Sudah Pantaskah Kita Bermaksiat Kepada Allah

  • Whatsapp

Oleh: Yoki Yurianto, ST

(aktivis Hizbut Tahrir Bangka Belitung)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Pencipta dan Pemelihara sekalian Alam. Yang menganugerahkan satu bulan yang mulia diantara 11 bulan lainnya, yaitu bulan Ramadhon, bulan yang penuh rahmat dan barokah. Kita patut bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya, yang kalau kita hitung, harta sebanyak apapun yang kita miliki tidak akan mampu untuk membayarnya. Tetapi kadang kita lupa, lalai, bahkan berani dengan terang-terangan mendurhakai dan bermaksiat kepada Allah SWT.
Tercantum dalam kitab At-Tawwabin (orang-orang yang bertaubat) yang ditulis oleh seorang ulama kenamaan dari madzhab Hambali, yaitu Al-Imam Ibn Qudamah Al-Maqdisi, sebuah kisah yang berisi pertaubatan seorang pemuda dari kehidupan yang bergelimang maksiat dan penghambaan pada dunia dan hawa nafsu yang nista menuju kehidupan yang tunduk patuh sepenuhnya menghamba kepada Allah swt semata. Semoga dengan diceritakannya kembali kali ini bisa mengokohkan ketaatan kita, serta menyadarkan kita.

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang mendatangi Ibrahim bin Adham seraya berkata: “Wahai Abu Ishaq, aku ini adalah seorang manusia yang memperturutkan hawa nafsu (ahli maksiat), maka tunjukkanlah padaku apa yang bisa membuatku jera dan apa yang bisa menyelamatkan hatiku ini.”

Baca Lainnya

Ibrahim berkata: “Kalau kamu mau dan sanggup menerima lima Syarat ini, maka kamu tidak apa-apa bermaksiat, dan kenikmatan (saat bermaksiat) yang akan kau peroleh tidak akan mencelakakanmu.” Heran bercampur bingung, laki-laki itu bertanya,” Apa saja lima syarat itu, wahai Abu Ishaq, sehingga saya dapat bebas berbuat maksiat?

Ibrahim: “Yang pertama, jika kamu mau berbuat maksiat kepada Allah swt, maka kamu jangan makan dari rizki-Nya.”

Laki-laki: “Lantas aku makan dari mana? Bukankah setiap apa yang ada di bumi ini adalah rizki-Nya..”

Ibrahim: “Wahai pemuda, apakah pantas bagimu makan dengan rizki-Nya sedang kamu bermaksiat kepada-Nya?”

Laki-laki: “Tidak pantas, baiklah tunjukkan yang ke-dua”

Ibrahim: “Jika kamu hendak bermaksiat kepada-Nya, maka jangan sedikitpun tinggal di bumi-Nya”

Laki-laki: “Ini lebih berat dari yang pertama. Wahai syaikh, jika timur dan barat serta apa saja yang ada di antara keduanya adalah milik-Nya, lantas aku bisa tinggal dimana?”

Ibrahim: “Wahai pemuda, apakah pantas jika kamu masih makan dari rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya,sedang kamu bermaksiat kepada-Nya?”

Laki-laki: “Tidak pantas, baiklah tunjukkan yang ketiga”

Ibrahim: “Jika kamu hendak bermaksiat kepada-Nya sementara kamu masih makan dari rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah suatu tempat yang Dia tidak bisa melihatmu saat kamu berbuat maksiat secara terang-terangan di tempat itu, maka bermaksiatlah kamu di situ”

Laki-laki: “Wahai abu Ishaq, bagaimana mungkin? Sedangkan Dia maha mengetahui atas setiap apa yang tersembunyi.”

Ibrahim: “Wahai pemuda, apakah pantas jika kamu makan dari rizki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan Dia senantiasa melihatmu, sadang kamu melakukan kemaksiatan secara terang-terangan?”

Laki-laki: “Tentu tidak, baiklah beritahu yang keempat”

Ibrahim: “Jika datang malaikat maut mencabut nyawamu, katakanlah padanya: Tangguhkan untukku sampai aku bertaubat dengan sebenar-benar taubat, dan beramal shalih”

Laki-laki: “Mana mungkin dia mau memenuhi permintaanku”

Ibrahim: “Wahai pemuda, jika kamu tidak mampu menolak kematian untuk bisa bertaubat dan kamu sudah tahu jika maut datang menjemput dia tidak mungkin bisa ditunda, lantas bagaimana bisa kamu mengharap kesempatan bisa menyudahi kemaksiatan sebelum kematian (jika tidak segera bertaubat).”

