Social Distancing Menjamin Kesehatan Bermasyarakat

  • Whatsapp
Oleh : Yuni Ayu Izma
Mahasiswa STISIPOL PAHLAWAN 12 Sungailiat, Bangka, Babel

Sejak beredarnya penularan coronavirus disease 2019 (Covid-19)  yang menjadi pandemi dunia, sungguh berdampak besar terhadap dunia kesehatan. Maraknya wabah Covid-19 yang terus meningkat di seluruh penjuru dunia menjadikan alasan penting untuk mengimbau bagi masyarakat melakukan metode social distancing dengan tujuan untuk menghentikan rantai penularan virus corona. Social distancing adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh setiap orang dalam berinteraksi melalui jarak sosial di antar masyarakat.

Adanya kebijakan ini, bertujuan demi mengurangi resiko menyebarluaskan pandemi Covid-19. Sebab, jika tidak melakukan social distancing ini ada satu cara penularan secara droplets yang tanpa kita sadari dapat dibagikan oleh orang lain di sekitar kita. Berkumpul di tempat orang banyak dan bersentuh tangan bisa menjadi cara lain melakukan penularan.

Read More

Pada kasus ini, justru mengalami peningkatan penyebaran virus corona di negara kita, hampir semua siaran acara televisi dan media sosial yang melaporkan hasil data dan disebarluaskan informasi berita itu mengenai kasus peningkatan penularan covid-19. Adanya kebijakan pemerintah tentang social distancing bertujuan untuk menjaga keselamatan kita agar tetap terhindar dari wabah penyakit ini. Namun masyarakat setempat masih saja menganggap itu hal yang sepele, ada yang beranggapan bahwa di daerah Bangka Belitung yang dikenal dengan julukan “Serumpun sebalai” berstatus zona hijau yang belum adanya pasien yang terjangkit penularan virus corona ini masih aman. Asalkan tidak ada yang pulang mudik ke kampung halaman dan tidak dibiarkannya masuk di wilayah Bangka, maka daerah serumpum sebalai ini tetap aman dan nyaman.

Banyak peringatan dari kebijakan pemerintah terhadap msyarakat terutama penambahan diliburkannya anak sekolah selama 14 hari dan tetap belajar mengajar via online di rumah. Ini bermaksud agar tetap di rumah dan kini menjadi trend di Ig Story berupa #dirumahaja menjadi rutinitas masyarakat membagikan kesehariannya di rumah. Pada dasarnya hanyalah kaum introvert yang selalu bahagia tetap di rumah. Namun sebelum adanya kebijakan pembatasan sosial skala besar, telah mengimbau jangan berpergian, kecuali dalam keadaan yang mendesak, kebutuhan secara pribadi, maka jika bepergian gunakan masker dan bawalah sterilizer yang berbahan alkohol.

Namun adanya beberapa pencegahan ini masih saja masyarakat setempat berkeliaran di tempat umum dan tidak mematuhi setiap peraturan yang dianjurkan. Ternyata ini bukan cara yang efektif membangun pentingnya kesadaran masyarakat melakukan pencegahan penularan Covid-19. Apalagi setelah munculnya berita yang dilansir kompas.com pada 2020 Bangka Belitung yang dulunya berstatus berzona hijau kini menjadi zona merah. Hasil dari laboratorium yang salah satu PDP (pengawasan dalam pemantauan) dari Litbangkes Jakarta akhirnya keluar. Pasien yang bernomor 034 berusia 54 tahun yang diisolasi di Gedung B RSUD Marsidi Judono, Belitung dinyatakan positif terkena penyakit corona atau Covid-19.

Bupati Belitung Sahari mengumumkan bahwa ada satu pasien yang positif terjangkit penyakit Covid-19 di Kepulauan Bangka Belitung. Dengan adanya satu pasien yang telah terjangkit Covid-19 ini, status Provinsi Kepuluan Bangka Belitung berubah menjadi zona merah. Dengan kasus ini Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi provinsi yang ke-31 dalam kasus positif Covid-19 ini, ungkapnya.

Tidak hanya itu saja kasus yang mengebohkan masyarakat setempat, kini telah terjadi di beberapa hari yang lalu setelah kejadian itu muncul, ternyata terdapat 1 kasus di Bangka positif terkena covid-19. Sdr. Jufiter selaku Dokter di R.S Pusyandik Toboali Bangka Selatan sehubungan dengan meninggalnya pasien dalam pengawasan (PDP) asal Kabupaten Bangka selatan meninggal dunia di R.S Siloam Pangkalpinang. Sdr. Jupiter menjelaskan bahwa pasien yang meninggal dunia berumur 70 tahun itu berasal dari Toboali, Bangka Selatan.

Dari kejadian tersebut, kini mengalami peningkatan drastis akan kesadaran masyarakat.  Dengan banyaknya berita yang beredar ini menjadikan masyarakat waspada akan takut keluar rumah. Keadaan jalan raya mulai terasa sepi, tempat pasar dan toko mengalami penurunan pengunjung. Disini mulailah berdampak mati pada sektor ekonomi. Kini krisis ekonomi mulai melanda. Alat pencegahan Covid-19 berupa mengenakan masker kini mulai langka dan tidak dijual. Sterilizer yang berbahan alkohol pada telapak tangan untuk berjaga-jaga juga tidak ada stok untuk dijual. Meskipun ada yang menjual kini harganya meningkat. Keterbatasan ini menjadi sorotan, masyarakat antusias membuat peralatan keamanan dalam melindungi diri di rumahnya masing-masing.

Demi menjaga kesehatan dan menghentikan rantai penularan pandemi virus corona yang telah mewabah di seluruh wilayah Indonesia, marilah kita sebagai makhluk sosial mengikuti peraturan yang disampaikan oleh pemerintah. Selama masih beredarnya virus corona, maka kurangi keluar rumah dan pastikan kita semua agar tetap di rumah, belajar di rumah dan berdoa di rumah untuk sementara waktu ini. Karena dari pedoman penangan cepat dari pihak medis dan kesehatan, mematuhi kebijakan pemerintah adanya social distancing menjamin kesehatan bermasyarakat. Sehat itu mahal, dan merugilah jika tidak menjaganya dengan sebaik-baiknya. (***).

 

 

 

 

 

JustForex

Related posts