Sisi Lain Solusi Pembelajaran di Era Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Rini Trihastuti, S.Pd.
Guru SMA Negeri 4 Pangkalpinang, Babel

Sebagian orang termasuk guru mungkin kurang respek dengan hiruk pikuknya Revolusi Industri 4.0 utamanya dikaitkan dengan pembelajaran. Mengapa? Karena belum ada desakan luar biasa yang mengharuskan kita bergegas menyambut era digitalisasi. Ketika tiba ada wabah penyakit menular melanda warga dunia yang mengharuskan kita diam di rumah untuk memutus rantai penularannya, kita pun bangun tergeragap dari keterkejutan yang panjang. Covid memang tidak dinyana kedatangannya tidak seperti musibah lainnya yang bisa diantisipasi semisal gunung meletus, banjir, atau tanah longsor. Untuk hal ini, pemerintah sudah menyiapkan badan mitigasinya.

Pekerjaan harus tetap dilaksanakan meski di rumah. Pembelajaran juga harus tetap berjalan meski siswa tak berada di sekolah. Akhirnya, para guru harus melakukan pembelajaran dari rumah yaitu dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). PJJ harus menggunakan teknologi informasi. Ini sebuah keniscayaan. Guru-guru yang semula gaptek harus belajar cepat untuk melakukan pembelajaran daring yang terstruktur, tidak hanya asal memberikan tugas-tugas kepada murid.

Di awal-awal learning from home (LFH) murid merasa jenuh dan hampir putus asa hingga muncul meme-meme yang lucu. Misalnya, lebih enak belajar di sekolah dari pada di rumah; orang tua lebih galak dari pada guru mereka di sekolah; ternyata menjadi guru bagi anak sendiri tidak mudah, dsb. Kejenuhan dirasakan murid sebagai akibat guru hanya memberi tugas yang seabrek sementara bertanya kepada orang tua kadangkala mereka tidak paham. Hanya tugas dan tugas yang diberikan guru yang entah kapan akan dikoreksi.
Jika guru kreatif maka pembelajaran laksana bertatap muka di kelas, artinya tetap interaktif, inovatif dan menyenangkan. Dan ini, tantangan bagi guru karena tidak mudah. Yang harus diingat, tidak hanya seorang guru yang memberi tugas, namun semua guru akan memberi tugas, sehingga terbayang berapa banyak tugas bertumpuk di rumah menunggu waktu dibawa ke sekolah. Jika LFH berlangsung sampai akhir tahun ajaran bisa dipastikan tugas hanyalah tugas yang tidak akan dinilai oleh guru. Guru yang ‘agak keren’ sedikit akan membuat akun email untuk menampung semua tugas dan mengoreksinya, tidak membiarkan murid mereka menumpuk tugas-tugas dari guru. Tapi ini, berlaku untuk murid di sekolah lanjutan, bukan di sekolah dasar.

Apakah PJJ dengan menggunakan fasilitas google classroom, ZOOM, Cloud atau lainnya efektif mencapai tujuan yang diharapkan? Bisa iya bisa tidak, tergantung metode yang digunakan oleh guru. Untuk murid pada jenjang SMP dan SMA/SMK pembelajaran daring bisa dinilai efektif, namun belum tentu bagi murid pada jenjang SD. Interaksi timbal balik pada saat pembelajaran menjadi prasyarat murid mengerti tujuan yang diharapkan.

Baca Lainnya

Adakah kendala pembelajaran daring? Tentu saja ada; pertama, tidak semua murid memiliki smartphone. Bagi murid SD bisa pinjam kepada orang tua/kakaknya yang punya. Pun bagi murid jenjang SMP dan SMA/SMK tidak semua memilikinya. Jika dalam satu rumah ada beberapa anak yang harus melakukan pembelajaran daring dalam waktu bersamaan tentu kita bisa membayangkan kerepotannya. Guru juga tidak bisa memaksa orang tua murid yang ekonominya agak kurang (apalagi terimbas covid) untuk membeli smartphone sementara ada kebutuhan pokok yang harus dipenuhi.