Laki-laki: “Tunjukkan yang ke-lima”

Ibrahim: “Apabila datang kepadamu Zabaniyah (19 malaikat penyiksa di Neraka) pada hari Kiamat kelak, untuk menyeretmu ke Neraka, maka kamu jangan mau ikut bersama mereka”

Laki-laki: “Mereka tentu tidak mungkin meninggalkanku, dan tidak akan mau memenuhi permintaanku”

Ibrahim: “Lantas, bagaimana bisa kamu mengharapkan keselamatan (dengan tetap bermaksiat)?”

Laki-laki: “Wahai Syaikh, cukup.. cukup.. Aku memohon Ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”

Akhirnya laki-laki itupun senantiasa menyertai Ibrahim bin Adham dalam ketaatan ibadah,hingga maut memisahkan mereka berdua.

Sungguh kisah yang menggetarkan pikiran dan perasaan bagi orang-orang yang mau berfikir dan merenungi. Sepenggal kisah diatas sudah cukup memberikan ibrah dan bahan renungan bagi kita, betapa tidak pantasnya seorang manusia, apalagi seorang Mukmin, banyak bermaksiat, dan mendurhakai Allah swt, dengan melanggar perintah-perintah-Nya. Memang, sebagaimana kata Nabi saw, manusia adalah tempat salah dan khilaf. Namun, sengaja berbuat maksiat kepada Allah swt, apalagi gemar melanggar perintah Allah swt, bukanlah sikap seorang Mukmin sejati yang mengaku beriman kepada Allah swt .
Hari ini, sering kita menyaksikan, betapa banyak orang yang tidak mau hidup diatur oleh syariah Allah swt, Bahkan dengan sombong menentang syariahNya, dengan mengatakan bahwa syariat islam tidak layak dan relevan lagi untuk diterapkan saat ini. Mereka berlagak seolah-olah merekalah pemilik dunia ini. Mereka merasa berhak untuk mengatur dunia ini sesuai dengan kehendak dan hawa nafsu mereka. Padahal, diantara mereka banyak yang mengaku Muslim. Dan mereka lebih memilih membela orang-orang kafir yang jelas- jelas tidak seakidah, dan menghina bahkan mengkriminalkan para ulama-ulama yang sholih dan lurus.

Kita juga melihat, banyak Muslim yang rajin sholat, namun gemar pula bermaksiat; shaum di bulan Ramadhon, tetapi tetap melakukan keharaman di luar Ramadhon; Berhaji berkali-kali, tetapi dengan biaya dari hasil korupsi; gemar berdzikir, namun tidak mau berpikir; suka bersedekah dan rajin berumrah, tetapi tidak pernah peduli pada syariah; mengaku mencintai Nabi, namun sering berperilaku yang tidak islami. Mengaku beriman kepada Allah, tetapi tidak yakin dengan kebenaran dan aturan-aturan Allah; Mengaku bermoral, bersimpuh dan bersujud setiap waktu, tetapi paha dan pusar sering diobral; mengklaim pelayan masyarakat, namun berpihak kepada para konglomerat jahat; melarang dan mau mebubarkan ormas islam, namun pembuat makar dan gerakan separatisme dibiarkan; menangkapi para pejuang syariah namun tak mau menyentuh para penjarah; bertekad ingin keluar dari krisis, namun mendengar kata Syariah saja ‘miris’.
Maka, pantaskah kita, debu yang hina ini, yang makan dan minum dengan rizki yang Allah SWT karuniakan pada kita, bernafas dengan udara-Nya, berpijak dan bersandar diatas bumi-Nya, untuk terus durhaka pada-Nya? Masih pantaskah kita meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya, melakukan apa-apa yang dilarang-Nya, dan mengacuhkan hukum-hukum-Nya, bahkan menerapkan hukum-hukum selain hukum Allah swt di bumi-Nya ini? Yang dengan perantaraan rizki-Nya kita hidup, namun kita terang-terangan bermaksiat dihadapan-Nya. Padahal tidak ada jaminan bagi kita untuk bisa bertaubat kepada-Nya sebelum malaikat maut menjemput kita, tidak pula ada peluang untuk lolos dari siksa malaikat-malaikat Zabaniyah-Nya.
Astaghfirullaahal‘Azhiim, wa atuubu ilaih

Related posts