Siklus Inflasi di Ramadhan, Mungkinkah Diredam?

  • Whatsapp

Oleh: IRSYADINNAS
Statistisi Pemda Belitung Timur

Telah menjadi sebuah keniscayaan yang terlanjur dianggap biasa terjadi secara berulang setiap tahun bahwa menjelang dan selama Ramadhan dan Idul Fitri, masyarakat Indonesia dihadapkan pada harga-harga barang kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan tajam, terutama komoditas pangan. Tidak berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya, kenaikan harga-harga bahan pokok pada tahun ini secara statistik juga mengalami kenaikan. Dampaknya, hal ini tentu saja akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan perekonomian masyarakat setempat.

Bukti nyata di dekat kita misalnya saja, hasil survei pasar yang dilakukan oleh Pemda Belitung Timur pada awal Ramadhan di Pasar Lipat Kajang, Kecamatan Manggar, telah menunjukkan fenomena bahwa harga daging ayam lebih tinggi dari harga normal biasanya di pasaran yaitu di sekitar Rp50 ribu, dimana harga tersebut pada hari-hari biasa di kisaran Rp40.000 – Rp45.000, dan diperkirakan akan terus merangkak naik sampai ke angka Rp55.000 jika persediaan daging ayam di pasar semakin terbatas.

Jika kita cermati lebih lanjut, sebenarnya hal ini tidak hanya terjadi di Belitung Timur. Diberitakan di berbagai media massa, hampir di seluruh daerah di nusantara juga mengalami hal yang kurang lebih serupa bahwa menjelang dan selama ramadhan selalu terjadi kenaikan harga khususnya komoditas pangan. Ironisnya, meskipun hal ini telah menjadi pengetahuan bersama bahwa salah satu penyebab kenaikan harga barang kebutuhan pokok ini adalah karena pola konsumsi masyarakat yang tidak rasional dan meningkat tiba-tiba menjelang dan selama Ramadhan dan Idul Fitri yang kemudian dihadapkan dengan ketersediaan/stok barang dalam jumlah normal seperti pada hari-hari biasa.

Baca Lainnya

Namun, upaya meredam kenaikan harga seolah-olah seperti tidak membuahkan hasil yang membanggakan, seolah situasi kontradiktif ini telah menjadi tradisi di pasar ekonomi kita, dimana pada Bulan Ramadhan seharusnya konsumsi itu berkurang karena aktivitas ibadah puasa bagi mayoritas muslim, malah justru menjadi momentum pesatnya kegiatan konsumsi terutama untuk kebutuhan makanan, pakaian dan energi (listrik dan BBM). Ditambah lagi pasca Ramadhan tahun ini akan berlanjut dengan musim tahun ajaran baru yang mengakibatkan belanja masyarakat untuk keperluan sekolah anak akan mengalami peningkatan yang kurang lebih sama besarnya dengan kebutuhan akan konsumsi pangan.

Meskipun boleh jadi kondisi meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok tersebut tidak berdampak signifikan terhadap kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan menengah ke atas, namun bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah hal ini akan semakin membawa kesengsaraan dan himpitan ekonomi. Fenomena inflasi ini seperti semacam mata rantai yang sulit diputuskan. Karena pada kelompok masyarakat dengan pendapatan menengah, akan tejadi penggunaan uang cadangan misalnya melalui tabungan yang jumlahnya terbatas untuk memenuhi pola konsumsi terhadap barang yang mengalami kenaikan harga. Ini berati bahwa jumlah uang yang beredar di pasar akan semakin banyak disebabkan penarikan tabungan, yang kemudian berdampak pula kepada suku bunga bank, yang justru semakin memperparah inflasi.

Inflasi di Daerah Kita
Dilansir dari laman resmi website Pemprov Babel pada tanggal 9 Mei 2019 lalu, Sekda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selaku Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Babel dalam agenda rapat koordinasi tentang upaya menekan inflasi menyebutkan bahwa terjadi inflasi yang cukup tinggi pada bulan Ramadhan 2019 ini, dengan tingkat inflasi sekitar 1,68 persen, meskipun tidak lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi pada tahun sebelumnya. Pada kesempatan yang sama, perwakilan BI Babel juga menyampaikan bahwa sampai dengan Maret 2019 inflasi masih terkendali cukup baik, hanya saja ada gap yang terlalu tinggi Year of Year (YoY) antara tanjungpandan 4,17 persen dan pangkalpinang 2,12.

