Suara Sepanjang Malam

  • Whatsapp

Karya: Rusmin

Cahaya rembulan malam ini terpancar meliuk-meliuk. Cahaya terangnya bersaing dengan liukan tubuh seorang penyanyi yang asyik menyanyikan sebuah tembang lawas di atas pangung seadanya. Sorakan penonton menambah riuhnya malam. Bersaing dengan ketatnya balutan baju sang penyanyi.
Beberapa orang naik ke atas pentas secara bergantian. Memasukan sesuatu dicelah baju bagian depannya yang terbuka. Sementara sepasang gunung yang menonjol di bagian tubuhnya menjadi sasaran empuk para pria yang iseng memasukan helai demi helai uang.
Setidaknya sudah seminggu Laila harus menjual suara emasnya kepada para penonton jalang yang mengundangnya untuk bernyanyi di kawasan kumuh nan terkenal dengan kawasan prostitusi kelas bawah. Dan sudah seminggu ini pula martabatnya sebagai wanita terendahkan oleh ulah para lelaki berpikiran kotor itu. Bahkan ada pula yang mengajaknya kencan usai bernyanyi.
Laila baru terbangun ketika orang-orang sudah memulai aktivitasnya mencari makan. Pulang larut malam dari kegiatan menyanyi yang dilakoninya di kawasan kumuh itu, membuatnya tidak bisa bangun pagi. Maklum jadwal perhelatan nyanyi di kawasan itu tak mengenal waktu. kadang usai ketika rembulan mulai terkantuk-kantuk keperaduannya.
Tapi Laila tidak menyangka sama sekali dalam otak jernihnya, kedatangannya ke ibukota harus berhadapan dengan persoalan pelik dan menorehkan airmata. Bagaimanaa tidak, saat datang berkunjung ke rumah temannya, dia mendapati ibu temannya sangat membutuhkan pertolongan. Sakit yang diderita Ibu itu membutuhkan banyak uang. Sementara temannya hanya berprofesi sbagai seorang sales yang gajinya hanya berdasarkan jumlah penjualan.
“Mohon maaf, Laila. Kedatanganmu malah ku sambut dengan keluh kesah dan penderitaan,” kata temannya dengan nada sedih.
“Selagi saya bisa membantu, saya akan bantu. Sebagai sesama manusia hanya tolong menolong yang menjadi andalan kita dalam berkehidupan,” jawab Laila.
” Aku sudah menyusahkanmu,” lanjut temannya.
“Aku malah bahagia bisa menghibur mereka dengan suaraku. Dan mereka pun bahagia memberiku uang untuk membantu meringankan biaya tambahan berobat ibumu,” jawab Laila sambil memeluk temannya.
Laila dan temannya yang bernama Nani adalah sahabat sepermainan saat mereka masih di kampung. Nani lantas hijrah bersama keluarganya ke kota. Namun kota ternyata bukan tempat yang istimewa bagi keluarga Nani yang hanya hijrah bermodalkan tekad dan niat membaja.
Nani yang hanya berpendidikan SMA akhirnya harus membanting tulang membiayai kehidupan keluarganya. Kehidupan Nani dan keluarga makin terpuruk ketika ayahnya dipecat sebagai pegawai pabrik. Serbuan buruh asing dari negara lain membuat ayahnya hanya menambah pengangguran kota yang makin ganas.
Ayah Nani pun jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Sepeninggal Ayahnya, Nani menjadi urat nadi kehidupan keluarganya. Gaji Nani sebagai Sales Promotion Girls yang tak seberapa, membuat keluarga ini harus banting setir menghadapi ganasnya rimba kota yang tak berperikemanusian.
Penderitaan makin menjadi ornamen kehidupan Nani dan ibunya usai rumah mareka digusur aparat yang hobi bercitra diri di muka media massa. Rumah yang menjadi satu-satunya peninggalan almarhum ayahnya kini rata diganyang alat berat yang datang tanpa mata hati dan perikemanusian. Dan mulailah mereka hidup dari rumah kontrakan ke rumah kontrakan tanpa henti. Sementara kesehatan ibu Nani diujung tuanya, menambah problema hidup dengan dideteksinya penyakit oleh dokter sebagai penderita kanker ganas stadium tinggi.
Dan kehadiran Laila di rumah Nani seolah memberi berkah bagi Nani dan ibunya. Sebagai penyanyi, Laila akhirnya rela untuk meluangkan waktunya untuk membantu sahabat karibnya di kampung dengan menjajakan suara emasnya di kawasan kumuh yang tak pernah dilakoninya selama ia sebagai penyanyi.
“Semoga dengan saya menyanyi di sana bisa membantu pengobatan ibumu, Nan,” ungkap Laila saat Nani menceritakan persoalannya.
“Kamu tak layak menyanyi di sana Laila. Walaupun duit tips nya besar, namun mereka kasar dan tidak beretika,” larang Nani.
“Saya sudah terbiasa menghadapi penonton seperti itu. Kamu tenang saja,” jawab Laila membesarkan hati Nani yang gulana.
Subuh itu usai menyanyi di kawasan kumuh tersebut, Laila dan Nani langsung ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya yang sedang diopname. Sekalian membayar uang perawatan rumah sakit. Malam ini uang saweran yang didapatkan Laila amat besar. Mencapai angka 2 juta rupiah. Keduanya bergesas mendatangi loket pembayaran di rumah sakit. Namun keduanya langsung menangis saat petugas loket menyatakan bahwa ibunda Nani sudah wafat.
Sementara dari kejauhan malam yang berisikan cahaya rembulan nan bening, terdengar suara azan Shubuh yang mereligiuskan alam raya. Semua orang bergegas menuju rumah Sang Maha Pencipta untuk bersujud selagi masih ada detak nafas untuk bertobat dan memohon ampun kepada NYA sebagai Sang Maha Pencipta. Sedangkan Nani dan Laila yang tengah menangis di rumah duka, terhenyak, kemudian mengambil wudhu. (***)

Related posts