STOP!! Pengembangan Game Online

  • Whatsapp

Oleh: Nurul Aryani
Aktivis Smart With Islam Koba

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi berpendapat e-sport harus mulai masuk ke kurikulum pendidikan untuk mengakomodasi bakat-bakat muda. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengatakan sudah menganggarkan Rp 50 miliar untuk menggelar kompetisi-kompetisi di level sekolah (cnnindonesia.com 28/1/2019). Wacana pengembangan game online hingga masuk ke kurikulum pendidikan perlu dikaji kembali alih-alih meraup keuntungan justru kebuntungan bagi generasi. Kebijakan yang dilontarkan Imam Nahrawi pada Januari lalu tidak menutup kemungkinan diwacanakan ulang oleh Menteri selanjutnya. Pasalnya dalam debat Capres dan Cawapres ke-5 April lalu, Jokowi mengungkapkan langkah konkret yang sudah dilakukan pemerintah untuk mendukung para penggemar e-sport, dengan membangun infrastruktur digital, broadband, palapa ring, 4G. Jokowi juga menyebutkan, pada 2017 perputaran uang di industri game mencapai Rp 12 triliun. Setiap tahun tumbuh 25%. (cnbcindonesia.com 15/4/2019). Keseriusan pemerintah mengembangkan game online dan mengasah bakat gamers tidak main-main, pada Januari hingga Maret lalu digelarlah Piala Presiden e-Sports 2019 tingkat nasional dengan penyisihan regional di delapan daerah di Indonesia. (detik.com 29/1/2019).
Berdampak Buruk bagi Generasi
Pengembangkan game online untuk generasi adalah kebijakan yang penuh resiko. WHO sebagai Organisasi Kesehatan Dunia resmi menetapkan kecanduan game atau game disorder sebagai penyakit gangguan mental. (tribunnews.com/20/06/2018).
Ditetapkannya kecanduan game sebagai gangguan mental bukanlah tanpa fakta dan data, kasus kecanduan game yang amat memilukan sudah ada di Indonesia bahkan di Bangka Belitung. Dilansir dari merdeka.com, sebanyak sepuluh anak di Banyumas didiagnosa mengalami gangguan mental akibat kecanduan bermain game online sepanjang tahun 2018 dan 7 dari 10 anak itu merupakan siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dokter Spesialis Jiwa RSUD Banyumas, Hilma Paramita mengatakan, rata-rata pasien sudah tak bisa mengendalikan diri bermain game online. Akibatnya, mereka sudah tak lagi bisa beraktivitas secara normal.

Pengaruh game online juga memberikan dampak buruk untuk generasi di Bangka Belitung. Dalam babelreview.co.id, dinyatakan bahwa game online ancam waktu belajar anak-anak di Bangka Selatan, masa anak-anak yang seharusnya dihabiskan untuk mengeksplorasi diri dan alam justru disita dengan pasifnya bermain game online. Tentu tumbuh kembang motorik anak-anak yang sudah bermain game sejak dini akan berdampak hingga dewasa, belum lagi ditambah dengan dampak mental dan spiritual anak-anak yang melihat animasi dan karakter di game online berpakaian amat minim serta melakukan kekerasan seperti menembak manusia dan lain sebagainya yang belum bisa dinilai baik buruknya oleh anak-anak maupun remaja. Fakta lainnya ditemukan 40 anak usia pelajar bermain warnet dan game online di atas pukul sembilan malam oleh Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bangka. (negerilaskarpelangi.com 20/7/2019).
Fakta memilukan lainnya juga ditemukan di Bangka Barat. Dilansir dari tribunnews.com pihak Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sungailiat menangani seorang remaja berumur 17 tahun asal Bangka Barat yang mengalami perubahan tingkah laku dan adanya perilaku kekerasan seperti di game tersebut, dampak dari seringnya bermain game di gadget seharian bahkan menghabiskan hingga 30GB dalam sebulan.

Negara Harusnya Melarang
Besarnya dampak yang dihasilkan oleh game online atau game-game tertentu membuat beberapa Negara di dunia melarang beberapa game online yang dianggap berbahaya untuk dimainkan generasi mereka, contohnya Nepal yang melarang PUBG dimainkan di negaranya. (cnbcindonesia.com 12/4/2019).
Data kemudhorotan yang ditimbulkan game online terus muncul ke permukaan. Harusnya ini menjadi acuan untuk berhati-hati dalam kebijakan. Apalagi jika mewacanakan game online untuk masuk dalam kurikulum sekolah. Dampak positif apa yang diambil selain keuntungan materi yang hanya mengalir pada kantong-kantong pengembang game alias kapitalis. Sementara generasi hanya menjadi pengonsumsi atau pasar empuk untuk bisnis berkelanjutan ini.
Dampak buruk seperti gangguan mental, perubahan tingkah laku hingga tindak kekerasan akibat game online sudah cukup menjadi bukti untuk melarang game online tertentu di Indonesia. Jika tidak kerusakan mental, moral dan spiritual generasi bisa-bisa tak terbendung.
Jelaslah bahwa game online bisa menimbulkan bahaya bagi generasi apalagi jika mereka terus menerus memainkan game ini di handphone mereka, menjadi individualis, mudah marah atau emosional, serta menyibukkan diri dalam hal yang tidak bermanfaat sehingga meninggalkan banyak kegiatan postif lainnya. Untuk menghasilkan uang dari game tentu harus mahir bermain. Walaupun angka perputaran uang pada industry game online ini mencapai milyaran rupiah, tetapi angka tersebut tidak sebanding dengan kerusakan generasi yang dihasilkan dan recovery mental pada bertahun-tahun mendatang.

