by

Stop Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Persolan kekerasan terhadap perempuan dan anak sudah menjadi masalah yang serius. WHO menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak sudah menjadi epidemi yang memengaruhi lebih dari sepertiga perempuan secara glibal. WHO juga menyampaikan bahwa kekerasan tersebut juga meluas bahkan sampai ke lintas wilayah dan lintas tingkatan masyarakat. Satu dari tiga perempuan di dunia mungkin pernah mengalami kekerasan dalam berbagai bentuk.

Dari berbagai lembaga layanan, baik medis, penegakan hukum maupun lembaga layanan sosial cukup sering menerima laporan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (KTPA).
Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia meningkat setiap tahunnya.
Menurut catatan tahunan dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, pada tahun 2013 terdapat sebanyak 279.688 kasus kekerasan terhadap perempuan. Angka ini meningkat pada tahun 2014 sebanyak 293.220 kasus, terdiri dari 59 % kekerasan terhadap istri, 21 % kekerasan dalam pacaran, 10 % kekerasan terhadap anak perempuan, selebihnya kasus kekerasan terhadap mantan pacar, kekerasan dari mantan suami dan kekerasan terhadap pekerja rumah tangga.

Berdasarkan data yang berasal dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terlihat meningkatnya laporan yang masuk berkenaan kekerasan terhadap anak. Pada tahun 20111 KPAI menerima laporan 2.178 kasus. Tahun 2012 tercatat sebanyak 3.512 kasus, tahun 2013 tercatat sebanyak 4.311 kasus dan pada tahun 2014 tercatat sebanyak 5.066 kasus.

Pembaca yang budiman, dari data ini, menunjukkan bahwa kekerasan dapat terjadi kepada siapa pun. Begitu pun dengan pelakunya, siapa pun dapat menjadi pelaku kekerasan.
Penulis menghimpun data dari berbagai sumber bahwa pelaku kekerasan cukup sering dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan darah, kekerabatan, perkawinan dan relasi intim.
Contoh kasus ini adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Selain itu juga, pelaku kekerasan dilakukan oleh orang dekat diluar lingkungan keluarga, misalkan pelakunya majikan terhadap pembantunya, oknum guru terhadap muridnya, teman kerja, tokoh masyarakat. Pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa juga dilakukan oleh sebuah sistem. Misalkan di sekolah tertentu, dibuat peraturan diskriminasi bahwa siswa perempuan dilarang memakai kerudung dan/ atau jilbab. Kalau melanggar aturan ini, maka akan dikeluarkan dari pihak sekolah.

Menarik untuk dibahas, bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak selalu identik dengan kekerasan fisik. Berikut ini penulis paparkan beberapa jenis kekerasan yang cukup sering dialami oleh perempuan dan anak. Pertama, kekerasan fisik berupa perbuatan menyakiti tubuh. Dampak dari kekerasan ini bisa berupa sakit, luka berat, kecacatan hingga menyebabkan kematian. Contohnya, yaitu beberapa bulan yang lalu terjadi penganiayaan oleh senior terhadap mahasiswa baru saat prosesi ospek di kampus atau ospek unit kegiatan mahasiswa hingga berujung maut.

Kedua, kekerasan psikis yang berakibat penderitaan mental atau emosional. Bentuk perbuatannya, yaitu berupa intimidasi, ancaman, persekusi, perilaku melecehkan atau merendahkan harkat dan martabat manusia dan kekerasan verbal (berupa caci maki, bentakan dan lain sebaginya). Dampak dari kekerasan ini bisa menyebabkan seseorang mengalami masalah psikososial. Gejala yang muncul, yaitu ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, malu, histeris, sering melamun hingga berbicara ngelantur (mengalami masalah kejiwaan). Bila hal ini terus dibiarkan akan berdampak buruk bagi kesehatan dan interaksi sosialnya di dalam masyarakat. Mereka akan menarik diri dari lingkungan, murung, tidak keluar rumah hingga ia merasa teralienasi dari masyarakat.

Ketiga, penelantaran yang mengakibatkan keterbatasan, kesulitan, ketergantungan ekonomi, hambatan mengapatkan akses layanan kesejahteraan sosial. Contohnya, yaitu tidak dipenuhinya kebutuhan mendasar anak (hak tumbuh kembang, perlindungan, bermain, pendidikan dan pengasuhan). Keempat, kekerasan seksual yang didalamnya terdapat paksaan, ancaman, manipulasi atau eksploitasi termasuk untuk tujuan komersial atau tujuan tertentu. Paparan kekerasan seksual bervariasi, diantaranya pelecehan seksual, pemerkosaan dan lain sebagainya. Contoh, yaitu seorang anak yang dipaksa untuk melakukan seks dengan ayahnya. Seorang anak perempuan yang dijual oleh ibunya sendiri kepada laki-laki penjahat kelamin.

Pembaca yang budiman, cukup sering kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi
di dalam lingkungan keluarga. Hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal. Pernikahan yang tidak disertai dengan ilmu, biasanya menjadikan pasangan suami istri tidak mengetahui masing-masing hak dan kewajibannya sehingga seiring waktu berjalan, rumah tangga ini rentan terjadi konflik. Terjadinya disfungsi perang orang tua di dalam keluarga. Cukup sering terjadi pemukulan fisik, atau psikis melalui bentakan kasar, caci maki orang tua terhadap anaknya diakibatkan ketidakmatangan emosional dan kurangnya informasi tentang pengasuhan anak yang baik dan benar.

Pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak akan efektif bila melibatkan lintas sektoral dan lintas elemen masyarakat (tokoh pendidik, tokoh agama, tokoh masyarakat, kelompok perempuan, kelompok anak dan lain sebagainya). Bentuk kegiatannya yaitu dengan bersama-sama melakukan aksi sosial, penyuluhan, kampanye sosial dengan mengangkat tema “Stop kekerasan terhadap perempuan dan anak” dan memberikan layanan informasi berkenaan berbagai bentuk kekerasan, penanganan dan akses layanan sosial kepada kelompok rentan dan masyarakat umum secara luas.

Memberikan layanan advokasi dalam hal ini mendampingi klien (korban tindak kekerasan) melalui pekerja sosial saat proses klien dimintai keterangan untuk berita acara pemeriksaan (BAP) dan/ atau pendampingan saat selama proses persidangan. Bentuk advokasi lainnya yaitu mengondisikan agar sekolah dapat menerima (kembali) siswanya yang berstatus anak berhadapan dengan hukum (ABH) baik sebagai pelaku, korban atau saksi (setelah menjalani rehabilitasi).

Upaya pencegahan lainnya yaitu dengan memperkuat ketahanan sosial keluarga dan masyarakat. Di lingkungan keluarga, orang tua menanamkan nilai-nilai ajaran agama kepada para anggota keluarganya. Dengan demikian diharapkan mereka dalam berinteraksi dengan orang lain memperhatikan perbuatan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Perbuatan yang bernilai pahala dilakukan, perbuatan yang menuai dosa ditinggalkan. Bila hal ini dipahamkan, anak akan meninggalkan aktivitas kekerasan dan menjauhi aktivitas kekerasan karena menyadari bahwa perbuatan tersebut berdosa.

Di lingkungan masyarakat, hal yang dapat dilakukan adalah dengan memperkuat kearifan lokal setempat. Misalkan di suatu daerah ada budaya tidak membolehkan anak/ perempuan jalan atau keluar rumah dengan lawan jenis yang bukan mahromnya. Masyarakat bisa membentuk komunitas peduli perempuan dan anak dan lain sebagainya. Di lingkungan sekolah, ciptakan lingkungan yang ramah anak. Perlu dilakukan pembinaan khusus terhadap pelajar yang melakukan aktivitas bully temannya di sekolah dan pelajar yang sering melawan guru saat guru memberikan pelajaran dan pembinaan. Memberikan sanksi tegas terhadap oknum guru yang melakukan aktivitas kekerasan.

Upaya yang paling efektif adalah hadirnya negara dalam mencegah KTPA, dalam bentuk menutup semua saluran tayangan yang mengajarkan kekerasan, baik cetak maupun elektronik, baik tayangan kartun maupun sinetron. Selanjutnya memberikan sanksi yang tegas dan memberikan efek jera kepada pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Di dalam Islam misalkan terjadi kekerasan sekual berupa pemerkosaan oleh laki-laki yang belum menikah terhadap anak/ perempuan, maka pelaku harus dicambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. Apabila pemerkosa sudah berkeluarga maka harus dirajam sampai mati dan ini disaksikan oleh khalayak supaya memberikan pelajaran agar tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Adapun dalam perspektif pekerja sosial, upaya untuk penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak (KTPA) dibagi menjadi dua, yaitu terhadap klien sebagai korban KTPA dan klien sebagai pelaku KTPA. Pekerja sosial dalam menanganani korban KTPA harus mengutamakan keamanan dan keselamatan klien.

Berfokus pada penguatan sumber daya psikososial klien. Misalkan sang anak mengalami trauma karena diperkosa oleh tetangganya. Maka pekerja sosial harus melakukan assesment menemukan orang yang begitu dekat dengan korban. Langkah selanjutnya, yaitu pekerja sosial dan orang dekat korban bersinergi dalam memulihkan kondisi psikososial korban. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan motivasi, konseling dan pendampingan kepada korban. Untuk menghilangkan trauma bisa dilakukan teknik bermain bersama korban.

Pekerja sosial dapat menghubungkan korban dengan sistem sumber yang dibutuhkannya. Bila terdapat luka fisik, maka pekerja sosial dapat menghubungkan klien dengan tenaga medis baik di puskesmas atau rumah sakit. Bila klien ingin sekolah tapi malu dengan kawan-kawannya di sekolah yang lama, pekerja sosial dapat mengubungkan klien dan orang tuanya untuk bertemu dengan dinas pendidikan mencari solusi alternatif sekolah lain.

Mendampingi dan memberikan penguatan kepada klien selama proses hukum berlangsung. Memberikan rekomendasi kepada klien dan orang tuanya tentang lembaga layanan pemulihan psikososial, seperti LK3, P2TP2A, KPAI dan lain sebagainya. Memberikan layanan lanjutan (after care) sesuai dengan kebutuhan pemulihan psikososial klien. Khusus klien anak, haurs mengedepankan kepentingan yang terbaik untuk masa depan anak.

Peran pekerja sosial terhadap klien sebagai pelaku KTPA, yaitu tetap mengutamakan keamanan dan keselamatan korban. Melakukan assesment psikososial terhadap klien terutama terkait relasi pelaku dengan korban. Mendukung penegakan hukum dan mengondisikan klien agar bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Mendukung upaya rehabilitasi sosial atau perubahan perilaku klien. Memberikan rekomendasi kepada klien dan orang tuanya tentang lembaga layanan pemulihan psikososial.

Pembaca yang budiman, sebagai penutup penulis ingin menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah bentuk kezaliman yang nyata dan harus dihapuskan. Oleh karenanya, patut kita merenungkan ayat ini, “Dia memasukkan siapa pun yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya (surga). Adapun bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedihh.”
Qs. Al Insan: 31. Wallahu’alam. [****]

Comment

BERITA TERBARU