SUNGAI KITA: Kini, Dulu dan Nanti

  • Whatsapp

Oleh: Satera Sudaryoso
Direktur Kahmi Institute Babel/Dosen Stisipol Sungailiat

Musim kemarau memang belum berakhir. Banyak tanaman, pohon, dan tanah mengering, tandus, hingga menjadi mati. Sungai-sungai pun ikut terancam yang berakibat punahnya beberapa hayati di sekitaran kita. Fenomena ini, tidak terjadi di dataran Afrika atau daerah Gurun Sahara. Kejadian ini, justru terjadi dan mulai mewabah tak jauh dalam kehidupan sekitar kita.

Beberapa sungai di sepanjang rute Sungailiat, Air Ruai, Sempan, Kayu Besi, Puding Besar, hingga Bakam, kita dapati kondisinya mengering, berikut sirnanya ekosistem di sekitaran sungai. Persoalan ini, perlu mendapat perhatian bersama. Sebab, masalah ini tak bisa dipandang sepele dan sederhana. Pasti ada penyebab lain di luar faktor kemarau yang terjadi ini. Problem inilah yang perlu dicarikan solusi bersama.

Sungai dan Nilai Kearifan
Tak bisa ditampik bahwa Bangka Belitung begitu iconic dengan sungai-sungai besar yang dimilikinya. Namun lambat laun, pesona sungai-sungai tadi semakin memudar di telan zaman. Entah itu disebabkan oleh penambangan timah kita yang menggila, atau dikarenakan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit oleh korporasi swasta yang menggurita. Atau lantaran sikap pongah dan abai masyarakat yang tidak peduli akan keberlangsungan lingkungan. Beberapa asumsi ini bisa saja dibenarkan.

Menyimak tuturan cerita orang tua masa lalu, kehadiran sungai begitu sangat vital dan menjadi bagian penting bagi keberlangsungan kehidupan mereka. Bersamanya, mereka bisa hidup selaras dengan pesan agama. Bahkan darinya pula, kehidupan mereka kerap digantungkan selaras dengan kearifan lokal yang dijalankan.

Kearifan lokal dan lingkungan model ini, sebenarnya masih bisa kita dapati. Akan tetapi, kualitas dan kuantitasnya sudah tidak seperti dulu lagi. Karena itu, sungai dipandang sebagai sumber kearifan yang bisa kita ajarkan dan wariskan kepada anak cucu yang kita tinggalkan. Bahkan sungai merupakan sumber penting kehidupan kita bersama ekosistem yang tersedia.

Bukankah dari sungai mereka mendapati aneka ikan yang bisa disantap bersama keluarga dan menghadirkan nilai ekonomi bagi kehidupan mereka? Bukankah bersama sungai pula, mereka mengabdikan diri sebagai sahabat, hamba, dan khalifah Tuhan dalam aneka ritual yang mereka persembahkan? Sungai-sungai itu menjadi soko guru yang mengajarkan mereka agar mampu mengalirkan kebajikan, konsisten dalam laku kehidupan, dan sumber keberkahan yang dapat disuguhkan kepada lingkungan sekitar.

Kendatipun kondisinya sudah tidak seideal dulu, nilai-nilai itu masih dapat kita saksikan bersama di tengah punahnya beberapa sungai yang ada di sekitar kita. Pada beberapa sungai yang masih ada, kita dapati betapa kebergantungan masyarakat kepadanya sulit dihindari. Hari ini, sungai-sungai di kebun, menjadi tempat pemandian umum, sumber ketersediaan air bersih, dan aneka hajat mendesak yang bisa mereka tunaikan. Meskipun harus menempuh jalan terjal, berliku, dan jauh, semangat menuju sungai tiadalah pernah terhenti. Bersama dan di dalamnya, masyarakat berkumpul-lebur dalam suka-duka yang mereka alami saat ini. Kehadiran sungai mempersatukan mereka dalam menjaga asa di tengah musim kemarau yang belum usai.

Naturalisasi Bukan Normalisasi
Mengingat pentingnya kehadiran sungai dalam kehidupan, berbagai upaya untuk menaturalisasinya sebagaimana sedia kala menjadi perkara mendesak yang harus dilakukan. Semua kalangan, baik pemerintah maupun masyarakat setempat, mesti bersatu-padu dalam merekondisi sungai-sungai itu dalam wujud naturalnya sedia kala.

Hal sederhana, tetapi penting yang bisa dilakukan adalah mengkondisikannya sebagaimana habitatnya. Bahwa aneka tumbuhan, pepohonan, rerumputan, dan jenis hayati lainnya mesti dipelihara dan dipertahankan keasriannya. Tetumbuhan dan pepohonan yang hidup di sepanjang sungai, tidak boleh disingkirkan. Justru lantaran kehadiran mereka, keberadaan sungai masih mengada sebagaimana adanya. Jejangkar kokoh dan naungan dahan dari pepohonan tersebutlah yang membuat sejumlah ekosistem bisa bertahan. Bahkan bila perlu, naturalisasinya dilakukan dengan cara menanam jenis tumbuhan/pohon tertentu semisal bambu, rumbia, dan sejenisnya, di sepanjang pinggiran sungai yang ada.

Penebangan pohon-pohon pelindung di tepian sungai menjadi perkara yang harus dilarang. Apalagi pembuatan kanal-kanal di sekitaran sungai sebagai bentuk rekayasa alirannya di lahan kebun kelapa sawit masyarakat, menjadi hal buruk yang mesti dihindari. Memperlurus diameter aliran sungai dengan mesin eksavator, tentu saja wajib dienyahkan. Termasuk normalisasinya untuk areal persawahan dengan melahap segenap pepohonan yang menaungi aliran sungai.
Rusak dan sirnanya beberapa sungai besar yang ada sekarang, salah satunya disebabkan oleh perbuatan serakah, merusak, dan instant sebagaimana disebutkan.

Adapun terkait kondisi sungai yang telah mengering, perlu adanya pembenahan sistemik di sepanjang alirannya yang kering kerontang. Bila persoalannya terletak lantaran hilangnya pohon-pohon penyanggah di tepiannya, maka penanaman kembali pohon-pohon semisal perlu dilakukan. Pengkondisiannya secara alami dan natural, harus mendapat prioritas utama yang mesti dilakukan. Sembari menanti hujan turun, sampah-sampah kimia haruslah pula disingkirkan. Begitupun terkait rekondisi sungai menjadi areal persawahan. Pemaksimalan lahan persawahan tersebut perlu ditingkatkan. Sebab, banyak dana yang telah dihabiskan dalam realisasi kebijakan ini. Lebih dari itu, penanaman aneka pohon pelindung di sepanjang alirannya mesti juga digalakkan. Treatment ini, setidaknya dapat merekondisi kembali sungai-sungai kita yang sudah mulai menghilang. Semoga. [***].

Related posts