Pada dasarnya inflasi tidak selalu bisa dianggap buruk jika diringi dengan pertumbuhan yang baik pada variabel ekonomi lainnya, misalnya tingkat pertumbuhan ekonomi yang proporsional. Namun, dalam banyak kasus yang terjadi adalah inflasi seringkali memang membuat masyarakat dengan level pendapatan menengah ke bawah semakin terjerat lingkaran kemiskinan karena pendapatan riilnya tergerus oleh inflasi. Di sisi lain, Inflasi juga akan memunculkan keinginan masyarakat untuk menabung dan berinvestasi ketimbang menghabiskan uang untuk konsumsi, dan secara jangka panjang, jika inflasi dibiarkan meningkat tak terkendali maka akan menurunkan daya beli masyarakat sehingga menciptakan paritas daya beli yang tinggi, yang pada akhirnya akan mempengaruhi stabilitas ekonomi secara makro. Begitu berbahayanya inflasi yang tak terkendali, sehingga pemerintah pusat melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Keuangan No.88/KMK.02/2005 dan Gubernur Bank Indonesia No.7/9/KEP.GBI/2005 membetuk Tim Pengendali Inflasi (TPI) yang juga mendesak pemerintah daerah membentuk Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) serta mengoptimalkan fungsinya guna memantau dan mengendalikan inflasi.

Meredam Inflasi
Melihat fenomena sebagaimana telah diuraikan di atas, Pertanyaannya kemudian adalah, bisakah inflasi yang terlanjur tinggi menjelang dan selama Ramadhan dan Idul Fitri diredam? Jika yang dimaksudkan dari meredam inflasi adalah menekan laju inflasi sampai ke titik nol persen tentu ini sesuatu yang hampir mustahil. Dan juga, inflasi yang terlalu rendah sebenarnya akan merugikan perekonomian kita. Beberapa hal negatif yang akan terjadi jika inflasi terlampu rendah misalnya: Bank akan menurunkan Tingkat Suku Bunga secara signifikan, karena masyarakat lebih tertarik untuk menabung ketimbang membelanjakan uangnya untuk kebutuhan konsumsi, yang kemudian akan menyebabkan tingkat penjualan menurun, yang berdampak kepada menurunnya keuntungan produsen, kalo ini dibiarkan berlanjut, maka bukan tidak mungkin akan terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh perusahaan karena untuk bertahan dalam bisnis dan usaha, perusahaan akan mengambil langkah optimalisasi usaha melalui salah satunya pengurangan jumlah karyawan. Alih-alih membawa kemaslahatan, inflasi yang terlalu rendah juga justru memperburuk perekonomian. Sehingga sebenarnya yang dimaksud dengan meredam inflasi adalah mengendalikan laju inflasi pada tingkatan yang lebih moderat dengan tingkat suku bunga ataupun pertumbuhan ekonomi yang memungkinkan terjaga.

Kembali pada pertanyaan di atas, bisakah inflasi di redam, terutama fenomena inflasi yang terjadi sepanjang ramadhan yang telah menjadi siklus tahunan? Dan Bagaimana caranya? Menjawab persoalan ini, langkah awal adalah pentingnya mengidentifikasi siapa saja pihak-pihak yang memiliki andil dalam menentukan terjadinya inflasi, dan mengurai masing-masing variabel yang menyebabkan inflasi pada masing-masing pihak. Pihak pertama yang pada dasarnya bisa kita identifikasi sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap inflasi ini yaitu Pemerintah Daerah, Pemerintah melalui kewenangannya dalam mengelola anggaran publik dan mengurusi hajat hidup masyarakat memiliki tanggungjawab dalam upaya bersama meredam laju inflasi sampai pada tingkat yang bisa dikendalikan, misalnya dengan membuat kebijakan dan pengaturan untuk menjaga ketersediaan barang yang mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat, sehingga harga-harga barang yang biasanya memicu inflasi bisa dikendalikan pada harga normal. Selain itu, secara jangka pendek, dalam upaya mengendalikan inflasi, Pemerintah juga bisa melakukannya melalui operasi pasar, karena dengan operasi pasar, bisa meminimalisir lonjakan harga yang tiba-tiba, dan memastikan spekulan harga tidak menimbun barang, sehingga ketersediaan barang bisa cukup memenuhi kebutuhan pasar.

