Soal Alun-alun, Erzaldi ‘Serang’ Walikota

No comment 1384 views


WC Pesing, Banyak Anak Pacaran
Ruang Terbuka Hijau tak Memadai

Pangkalpinang – Pemanfaatan dan pengelolaan Alun-alun Taman Merdeka (ATM) atau Lapangan Merdeka yang tidak jelas peruntukannya oleh Pemerintah Kota Pangkalpinang, mendapat sorotan khusus Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan. Ia mengkitik ruang terbuka hijau yang minim dimiliki Kota Pangkalpinang dan fasilitas umum tak terawat di Alun-alun.
“Alun-alun, saya gak tau lagi lah itu tempat apa. Dibilang ruang terbuka hijau tapi banyak yang berjualan, dibilang arena bermain anak-anak tapi banyak yang betunang (pacaran-red). WC dak de (tidak ada-red), lewat ke lapangan tenis dikit bau pesing,” katanya.
Karena beberapa hal itulah, Erzaldi berniat Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Pemprov Babel) membeli rumah keresidenan jaman Belanda yang kini menjadi rumah dinas Walikota Pangkalpinang, beserta Taman Sari dan kawasan Polres Pangkalpinang untuk dikembangkan menjadi objek wisata di titik nol kilometer ibukota Provinsi Babel.
Keinginan gubernur membeli kawasan tersebut juga untuk memenuhi ruang terbuka hijau di Kota Pangkalpinang, yang menurutnya saat ini masih belum memadai dan kurang tempat rekreasi. Kawasan titik nol ini nantinya akan disulap menjadi objek wisata yang menarik, dan menjadi icon ketika wisatawan berkunjung ke Pangkalpinang.
“Maunya saya, rumah dinas walikota itu kita beli, kita buat tugu atau apa di titik nol, silahkan nanti wisatawan atau masyarakat kita lah foto-foto selfie di sana,” ujarnya.
Demikian juga dengan kawasan Taman Sari (Wilhelmina Park) yang diproyeksikan akan dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau serta objek wisata.
“Makanya saya bilang, bukan apa mau ambil ini (rumah dinas walikota-red), saya mau membantu dalam menambah persentase ruang terbuka hijau di Kota Pangkalpinang. Bukan untuk saya kok, saya bukan mau menempati rumah dinas itu, ndak, jangan takut, rumah dinas saya ada tapi saya tidak menginap di sana,” kata Erzaldi.
Disinggung berapa harga yang akan dibayar Pemprov untuk membeli kawasan titik nol ini, Erzaldi tidak bisa menaksir karena wilayah itu kepunyaan Kota Pangkalpinang. Termasuk ketika ditanya kemampuan APBD, ia meyakini bisa diakomodir di APBD asalkan disetujui oleh DPRD Babel.
“Yang penting ada izin DPRD provinsi, saya mengungkapkan niat saya kalau setuju ayo, kalau enggak, ya sudah,” tukasnya.

ID Integrasi Pariwisata
Terobosan lain di bidang pariwisata yang ingin dilakukan Gubernur Babel yakni berencana membuat sistem teknologi dalam pariwisata. Sistem ini bahkan saling terintegrasi dengan beberapa sektor lainnya yang saling mendukung dan berhubungan.
“Saya mau kembangkan beberapa sistem, IT, nanti kita wajibkan setiap yang berkunjung (wisatawan) scan dan upload ke sistemnya, kemudian sistem nantinya yang mereka pakai untuk berwisata,” kata Erzaldi disela pelantikan pengurus PUTRI di Teras Nusantara, Citraland Botanical City, Kamis (4/8/2017).
Ia sempat memperkenalkan dua orang stafnya yang akan merancang sistem teknologi ini semacam aplikasi untuk memuat apa saja objek wisata di Babel, yang juga menjadi acuan dan pedoman bagi wisatawan berkeliling Babel.
“Jangan sampai ke Bangka muter-muter dak tau mau kemana,” imbuhnya.
Selain itu, sistem ini juga akan diterapkan untuk para sopir, travel guide, toko oleh-oleh dan lainnya, dengan saling terkoneksi.
“Guide, supir taksi harus punya card terintegrasi ke dinas, yang tak punya kartu nanti gak boleh, saya mau harus ada standar,” tegasnya.
Mantan Bupati Bangka Tengah ini menambahkan, bahwa sektor pariwisata tak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, harus dengan berbagai lintas sektor dan melibatkan seluruh elemen.
“Mau ngembangkan pariwisata tapi coba lihat kemana pun sampah menjadi pilihan persoalan, tak ada kesadaran ngambil sampah. Kemudian objek wisata mau kencing aja susah, mau beli makanan enak susah, ini harus bersama dikerjakannya, gak bisa sendiri,” paparnya.
Oleh karenanya, masyarakat juga kata Erzaldi harus diberdayakan dalam mengembangkan pariwisata. Misalkan memanfaatkan pelaku UKM untuk berjualan di objek wisata, membina pengrajin membuat kerajinan sebagai souvernir dan lainnya.
Erzaldi melanjutkan, semua berkenaan dengan profesionalisme pariwisata, dirinya akan menerapkan sertifikasi, baik kepada sopir, guide restoran dan lainnya.
“Sopir juga harus sadar wisata, kalau bawa tamu harus tahu tempat wisata yang ada di Babel, dimana tempat makan enak, jangan mentang-mentang penumpangnya bujang (pria) nawari yang lain ke penumpang,” tuturnya.
“Kemudian sopir bawa tamu ke toko oleh-oleh, berdiri di pinggir kasir nunggu fee. Ku enggak model ya (itu-red), harus dirubah, nanti kita pakai chip, pakai card, gak ada lagi (sopir) minta fee. Card harus diperpanjang setahun sekali, supir yang tak mengajak ke tempat wisata akan terdata,” tambah Erzaldi.
Ia meyakini, jika dikerjakan bersama, terpadu, terintegrasi dan fokus, maka pariwisata di Babel akan berkembang lebih maju serta semakin dikenal oleh wisatawan.
“Babel saat ini adalah kondisi Bali 20 tahun lalu, bagaimana caranya agar Babel bisa seperti Bali saat ini, ayoo bersama kita memajukan pariwisata ini. Bukan cuma pemerintah, tapi semua elemen, pengusaha masyarakat dan lainnya, dan pariwisata harus dikembangkan serta menjadi sektor andalan kita,” pungkasnya. (nov/1)

No Response

Leave a reply "Soal Alun-alun, Erzaldi ‘Serang’ Walikota"