Suranto Gugat Kajati Babel

  • Whatsapp

Jumat, Sidang Praperadilan Dimulai
Ditangkap, Kajati: Kami Menganggap Tidak Kooperatif

PANGKALPINANG – Ada hal yang lebih menarik perhatian publik dari perkara dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) proyek pembangunan Penerangan Jalan Umum (PJU) sebanyak 100 titik di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur, dengan tersangka Suranto Wibowo, Staf Ahli Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Bidang Ekonomi dan Pembangunan.

Ternyata, diam-diam Suranto mengajukan permohonan gugatan Praperadilan (Prapid) terhadap penetapan dirinya sebagai tersangka oleh tim penyidik Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung (Tipidsus Kejati Babel). Ia menggugat Kepala Kejati Babel, karena tidak terima ditetapkan sebagai tersangka korupsi.

“Ir. Suranto Wibowo telah mengajukan Praperadilan ke Pengadilan Negeri Pangkalpinang sebagai pemohon. Sedangkan yang menjadi termohon dalam permohonan Praperadilan ini adalah Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung,” ungkap Humas Pengadilan Negeri Pangkalpinang, Hotma Sipahutar ketika ditemui Rakyat Pos mengkonfirmasi kebenaran informasi gugatan Suranto, Selasa (8/10/2019).

Ia membeberkan bahwa permohonan Praperadilan yang diajukan oleh mantan Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Bangka Belitung (Kadis ESDM Babel) ini, sudah didaftarkan dengan Nomor: 2/Prd.Pra/2019/PN.Pgp di Pengadilan Negeri (PN) Pangkalpinang hampir sepekan lalu.
Sedangkan persidangan pertama akan berlangsung pada hari Jumat (11/10/2019) lusa.

“Permohonan Praperadilan ini didaftarkan pada hari Kamis, 3 Oktober 2019 oleh kuasa hukum termohon. Persidangannya itu akan disidangkan oleh hakim tunggal, yaitu Iwan Gunawan SH MH,” ujarnya.
“Jadi, nanti terlebih dahulu kita lihat di persidangan, apakah pemanggilan seperti itu terhadap para pihak hadir di persidangan pertamanya,” sambung Hotma.
Menurutnya, permohonan Praperadilan yang diajukan oleh Suranto merupakan semi perdata. Permohonan yang diajukan dalam bentuk gugatan, sedangkan hukum acara persidangan menggunakan aturan pidana.

“Akan dipanggil pada hari Jumat, ikuti sidang perdananya nanti. Prapid ini akan dilaksanakan sebagaimana undang-undang, yaitu tujuh hari paling lama akan diputus hakim pemeriksa perkara ini,” kata Hotma.
Adapun permohonan Praperadilan yang diajukan itu menyangkut masalah penetapan tersangka terhadap Suranto oleh penyidik Aspidsus Kejati Babel, penyitaan, penggeledahan dan pemeriksa saksi-saksi.
“Nanti, sama-sama akan kita dengarkan mengenai pembacaan Praperadilannya di ruang sidang pada sidang pertama. Apabila, para pihak baik pemohon maupun termohon hadir di persidangan pada hari yang telah ditentukan,” tukasnya.

Tidak Kooperatif

Sementara itu, Tim Intelijen Kejaksaan Agung dan Penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus Kejati Babel) berhasil menangkap Suranto Wibowo di sebuah rumah makan di kawasan Cisarua, Bogor, Provinsi Jawa Barat (Jabar), Senin malam (7/10/2019) sekitar pukul 21.00 WIB. Usai penangkapan, tersangka kemudian diberangkatkan dari Jakarta menuju Pangkalpinang, Selasa pagi (8/10/2019) sekitar pukul 06.10 WIB.

“SW kita berangkatkan dari Jakarta ke Pangkalpinang jam 06.10 WIB pagi ini. Tersangka semalam berhasil kita amankan di salah satu warung,” ujar Kepala Kejati (Kajati) Babel), Aditia Warman didampingi Aspidsus, Edi Ermawan kepada awak media disela-sela menggiring Suranto di Bandara Depati Amir Bangka, Selasa (8/10/2019).

Sebelumnya Suranto sempat dinyatakan sakit dan menjalani pengobatan di Rumah Sakit Jantung Jakarta. Jaksa telah memberi kesempatan kepada Suranto untuk berobat, namun batas waktu untuk berobat itu telah selesai.

“Sudah selesai, kita sudah beri kesempatan untuk berobat. Kita dalam menentukan penanganan perkara mengedepankan etika dan moral,” ungkapnya.
Namun kesempatan berobat tersebut, rupanya dimanfaatkan hingga ditemukan di sebuah rumah makan di Cisarua Bogor. Karenanya Kajati menganggap bahwa Suranto tidak kooperatif atas waktu yang telah diberikan pihak kejaksaan.

“Dia sempat berkelit. Kami menganggap tidak kooperatif,” tegasnya.
Selain Suranto, penyidik Tipidsus Kejati Babel telah lebih dulu menetapkan dan menahan dua tersangka dalam perkara dugaan Tipikor proyek pembangunan PJU Tahun Anggaran 2018 senilai Rp2,9 miliar yang dilaksanakan Dinas ESDM Provinsi Babel.

Suranto ditetapkan sebagai tersangka dengan Surat perintah No. Print -534/L.9/08/2019 tanggal 12 Agustus 2019, sedangkan tersangka lainnya, yakni kontraktor yang melaksanakan pekerjaan Direktur PT Niko, Hidayat dengan Surat Perintah No. Print -535/L.9/08/2019 tanggal 12 Agustus 2019 dan
Candra sebagai pelaksana proyek dengan Surat perintah No. Print -536/L.9/08/2019 tanggal 12 Agustus 2019.

Saat proyek PJU berlangsung Suranto merupakan Kepala Dinas ESDM Babel dan berperan sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Pekerjaan PJU ini mencapai Rp2.983.141.627,40 dan diduga kuat terjadi penyimpangan yang membuat negara dirugikan.

Pekerjaan pembangunan PJU Tenaga Surya ini dilaksanakan oleh PT NPM berdasarkan Surat Perjanjian Nomor 671/1631.a/SP-PJUTS/ESDM/2018 tanggal 27 Agustus 2018. Proyek ini dinyatakan total lost merugikan negara oleh penyidik dikarenakan diduga tidak sesuai spesifikasi.

Usai ditangkap, Suranto menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di ruang penyidik Tipidsus Kejati Babel, sebelum dijebloskan ke Rutan Lapas Tua Tunu Pangkalpinang menyusul Candra dan Hidayat yang sudah lebih dulu dieksekusi jaksa. (bis/1)

Related posts