Stop Bullying Sekarang Juga!

  • Whatsapp

Oleh: Kartika Emillia Putri
Mahasiswi Fakultas Hukum UBB / GENBI Babel

Kartika Emillia Putri

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional pada setiap tanggal 23 Juli, maka diperingati sebagai momen untuk menaruh perhatian yang lebih mendalam terhadap anak-anak Indonesia. Hari Anak Nasional menjadi momentum penting untuk membangun kepedulian dan partisipasi semua lapisan masyarakat Indonesia agar melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab bersama untuk menghargai dan menjamin terpenuhinya hak-hak anak yang telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak.
Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan hidup dijamin dengan adanya hak-hak anak. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara. Salah satu hak anak yang diatur ialah anak berhak dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar, sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Berbicara mengenai anak, tak terlepas dari berbagai problematika yang terkadang mengusik terlindunginya hak anak untuk mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, salah satunya yang kini sedang hangat di kalangan masyarakat ialah perundungan atau biasa dikenal sebagai “bullying”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata perundungan berasal dari kata rundung yang memiliki makna mengganggu, mengusik terus-menerus, dan menyusahkan. Bullying merupakan aktivitas yang dilakukan dengan tujuan memojokkan orang lain hingga menyangkut kekerasan fisik. Bullying sendiri dapat dilakukan secara perorangan maupun antar kelompok.
Berbagai kasus mengenai bullying terus menerus terjadi di Indonesia antar siswa baik siswa SD, SMP, SMA bahkan hingga ke Perguruan Tinggi. Hal tersebut meliputi pelecehan secara lisan, kekerasan fisik serta bisa juga terjadi karena berbagai perbedaan seperti agama, suku, ras, gender, dan lain sebagainya. Kerap kali bullying juga terjadi bukan karena konflik yang tidak terselesaikan, melainkan lebih merujuk kepada rasa superioritas atau senioritas untuk menunjukkan bahwa pelaku bully merupakan yang paling kuat sehingga dapat menindas dan bertindak semena-mena terhadap orang lain.
Adapun bentuk-bentuk bullying terbagi menjadi penindasan fisik dan penindasan psikologis. Bentuk penindasan fisik dilakukan dengan kontak secara langsung terhadap korban bully yang menyebabkan rasa sakit secara fisik, misalnya memukul, menendang dan menampar. Sedangkan bentuk penindasan psikologis yaitu lebih terhadap mental korban bully yang terkadang dapat mengganggu kondisi kejiwaan korban dan dapat menimbulkan trauma.
Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komusikasi yang terus berkembang, kini aksi penindasan fisik mulai beralih melalui media informasi dan teknologi yaitu cyber bullying yang dilakukan dengan media internet. Cyber bullying kebanyakan dilakukan melalui media situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter serta Instagram. Cyber bullying lebih mudah dilakukan daripada kekerasan secara langsung karena si pelaku tidak perlu berhadapan muka langsung dengan target atau korbannya.
Seringkali pelaku bullying tidak menyadari akan berbagai dampak negatif yang akan timbul terhadap korban bully seperti depresi, rasa takut dan tidak aman hingga enggan untuk keluar rumah, penurunan semangat belajar, serta berbagai keluhan kesehatan fisik bahkan hingga menyebabkan kematian dengan cara bunuh diri.

Bagaimanapun bentuk bullying yang dilakukan oleh pelaku terhadap anak-anak dapat dipidana berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak. Undang-Undang tersebut mengatur bahwa setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak. Bagi yang melanggar akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak sebesar 72 juta rupiah.
Praktik bullying ini dapat kita tangani dengan melibatkan seluruh partisipasi dari guru, murid, kepala sekolah, sampai orang tua yang bertujuan untuk menghentikan perilaku bullying dan menjamin rasa aman bagi korban. Selain itu, menggiatkan pengawasan dan pemberian sanksi secara tepat kepada pelaku bullying. Selanjutnya, pihak sekolah juga daapat memasukkan materi bullying ke dalam materi pembelajaran yang akan berdampak positif dalam pengembangan pribadi para siswa. Jangan lupa pula peran penting orang tua untuk selalu mengawasi dan memantau kegiatan serta perkembangan anak untuk dapat tumbuh dan berkembang tanpa adanya penindasan.
Agar angka praktik bullying yang sering terjadi pada anak-anak ini dapat menurun, maka dapat pula dilakukan berbagai pencegahan yaitu dengan adanya peran aktif dari semua pihak yang terkait dengan lingkungan kehidupan remaja. Anak-anak harus mendapatkan lingkungan yang tepat sedini mungkin serta dibutuhkannya komunikasi yang baik antar orang tua dan guru agar dapat memperhatikan perkembangan anak sehingga jangan sampai terjadi praktek bullying terhadap anak-anak.
Sesungguhnya anak-anak merupakan calon penerus bangsa, maka sudah selayaknyalah untuk dapat kita lindungi agar hak-hak mereka dapat terjamin dengan baik. Oleh karena itu, mari sebagai warga negara yang baik kita bekerja sama untuk saling memberantas bullying terhadap anak-anak agar mereka dapat menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas dan bermoral. Stop Bullying!.(****).

Related posts