Kapitalisme Dibalik Industri Game
Inilah watak kapital dimana keuntungan materi selalu menjadi tujuan hidup. Tanpa peduli generasi dan bakat mereka yang teralih pada hal yang bisa merusak mereka. Menghasilkan uang dengan mengorbankan generasi kita tentu bukan langkah yang tepat. Negara bahkan ingin memfasilitasi dengan mengadakan lomba bahkan berniat memasukkan game online kedalam kurikulum sedangkan resiko dari kebijakan ini amat besar bagi generasi. Game online yang belum ada di kurikulum sekolah dan juga belum dilombakanpun sudah merusak generasi, merusak mental hingga moral mereka. Waktu muda mereka yang harusnya digunakan untuk berkreatifitas justru terbuang berjam-jam di depan layar komputer atau handphone hanya untuk “mengurusi” hal yang fiktif.

Kita juga harus melihat bahwa sebagai Negara berkembang, kita hanya menjadi pasar yang empuk bagi para kapitalis (pemilik modal) untuk diserbu dengan industry game, kita menjadi konsumen yang dibuat kecanduan sehingga kelak mau tidak mau rela membayar berapapun untuk menebus keinginan tersebut. Sebagaimana dilansir dari radarmalang.id seorang remaja berusia 17 tahun pelajar MTs swasta di Kota Probolinggo nekat berbuat kriminal hanya karena butuh uang untuk bermain game online,beli rokok, dll. Dari pengakuannya dia sudah mencuri di 6 tkp sebelumnya. Begitulah generasi kini, moral mereka telah dirusak oleh para kapitalis yang mengumpulkan pundi-pundi uang bahkan dengan cara tidak baik sekalipun, tidak peduli standar halal haram, manfaat atau mudhorot bagi generasi. Kapitalis hanya fokus pada terpusatnya uang ke kantong mereka. Jika kita telaah kembali, tentu generasi kita hanya menjadi pasar dari industry game online, menjadi konsumen yang kecanduan sehingga bisnis game online terus langgeng.

Pandangan Islam
Islam sebagai sebuah agama yang sempurna memiliki tatanan kehidupan yang paripurna. Islam juga sangat memperhatikan generasi kedepannya karena generasi hari ini akan menjadi pemimpin dimasa depan. Pemuda adalah asset yang sangat berharga dalam Islam sehingga generasi dijaga untuk tidak kecanduan pada hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi menyebabkan kerusakan mental. Generasi rusak akan mengakibatkan hancurnya bangsa dimasa depan. Karena itu, mulai dari sistem pendidikan hingga tatanan sosial akan diatur berdasarkan aturan dari Allah SWT.

Islam tidak akan mengorbankan generasi demi mendapatkan keuntungan bagi Negara apalagi keuntungan yang hanya bisa dinikmati oleh para kapitalis semata. Pendapatan dari hal yang harom, seperti riba, menjual miras atau mengandung mudhorot yang besar seperti game online tentu tidak akan dilirik. Pendapatan yang melimpah ruah akan didapat dari pengelolaan sumber daya alam yang melimpah yang akan dikelola dengan baik oleh Negara dan sumber daya manusia yang berkualitas lahir dari sistem pendidikan yang diatur oleh islam bukan oleh para pemilik modal atau berdasarkan selera pasar.
Kurikulum pendidikan berasaskan islam mampu menghasilkan manusia-manusia yang cerdas, produktif, serta mempu mengaplikasikan ilmu untuk kepentingan ummat. Terbukti selama 13 abad (1 H – 1336 H) islam mencapai masa keemasannya, melahirkan cendekiawan muslim yang cerdas seperti Ibnu Sina bapak kedokteran modern, Al Jazari penemu robot hingga ahli matematika dan penemu angka 0 dan al jabar yaitu Al Khawarizmi. Generasi yang cerdas dan berbakat lahir dari Rahim pendidikan Islam yang menghabiskan masa mudanya untuk islam dan ummat seperti Umar bin Abdul Aziz pada usia 22 tahun sudah menjadi Gubernur Madinah, Imam syafi’I 15 tahun menjadi Mufti, dan Muhammad Al-Fatih diusia 22 tahun sudah menjadi sulthan dan berhasil memimpin pasukannya hingga menaklukkan konstantinopel. Begitulah generasi dalam Islam, mereka memberikan kontribusi yang besar pada dunia. Merekapun cerdas dalam urusan dunia maupun akhirat. Masya Allah.
Terkait perkembangan teknologi, maka akan dimanfaatkan dengan baik tanpa melabrak syariat Allah, teknologi yang ada haruslah digunakan untuk membantu manusia memudahkan aktivitasnya bukan justru melenakan manusia dan menghantarkannya ke jurang kemaksiatan pada Tuhannya. Apalagi sampai melakukan hal harom demi kesenangan dan hura-hura atau justru merusak jiwa.
Kurikulum pendidikan dalam islam tidak akan diubah-ubah hanya demi meraih keuntungan materi, kurikulum pendidikan yang kuat tidak “diintervensi” oleh asing dan jauh dari kepentingan para kapital. Kurikulum pendidikan dalam islam akan dibuat untuk mencetak generasi yang bertakwa pada Allah, menjadi pemimpin dimasa depan dan juga mampu menjadi pengatur alam dengan ketundukan pada sang penciptanya yaitu Allah SWT. Sehingga, kehidupan yang dihabiskan oleh generasi betul-betul kehidupan yang berkualitas dan menghabiskan usia muda mereka dengan hal yang bermanfaat. Wallahu’alam.(***).

Related posts