Solusi Menangani Siswa-Siswi Bermasalah

  • Whatsapp
Oleh: Dian Herdiani, S.Pd
Guru SMA Negeri 1 Pemali, Kabupaten Bangka

Semua orang tua pasti berharap setiap anak yang disekolahkan di sebuah lembaga pendidikan kelak  anak tersebut akan tumbuh dan memiliki bekal ilmu pengetahuan sebagai modal utama untuk kehidupan anak di masa yang akan datang. Sekolah adalah tempat terjadinya proses belajar mengajar di dalam kelas. Di sana tempat siswa – siswi memperoleh ilmu pengetahuan. Proses pembelajaran akan lebih berhasil bila bahan pembelajaran tersebut dikemas sedemikian baik, sehingga dapat menarik perhatian semua siswa. Karena itu seorang guru harus memiliki persiapan sebelum mengajar di depan kelas dan harus mampu untuk mengemas materi pelajaran, sehingga pelajaran yang disampaikan oleh guru dapat diserap oleh semua siswa. Selanjutnya, hal yang perlu diperhatikan adalah suasana kelas juga sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.

Selain itu, tujuan pembelajaran yang jelas juga akan memudahkan siswa dalam memahami setiap materi pelajaran. Dengan demikian, siswa tidak akan pernah merasa bosan dan termotivasi untuk mengikuti setiap proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas. Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya mengajar dalam satu kelas dengan karakteristik siswa yang mempunyai kemampuan homogen/sama. Banyak  siswa yang mempunyai latar belakang dan motivasi belajar berbeda-beda, karena kondisi yang melatarbelakanginya pun tidak sama. Ada banyak hal yang harus menjadi pertimbangan guru dalam mengajar yang dapat melibatkan siswa secara aktif dan dapat menemukan konsepnya sendiri.

Dalam Undang – Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan  formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Namun pada kenyataannya diketahui bahwa kebanyakan guru masih meletakkan fungsinya sebagai pengajar dan belum menjadi pendidik profesional. Salah satu ciri pendidik profesional adalah mendidik siswa dengan sabar dan bijak ketika menghadapi siswa-siswi yang bermasalah. Selain mengajar (dalam arti hanya menjejali otak siswa dengan berbagai ilmu pengetahuan), sekolah dalam hal ini guru mata pelajaran, wali kelas, guru BK, dan semua komponen sekolah berkewajiban untuk membentuk katakter dan pribadi siswa menjadi manusia yang berwatak baik serta berbudi luhur. Mengajar tidak sekadar transfer pengetahuan, tetapi lebih dari itu untuk membentuk pribadi yang berkarakter baik, santun, dan mampu berdiri sendiri. Sehingga sekolah atau pendidik juga berkewajiban untuk mencari solusi/jalan keluar terhadap permasalahan pada siswa.

Siswa bermasalah yang dimaksud adalah siswa yang memiliki perilakua atau tindakannya tidak diharapkan oleh guru, orang tua, atau masyarakat dan tindakan tersebut cenderung merugikan diri sendiri dan orang lain (Yonohadi 2012). Siswa bermasalah sering diartikan suatu bentuk perilaku siswa yang menyimpang dari semua aturan sekolah yang telah ditetapkan dan disepakati ketika anak didik pertama kali mendaftar disekolah tersebut. Seperti di SMA Negeri 1 Pemali, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung setiap siswa baru kelas X yang dinyatakan di terima/lulus, maka semua siswa akan menerima daftar peraturan sekolah yang mana siswa tersebut apabila sanggup mengikuti semua peraturan yang tertulis, maka anak didik itu akan menandatangani surat kesepakatan yang di tempel dengan sebuah materai. Tetapi apabila siswa melanggar peraturan yang telah ditetapkan, maka akan ditindak sesuai dengan aturan yang berlaku. Siswa bermasalah ini juga sering diartikan sebagai siswa yang nakal. Siswa bermasalah yang dimaksud disini tidak hanya dibatasi oleh pemahaman siswa yang nakal saja, tetapi banyak macamnya, ada yang memiliki masalah kesulitan belajar, masalah kesulitan berkomunikasi, krisis kepercayaan diri, masalah kehadiran (sering membolos/pulang sebelum jam pembelajaran selesai), nilai yang belum tuntas, korban teknologi (kecanduan game online misalnya),  dan masalah – masalah pelanggaran tata tertib lainnya. Setiap siswa memiliki karakteristik pribadi atau perilaku yang berbeda dengan siswa lain. Masalah – masalah tersebut bisa bermuara dari keluarga, lingkungan, maupun dari diri siswa sendiri.

