Staf Ahli Ajak Dinas PU Bahas Jembatan Baturusa II

  • Whatsapp

Soal Banjir Turut Dibahas

PANGKALPINANG – Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Syahrudin, memanggil Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bangka Belitung khususnya Bidang Bina Marga pada rapat terkait jembatan Batu Rusa II di ruang Staf Ahli lantai 2 Kantor Gubernur, Kamis (19/01/2017).

Dalam rapat tersebut staf ahli meminta penjelasan dan perkembangan terkini kondisi jembatan Batu Rusa II, Agus, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU menjelaskan bahwa saat ini secara struktur sudah selesai dan telah diuji oleh tim kementerian PU oleh 3 Professor dan telah dinyatakan bahwa Jembatan Baru Rusa II layak.

“Untuk tahap commissioning baru dilakukan sekarang karena pada tahun 2014 yang lalu jembatan belum terhubung seluruhnya, sementara ada kabel listrik dan sensor, hal itu baru bisa dilakukan ketika jembatan sudah selesai dibangun,” ungkap Agus.

Selanjutnya, sensor untuk jembatan Batu Rusa II dikhawatirkan akan terganggu sistem kerjanya oleh Dinas PU karena sejauh ini banyak nelayan dan masyarakat yang nekat memancing di area sensor tersebut karena ikan banyak berada di sekitar area sensor, sedangkan sensor tersebut berada didasar laut dan untuk membelinya pun di Inggris.

Mengenai pengoperasian jembatan Batu Rusa II pihak Dinas PU telah menyiapkan PLN dan Genset untuk operasional membuka dan menutup jembatan,penggunaan dua bentang jembatan membutuhkan tenaga 500 kVa, dan kini Dinas PU telah menyiapkan genset berkekuatan 650 kVa.

Selain itu, jembatan Batu Rusa II yang kini menjadi ikon di masyarakat Bangka Belitung secara tidak langasung menjadi tempat wisata baru, untuk itu diharapkan kedepannya ada kerja sama dan sinergi antara pemerintah Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka untuk mengambil potensi wisata yang ada dengan mencari investor yang akan bersedia untuk mengembangkan daerah di sekitar jembatan Batu Rusa II.

Terkait pembahasan mengenai persolan banjir, sejauh ini dinas PU telah melakukan pengerukan sungai, pengerukan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya banjir, kondisi hutan di Bangka Belitung yang rusak membuat air langsung turun ke sungai dan menumpuk sedimen, sehingga disaat hujan walupun sungai dikeruk tetap akan menumpukkan sedimen yang ada secara cepat. (Dinas Kominfo/10)

Related posts