri dan anakku. Sekadar untuk memanjatkan doa kepada mereka. Sekaligus mengenang mereka dan introspeksi diri. Dan tentu saja membersihkan makam mereka.
Ku buka laptopku. Tanganku segera menekan tombol tuts-tuts laptop. Ringan sekali tanganku menari di atas keyboard laptop.
Surat untuk Ayah dan Ibu di Alam Kubur
Dengan memulai frasa Bismillahirrohmannirrohim…
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,
Kutulis surat ini untuk ayah dan ibu yang kini berada di alam kubur. Semoga ayah dan ibu selalu dalam limpahan berkah dan lindungan Allah SWT di alam kubur. Semoga ayah dan ibu mendapat tempat yang sangat layak dalam alam kubur sebagaimana amal perbuatan ayah dan ibu selama di dunia. Sebagai anak, aku tahu bagaimana ayah dan ibu selalu mengajarkan kami berbuat baik dengan sesama manusia. Dan itu selalu dipraktekkan ayah dan ibu selama hidup di dunia.
Ayah dan Ibu yang selalu dalam lindungan Allah SWT.
Sebagai anak aku bangga dengan ayah dan ibu yang selalu mengajarkan kami anak-anaknya untuk selalu jujur dan tidak menyusahkan manusia yang lain di dunia ini. Ayah dan Ibu tidak pernah menyusahkan tetangga maupun kerabat selama hidup di dunia. Ayah dan Ibu selalu menolong tetangga maupun kerabat semampu ayah dan ibu. Walaupun untuk itu ayah dan ibu harus berkorban. kami sungguh bangga dengan ayah dan ibu.
Ayah dan Ibu…
Sebagai orangtua, ayah dan ibu selalu berjuang untuk kebaikan anak-anaknya. Walaupun untuk menyekolahkan kami, anak-anaknya, ayah dan ibu memperjuangkan airmata. Bahkan darah untuk kami agar bisa bersekolah tinggi sebagai bekal kami dalam menantang hidup di dunia yang makin keras dan kompetitif. Ayah dan ibu tidak mau kami sebagai anak-anaknya bodoh. Karena kebodohan amat dekat dengan kemungkaran.
Ayah dan ibu…
Setiap bulan suci Ramadan tiba, aku selalu ingat dengan ayah dan ibu yang selalu membagikan takjil dan makanan khas kampung kita kepada tetangga untuk mereka berbuka puasa. Walaupun nilainya tak besar, namun para tetangga kita selalu menantikannya. Dan kini aku pun selalu memberikan makanan dan takjil buat tetangga walaupun hanya untuk tetangga dekat rumah saja. Ini kulakukan untuk meneruskan kebiasaan Ayah dan Ibu semasa hidup untuk berbagi dengan sesama manusia.
Ayah dan Ibu…
Aku masih ingat setiap usai Sholat Tarawih, ayah dan ibu selalu mengaji sehingga suasana rumah kita terasa sangat sakral. Alunan suara ayah sangat bagus. Demikian pula dengan suara Ibu yang katanya pernah menjadi juara MTQ walaupun hanya tingkat desa. Kini aku meneruskannya. Bersama istri aku selalu melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, sehingga suasana malam Ramadan di rumah kami sangat kental nuansa religiusnya.
Ayah dan ibu…
Ku akhiri surat ini dengan segala permohonan permintaan maaf yang sangat tulus dari lubuk hati yang terdalam dari kami anak-anak ayah dan ibu. Dan kami slalu membacakan Al-Fatihah untuk ayah dan ibu setiap malam Ramadan. Semoga dengan membaca Al-Fatihah jalan ayah dan ibu di alam kubur selalu terang dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Toboali, malam 3 Ramadan. Dari anakmu…
Laptop pun ku tutup dan ku matikan. Malam makin merenta. Cahaya rembulan menua. Sebagai tanda bahwa sebentar lagi waktu sahur segera tiba. Dan suara azan Subuh pun berkumandang dari masjid dengan sakralnya sebagai tanda bagi kita sebagai manusia untuk segera bersujud kepada Sang Maha Pencipta alam raya ini. (**)

Comment

BERITA TERBARU