Baca Lainnya

Tidak sedikit siswa yang mengalami kesulitan dalam proses belajar, bukan karena tidak mampu berpikir, tetapi karena berbagai masalah yang melatarbelakanginya. Misalnya siswa tidak bisa konsentrasi belajar karena beban masalah dari keluarga, karena tidak bisa beradaptasi dengan lingkungannya, karena merasa tidak nyaman dengan teman – teman disekitarnya. Sehingga banyak kasus siswa yang membolos saat pelajaran, atau tidak bersemangat dalam mengikuti pelajaran, bahkan ada yang sampai tertidur saat pelajaran berlangsung. Keadaan seperti ini harusnya menjadi perhatian bpk/ibu guru di dalam melaksanakan PBM. Artinya, guru tidak hanya hadir untuk menyampaikan materi pelajaran, tetapi guru juga dituntut untuk bisa menjadi teman yang bisa diajak sharing dengan berbagai permasalahan siswa di dalam belajar.

Kita mungkin sering melihat bahkan merasakan sendiri bagaimana rasanya di hukum karena punya masalah di sekolah, misalnya membolos. Perlu disadari bahwa menghukum bukanlah satu – satunya solusi untuk membuat siswa menjadi jera dan merubah kebiasaan buruk tersebut. Bisa jadi malah membuat siswa menjadi tambah parah/nakal dan semakin susah ditangani. Apalagi siswa sekolah menengah atas, masa remaja dimana kondisi emosi yang masih sangat labil, masa pencarian jati diri, mudah tersinggung dan marah, tidak bisa sembarangan dalam menangani setiap permasalahannya. Akibat siswa bermasalah kebanyakan akan mengalami ketinggalan dalam beberapa pelajaran, ketinggalan dalam kegiatan – kegiatan penilaian yang diadakan oleh guru mata pelajaran, meskipun teorinya guru harus tetap membantu siswa dalam mengejar ketinggalannya, tetapi dalam praktiknya tidak semudah itu. Selain ketinggalan dalam pelajaran, hilangnya rasa disiplin, siswa kadang juga merasa tersisih dari teman – temannya, apalagi bila masalah siswa tersebut sudah parah sehingga muncul anggapan dari teman dia itu siswa yang nakal yang akhirnya dikucilkan dari teman – temannya.

Dalam hal ini, biasanya untuk menangani siswa yang bermasalah sekolah bisa memberikan program pendampingan siswa bermasalah, baik itu oleh guru BK, guru mata pelajaran, wali kelas, kerja sama dari pihak keluarga dan masyarakat. Memang tidak mudah, sekaligus mengubah perilaku siswa untuk kembali seperti semula, tetapi paling tidak peran guru pendamping dan dukungan orang tua ini nanti diharapkan bisa meminimalisir perilaku – perilaku siswa bermasalah. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan guru (dalam hal ini tidak hanya guru BK) dalam mendampingi dan membimbing siswa bermasalah adalah memahami siswa secara keseluruhan, mulai dari akar dari masalah yang dihadapi, masalah yang dihadapi, maupun latar belakang pribadi siswa tersebut.

Guru dituntut untuk mengetahui asal – usul dan kepribadian setiap siswa, agar guru dapat memperoleh cara yang tepat untuk mendampingi siswa yang bermasalah tersebut. Oleh karena itu, setiap siswa harus mempunyai data yang lengkap, agar guru mata pelajaran, guru BK, wali kelas, dan semua komponen sekolah bisa memberikan layanan yang cepat, tepat dan terarah pada saat dibutuhkan agar bisa menemukan solusi yang tepat. Dalam menghadapi siswa bermasalah peran pendidik sebagai pendamping sangatlah penting sebagai sarana untuk mencari solusi setiap permasalahan siswa. Melalui pendekatan personal harapannya siswa terbuka dengan permasalahannya, sehingga pendamping memahami dan mendapatkan gambaran bagaimana harus menghadapi siswa tersebut. Menghentikan sekaligus kebiasaan/perilaku siswa yang tidak baik tidak bisa dilakukan seketika itu juga. Tetapi paling tidak ada usaha untuk meminimalisir perilaku siswa yang bermasalah.

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan dalam menangani dan mengurangi adanya siswa yang bermasalah anatara lain: Mendampingi dan memotivasi siswa dalam menemukan akar permasalahan, memberi alternatif pemecahan sekaligus mendampingi sampai pada implikasinya. Untuk mengetahui penyebab permasalahan siswa, guru pendamping bisa memulai dengan berkomunikasi yang intens dengan siswa tersebut, menggali informasi dari teman  dekatnya, dan yang tak kalah penting berkomunikasi dengan pihak keluarga. Dengan sikap sebagai teman/bukan bersikap menggurui, lebih baik banyak mendengar apa yang disampaikan oleh siswa, teman – temannya dan pihak keluarga, pendamping bisa menganalisis akar permasalahannya. Sehingga dengan demikian pendamping bisa memberikan alternatif solusi yang tepat untuk setiap permasalahan siswa tersebut tanpa harus ada kemarahan, prasangka dan hinaan. Tidak mudah memang, apalagi sekolah dalam hal ini guru di zaman sekarang lebih banyak pekerjaan administratif yang membebani, tapi dengan dukungan dan kerja sama yang baik antar komponen sekolah dan keluarga, pasti bisa. Menerapkan disiplin secara tegas, konsisten, dan tidak tebang pilih.