Kedua, harus menyediakan anggaran untuk membeli pulsa/kuota/paket data internet. Tentu tidak asyik manakala pembelajaran sedang berlangsung tapi kuotanya habis. Dan membeli kuota juga perlu anggaran khusus. Semakin sering pembelajaran daring dilakukan maka semakin besar pula kuota yang dibutuhkan. Ketiga, jaringan internet tidak bisa menjangkau semua wilayah dengan baik. Struktur permukaan tanah di negeri kita yang tidak datar, dipisahkan oleh gunung, lembah, laut dan sungai mengakibatkan jaringan internet mati hidup tidak menentu.

Bagaimana mengatasi hal ini? Banyak guru yang terpaksa menjemput bola dengan mendatangi rumah siswanya meski jaraknya cukup jauh. Ini dilakukan agar siswa memperoleh hak yang sama dalam pembelajaran. Siswa yang jarak rumahnya berdekatan dikumpulkan di dalam salah satu rumah siswa berjumlah 3-5 siswa. Protokol kesehatan untuk menghindari berkumpulnya banyak orang tetap ditaati, sehingga guru berpindah-pindah rumah. Jika rumah siswanya cukup jauh dari rumah guru dan berjauhan pula antara siswa satu dengan lainnya bisa dipastikan dalam satu hari guru hanya bisa melakukan pembelajaran 3-5 siswa.

Sampai di sini bisa dipahami betapa beratnya tugas guru yang tidak bisa melakukan pembelajaran daring karena situasi dan kondisi di atas. Dan perlu diketahui pula mereka tidak semua ber-NIP. Mereka adalah tenaga honor yang gajinya tidak seberapa. Namun, demi panggilan tugas mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Masih ingin mencaci guru? Masih tega menghinanya?

Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah (Pusdatin, Kemdikbud) bekerja sama dengan TVRI menyajikan pembelajaran semua mapel pada semua jenjang meskipun masih perwakilan, misal kelas 1-3, kelas 4-6 yang ditayangkan setiap hari pada jam 08.00-15.00 WIB. Apakah pembelajaran melalui TVRI bisa mengatasi masalah pembelajaran jarak jauh secara sepenuhnya? Tentu saja tidak. Banyaknya pelajaran dan terbatasnya waktu menjadikan sajian pelajaran tidak seperti pembelajaran di kelas. Namun, ini, sebagai solusi jangka pendek di samping pembelajaran daring yang dilakukan oleh guru/sekolah masing-masing. Ini menjadi alternatif solusi karena gratis, tidak memerlukan smartphone dan kuota untuk mengaksesnya, sebab jangkauan siaran TVRI sampai ke pelosok tanah air.

Kini tugas guru adalah mencari formula yang tepat untuk menyajikan pembelajaran daring menjadi bermakna. Saatnya orang tua di rumah mendidik anak untuk mentransfer nilai melalui pendidikan karakter. Selama ini, mendidik anak seolah-olah hanya menjadi tanggung jawab guru dan pemerintah, sementara orang tua lepas tangan, menyerahkan sepenuhnya ke sekolah. Kita sudah menggembar-gemborkan tentang pentingnya pembelajaran abad 21, tetapi nyatanya ketika dilanda wabah yang mengharuskan aktivitas dilaksanakan di rumah kita menjadi limbung, bingung apa yang harus dikerjakan dan menjadi tidak mandiri.

Dengan adanya wabah ini, banyak pelajaran yang bisa kita petik. Pemerintah harus menyiapkan kurikulum yang baik, menyiapkan guru yang tahan banting di segala cuaca, dan orang tua harus berperan aktif, menjadi lebih terbuka dan adaptif terhadap pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan menjadi tanggung jawab bersama. Guru bukan satu-satunya sumber belajar, namun dari gurulah motivasi dan keteladanan dibangun. Kita kenal semboyan ing ngarso sung tuladha yang berarti di depan memberi contoh, ing madya mangun karsa yang artinya di tengah membangun semangat dan tut wuri handayani yang berarti memberikan dorongan dari belakang, sebuah metode pengajaran yang komunikatif dan humanis terhadap subjek pendidikan yang dicanangkan oleh Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara.

Mewujudkan tujuan Pendidikan Nasional untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara tentu tidak mudah. Perlu kerja sama semua pihak baik guru, pemerintah, masyarakat dan orang tua. (***).

Related posts