Strategi Pengembangan Pendidikan Islam dalam Tantangan Modernisasi

  • Whatsapp

Oleh: Hanizar
Mahasiswi IAIN SAS Babel

Pendidikan di Era Millennial saat ini, sedang menghadapi tantangan besar, terutama jika dikaitkan dengan konstribusinya terhadap terbentuknya peradaban dan budaya modern yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada dimensi ini, pendidikan (pendidikan Islam khususnya), mengalami kemunduran fungsi (degradasi fungsional), karena pendidikan Islam lebih berorientasi pada aspek batiniah daripada aspek lahiriah. Dengan demikian, pendidikan Islam menyebabkan terjadinya kemunduran dalam berpikir. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu sisi memang berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup manusia. Berbagai sarana modern industri, komunikasi, transportasi, terbukti amat bermanfaat. Tapi, di sisi lain, tak jarang juga berdampak negative, karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), misalnya, yang mendorong pertumbuhan industri komunikasi dan informasi yang sedikit banyak telah mengubah pergeseran nilai dan budaya yang ada dalam masyarakat. Pendidikan sebagai salah satu sistem sosial telah terbelenggu oleh berbagai aturan dan kebijakan pemegang kekuasaan yang menyebabkan pendidikan menjadi tidak efektif, dan tidak fleksibel dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah kehidupan masyarakat. IPTEK merupakan singkatan dari dua materi, yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi. Keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, karena saling mendukung satu sama lain. Teknologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang berkembang secara mandiri, menciptakan dunia tersendiri. Akan tetapi, teknologi tidak mungkin berkembang tanpa didasari ilmu pengetahuan yang kokoh. Maka, teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Menurut Iskandar Alisyahbana, teknologi telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalu, karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur, dan lebih sejahtera. Jadi, sejak awal peradaban, sebenarnya telah ada teknologi, meskipun istilah teknologi belum digunakan. Istilah teknologi berasal dari techne atau cara dan logos atau pengetahuan. Secara harfiah teknologi dapat diartikan pengetahuan tentang cara. Sedangkan pengertian teknologi sendiri adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan akal dan alat, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indera dan otak manusia.

Kemajuan IPTEK yang telah memberikan begitu banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan manusia, dan pengembangan IPTEK dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Orang bahkan memuja iptek sebagai penyelamat yang akan membebaskan mereka dari berbagai kesulitan. IPTEK diyakini akan memberikan umat manusia kebahagiaan. Sumbangan IPTEK terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri, namun manusia juga tidak bisa menipu dirinya sendiri akan kenyataan bahwa IPTEK mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia. Manusia telah meninggalkan esensi dari IPTEK itu sendiri, bahwasanya iptek merupakan pengembangan dari keimanan. Yaitu ketaatan kita kepada sang khaliq yang memerintahkan manusia untuk mencari ilmu. Seharusnya, IPTEK dikembangkan agar manusia itu mampu meningkatkan keimanan kepada Allah SWT dengan memanfaatkannya sebaik mungkin.

Manusia harus mengendalikan dan mengarahkan perkembangan iptek kepada jalur yang digariskan Allah SWT. Akan tetapi realita yang ada ternyata perkembangan iptek membuat manusia lepas dari jalan-Nya, bahkan dikendalikan oleh penemuan manusia itu sendiri. Kelemahan-kelemahan itu lah yang menimbulkan dampak-dampak negatif, diantaranya: Meningkatkan aksi terorisme yang memanfaatkan kemudahan akses komunikasi dan perakitan senjata atau bom, penggunaan informasi dan situs tertentu, seperti pornografi, terjadinya pengangguran bagi tenaga kerja yang tidak memiliki kualifikasi yang sesuai, dan penyalahgunaan pengetahuan.

Sedangkan dampak positifnya, yaitu Dengan kemajuan teknologi komunikasi kemungkinan orang bisa terbuka dan menerima perubahan yang baik, dengan kemajuan teknologi komunikasi diharapkan menumbuhkan semangat ukuwah Islamiyah dan solidaritas sosial semakin meningkat, dan dengan kemajuan teknologi komunikasi diharapkan setiap individu memiliki SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas. Pendidikan merupakan proses budaya yang berlangsung menurut paradigma dan tata nilai tertentu, karena pendidikan menyangkut manusia dan nilai, nilai dalam aneka wujudnya dan unsurnya. Dengan informasi yang berkadar nilai selaku sarana dan wahana nilai, serta energi dan materi yang selaku sumber daya bagi sarana dan wahana nilai.

Pendidikan adalah proses alih nilai, secara tersaring, terkendali dan terarah, dari lingkungan budaya kepada peserta didik, serta penyerapan dan pemantapan nilai-nilai yang membentuk identitas budaya pada diri peserta didik itu. Pendidikan Islam merupakan pengembangan pikiran, penataan sosial, perilaku, pengaturan emosional, hubungan peranan manusia dengan dunia ini, serta bagaimana manusia mampu memanfaatkan dunia, sehingga mampu meraih tujuan hidup. Kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam berteknologi, banyak mengantarkan perubahan besar terhadap manusia. Perubahan-perubahan tersebut dapat berdampak positif maupun negatif.

Dr. A.M. Saifudin berpendapat bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini, harus di islamisasikan dari penjajah Barat. Ilmu pengetahuan yang dipahamkan dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat dengan sudut pandang, metode, cara pikir, dan sistem penerapan yang tidak Islami. Materi pendidikan islam diharapkan mampu mengembalikan manusia ke fitrahnya, sehingga manusia dapat melaksanakan perannya sebagai khalifah dalam kontek luas di bumi ini dengan baik. Maka, strategi yang harus dilakukan dalam pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan modernisasi berkat kemajuan IPTEK itu, mencakup ruang lingkup: motivasi kreativitas anak didik kearah pengembangan IPTEK, dimana nilai-nilai Islam menjadi sumber acuannya, mendidik keterampilan memanfaatkan produk IPTEK bagi kesejahteraan hidup umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya, menciptakan jalinan yang kuat antara ajaran agama dan iptek, dan hubungan yang akrab dengan para ilmuan yang memegang otoriter iptek dalam bidang masing-masing, dan menanamkan sikap dan wawasan yang luas terhadap kehidupan masa depan umat manusia melalui kemampuan menginterprestasikan ajaran agama dari sumber-sumbernya yang murni dan kontekstual dengan masa depan kehidupan manusia.(***).

Related posts