Untuk menegakkan aturan yang berlaku di sekolah jangan hanya bisa menghakimi, menghukum, dan menuntut siswa untuk disiplin dengan aturan – aturan tersebut. Siswa – siswa sekarang yang dibutuhkan bukan hanya petuah dan ceramah – ceramah yang menggurui, mereka butuh teladan, butuh contoh figure yang memang patut untuk di contoh dari sikap dan tindakan. Artinya, segenap komponen sekolah, mulai dari Pimpinan, Wakil Kepala Sekolah, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan memberikan contoh yang baik terhadap anak didiknya. Jangan ada siswa yang terlambat di beri hukuman, sementara gurunya sendiri juga sering terlambat. Ini contoh yang paling sering terjadi di sekitar kita. Bahkan sering terjadi siswa tertidur atau main HP di saat pelajaran sedang berlangsung. Ini terjadi bukan karena 100 % kesalahan siswa, karena dari awal guru kelas tidak tegas, bahkan terkesan kurang peduli terhadap siswanya.

Guru Harus Berkreasi dan Berinovasi. Guru juga mempunyai andil yang tidak sedikit terjadinya pelanggaran – pelanggaran siswa membolos. Banyak kejadian siswa tidak ikut pelajaran karena pelajarannya membosankan atau tidak suka dengan gaya mengajar gurunya yang itu- itu saja. Guru harus mampu membuat pembelajaran menarik dan tidak membosankan. Banyak kasus terjadi karena ketidakmampuan guru dalam mengemas dan menyajikan pelajarannya kepada siswa, akhirnya siswa merasa jenuh di kelas, yang terjadi akhirnya membolos. Guru dalam melakukan penilaian juga harus mengedepankan kejujuran, transparansi, sehingga tidak menimbulkan rasa apatis, dan pesimistis pada siswa.

Kerja sama dengan Pihak Luar. Solusi selanjutnya juga dapat melakukan kerja sama dengan pihak di luar sekolah yang sering menjadi tempat pelarian siswa – siswa yang bermasalah, seperti kafe, warung kopi, penyedia game online, tempat – tempat hiburan lainnya. Bekerja sama dengan dinas pendidikan dibantu satpol PP untuk mensosialisasikan tempat – tempat tersebut untuk tidak memberikan akses pada siswa – siswa yang masih berseragam, atau tidak menerima siswa pada jam – jam pelajaran di sekolah. Tidak mudah memang, karena ada banyak kepentingan yang ada didalamnya, tetapi paling tidak ada usaha – usaha untuk meminimalisir tempat – tempat pelarian siswa yang lari pada saat jam – jam pembelajaran berlangsung.

Akibat dari adanya siswa yang bermasalah dalam skala ringan, siswa tidak bisa konsentrasi dan kurang motivasi belajarnya, membolos dari sekolah saat jam – jam pelajaran, lari ke minuman keras da narkoba, bahkan banyak yang akhirnya dropout dari sekolahnya. Solusi pemecahannya tidak harus dihukum secara fisik atau diberi sanksi. Siswa bermasalah memerlukan pendampingan untuk memecahkan dan mencari solusi permasalahannya. Dan yang terlebih penting pendampingan siswa bermasalah tidak hanya menjadi tanggungjawab guru BK, tetapi semua komponen yang ada di sekolah mulai dari kepala sekolah dan stafnya, guru mata pelajaran, guru BK, wali kelas mempunyai tanggungjawab yang sama. Upaya pendampingan siswa bermasalah ini akan lebih efektif lagi jika didukung oleh kerja sama pihak keluarga dan peran serta masyarakat. Seorang guru hendaknya di dalam mengajar tidak hanya fokus pada materi ilmu pengetahuan saja. Seorang guru juga sebagai pendidik harus sering berkreasi dan berinovasi mengemas materi pelajaran, sehingga murid tidak merasa bosan dan selalu bersemangat dalam mengikuti setiap pembelajaran. Disamping itu guru sebagai pendidik juga dituntut untuk mempunyai rasa peduli dan peka terhadap sikap dan karakter anak didiknya.(***).

 

Related posts