Pihak selanjutnya yang dianggap berperan penting menjadi bagian dalam upaya bersama untuk mengendalikan inflasi adalah pihak konsumen atau masyarakat, pengaturan pola konsumsi yang tidak berlebihan secara kolektif merupakan salah langkah yang bisa ditempuh oleh masyarakat untuk meredam inflasi, karena dengan mengatur pola konsumsi barang agar tidak berlebihan, maka artinya permintaan akan kebutuhan terhadap barang tersebut bisa dijaga, yang pada akhirnya akan kembali menstabilkan harga barang ke kondisi normal. Namun memang alternatif ini cukup sulit diupayakan terutama pada Bulan Ramadhan, karena telah menjadi sebuah kesepakatan tidak tertulis di tengah masyarakat kita, bahwa ramadhan identik dengan perayaan melalui misalnya konsumsi dalam jumlah lebih, padahal sejatinya esensi puasa di bulan Ramadhan adalah “menahan” diri dari nafsu, salah satunya nafsu untuk konsumsi yang berlebihan.

Langkah lainnya jika memang perayaan ramadhan dianggap sebagai bagian dari ibadah sosial sehingga membeli dalam jumlah lebih dalam rangka berbagi adalah sebuah nilai ibadah, namun setidaknya dari sisi masyarakat, perlu dipikirkan agar tidak bertumpu kepada 1 komoditas saja, guna menghindari kelangkaan yang menyebabkan kenaikan harga dan inflasi, maka alternatifnya adalah membeli barang substitusi dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Sikap konsumen yang arif dalam memenuhi pola konsumsinya seperti dikemukakan di atas merupakan upaya meredam inflasi dari sisi masyarakat, sehingga stabilitas perekonomian di tingkat mikro (individu, rumahtangga) maupun di tingkat makro (daerah dan nasional) akan lebih terjaga.

Selain dua pihak sebagaimana disebutkan di atas, pihak berikutnya yang tidak kalah penting dalam upaya meredam inflasi adalah pelaku usaha. Pelaku usaha secara kolektif juga dituntut untuk memiliki kesadaran dan tanggungjawab terhadap keberlangsungan ekonomi di suatu wilayah. Penting menjadi sebuah kesadaran kolektif bagi setiap pelaku usaha bahwa berlaku curang meskipun menguntungkan misalnya dengan melakukan penimbunan barang guna menciptakan kelangkaan, sehingga dengan mudah memainkan harga barang sesukanya agar memperoleh keuntungan yang berlipat, pada prinsipnya hanya akan menciptakan keuntungan sesaat, karena secara jangka panjang, jika dibiarkan berlarut, maka cepat atau lambat pembangunan ekonomi akan terhambat dan bahkan stagnan. Yang merugi pada akhirnya adalah pelaku usaha itu sendiri.

Menutup ulasan ini, dengan menyinggung kembali judul tulisan di atas, bisakah siklus inflasi Ramadhan diredam? Jawabannya adalah “Bisa”, jika setidaknya ketiga pihak yang dianggap memiliki peran dalam upaya mengendalikan inflasi bisa bekerjasama dan saling bersinergi, sehingga tercipta lingkungan ekonomi yang baik dimana meskipun inflasi terjadi secara fluktuafif, tetapi masih terkendali. Terkendali dalam arti bahwa inflasi terjaga di tingkat moderat, inflasi yang ‘bermartabat’ yang tidak membuat melarat, dan inflasi yang secara ekonomi maupun secara psikologi bisa diterima semua kalangan dan pelaku ekonomi. Semoga!.(***).

Related posts