Lazada Indonesia

Suku Sawang Laksanakan Ritual Buang Jong

  • Dari Baca Mantra Hingga Larung Jong

Suku-Sawang-Laksanakan-Ritual-Buang-JongGANTUNG – Untuk melestarikan tradisi Belitong, komunitas warga Suku Sawang Kecamatan Gantung, bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Belitung Timur (Beltim), menggelar rangkaian prosesi ritual Buang Jong. Seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, sejak 13 hingga 16 Februari 2014.
Rangkaian prosesi dimulai dengan ritual bediker. Bediker dilaksanakan selama dua hari dari Kamis hingga Jum’at (14/2/2014) malam. Ritual bediker ini, merupakan ritual pembacaan mantra-mantra yang dipimpin oleh dukun Suku Sawang, sebagai sarana komunikasi antara manusia dalam dengan mahluk gaib. Kegiatan ini juga, merupakan wadah bagi Suku Sawang untuk bertemu dengan roh leluhur mereka yang meninggal dunia.
Selanjutnya ritual dilanjutkan dengan dengan ritual Kude Dareng, Jual beli Jong, Ke Pulau Taun, Mancing, Numbak Dutong, Kesenian Gajah Nunggang, Naik Tiang Jitun, dan ditutup denganCampak Laut. Sabtu (15/2/2014) malam. Dalam ritual yang diselenggarakan di Halaman perkampungan Suku Sawang Desa Selinsing Gantung ini, tampak hadir Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T. Purnama dan Bupati Beltim, Basuri T. Purnama. Kakak beradik ini tampak antusias menyaksikan ritual bersama dengan para wisatawan dan undangan.
Ritual terakhir yakni Pelepasan Buang Jong di Pantai Tanjong Mudong Gantung. Minggu (16/2/2014) pagi. Jong dibawa dengan menggunakan mobil untuk diarak keliling Kota Gantong. Sesampainya di Pantai Tanjung Mudong, sebelum melarungkan jong, ritual didahuli dengan Sampan Geleng. Dalam upacara ritual ini Dukun Jong memimpin pelepasan jong. Setelah melepas Jong, di tepian pantai kaum pria Suku Sawang melampiaskan kebahagian dengan saling siram menyiram air laut.
Pemerhati Budaya Belitong, Adi Guna menjelaskan, tradisi Muang Jong atau selamatan laut ini dilaksanakan guna menghormati leluhur dan keluarga yang telah mendahului mereka, serta untuk menghormati penguasa laut agar mereka diberikan keselamatan saat melaut. Buang Jong berarti membuang atau melepaskan perahu kecil ke laut.
Perahu kecil tersebut, berbentuk kerangka yang di dalamnya berisikan sesajian dari “ancak” yaitu rumah-rumahan juga berbentuk kerangka yang melambangkan tempat tinggal.
Pria asal Pulau Seliu Membalong ini menambahkan, tradisi budaya ini secara turun temurun dilakukan setiap tahun oleh masyarakat Suku Sawang di Kabupaten Beltim menjelang musim tenggare pute (tenggara).
“Sekitar bulan Februari, setelah berakhirnya musim barat.Agustus, atau September. Dimana angin dan ombak laut pada bulan tersebut sangat ganas dan mengerikan. Gejala alam seperti ini dianggap suatu pertanda bahwa Suku Sekak sudah waktunya mengadakan persembahan kepada penguasa dewa laut lewat ritual Muang Jong dengan tujuan memohon perlindungan agar terhindar dari bencana yang akan menimpa selama mereka mengarungi lautan lepas untuk menangkap ikan,” tuturnya.
Kepala Disbudpar Kabupaten Beltim, Helly Chandra menyatakan, banyak tradisi-tadisi budaya di masyarakat yang sudah mulai terkikis oleh jaman. Untuk itu, Disbudpar selaku instasi yang mewadahi pelestarian budaya di Kabupaten Beltim ingin mengangkat kembali tradisi-tradisi yang ada. Pria yang akrab dipanggil Dokter Chen ini mengharapkan ke depannya para stake holder dan instasi-instansi akan saling bersinergi demi kemajuan pariwisata dan pelestarian budaya di Kabupaten Beltim.
“Kegiatan tradisi ini akan terus menjadi even tahunan Disbudpar. Selain ini kita juga nantinya akan menyelenggarakan Maras Taun. Kita akan terus mengangkat tradisi suku-suku yang ada di Kabupaten Beltim, khususnya budaya melayu ke even nasional yang lebih besar lagi. Untuk itu kita butuh bantuan dan masukan dari berbagai pihak,”pungkasnya. (day/rell/9)