Shaum Ramadhan Bentuk Mensyukuri Nikmat Sehat

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi

Assalamualaikum, Wr. Wb
Sepekan sudah kita melalui Ramadhan bulan penuh rahmat ini. Alhamdulillah hari ini kita sudah memasuki pekan kedua Ramadhan 1438 Hijriyah. Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah, memiliki banyak keutamaan. Bulan dimana pintu ampunan terbuka lebar, maka sudah seharusnya setiap muslim berbahagia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesehatan, sehingga kita bisa menjalankan ibadah puasa sampai tibanya hari Fitri nanti.
Allah SWT berfirman, “Dan Jika kamu menghitung nikmat Allah, tidak lah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [TQS. Ibrahim: 34].
Bulan suci Ramadhan memang penuh dengan rahmat Allah. Namun itu berlaku bagi kaum mu’min yang mensyukuri nikmat-Nya. Ada sebuah fakta yang mungkin banyak pula dialami oleh muslim lainnya. Seperti seorang guru yang sudah bertahun-tahun sakit maag akut, ternyata sembuh saat berpuasa Rhamadan.
Sebelumnya, sang guru tersebut dilarang telat makan dan diperintahkan untuk makan teratur guna menjaga agar lambungnya tidak semakin sakit. Kemudian, ketika akan memasuki bulan suci Ramadhan, sang guru pun diperingatkan oleh dokter untuk tidak berpuasa karena bisa mengancam nyawanya.
Tapi kemudian sang guru tanpa memperdulikan ucapan dokter tersebut, tetap menunaikan kewajibannya kepada Allah SWT yaitu menunaikan shaum di bulan Ramadhan. Sang guru itu harus menahan lapar dan haus sekitar 14 jam lamanya setiap hari selama 1 bulan penuh.
Namun apa yang terjadi, setelah Idul Fitri, sang guru kembali memeriksa perkembangan kesehatan lambungnya. Dan ternyata guru itu dinyatakan sehat oleh dokter yang dikira karena perawatan dengan minum obat rutin dan makan teratur hingga tidak berpuasa siang harinya. Padahal, shaum Ramadhan telah membuat sang guru makan lebih teratur yaitu ketika berbuka dan sahur yang menyebabkan kerja lambung lebih efektif ditambah dengan minum obat yang telah diresep dokter. Alhamdulillah, rasa syukur sang guru, keluarganya dan murid-muridnya di sekolah atas kesehatan sang guru pun begitu suka cita.
Dengan kenyataan itu patutlah kita langsung teringat dengan firman Allah yang diulang-ulang hingga 31 kali dalam surat Arrahman, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”

Menghitung Nikmat Allah
Bila kita hitung-hitung, memang mustahil kita bisa menghitung nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Rezeki berupa penghasilan yang kita terima hingga bisa mencukupi kebutuhan hidup setiap hari sepanjang tahun, adalah nikmat yang sudah tak terhingga yang Allah berikan. Kemudahan yang Allah berikan dalam setiap urusan kita juga merupakan nikmat yang sering kita lupakan. Atau keluarga yang harmonis serta anak-anak yang shalih-shalihah hingga mudah mengurusnya, merupakan nikmat yang pantas kita syukuri.
Sungguh, nikmat-nikmat tersebut merupakan nikmat yang tak bisa kita hitung dan kita ukur. Begitu besar kasih sayang Allah kepada kaum muslim, Allah yang memberi nikmat dan bila umat-Nya bersyukur akan diganti dengan pahala berlimpah dan syurga yang seluas langit dan bumi. Disana Allah beri dengan kenikmatan yang tiada taranya bila dibandingkan dengan nikmat dunia yang telah kita terima.
Sungguh benarlah Allah SWT yang telah berfirman, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [TQS. An-Nahl: 18].

Deposit Nikmat Sehat
Kita ambil satu contoh mencoba mensyukuri nikmat sehat, tentu ternyata kita ini sangat kaya raya. Lihatlah, betapa kita kaya telah diberikan kesehatan dan anggota tubuh yang sehat. Betapa banyak orang yang hanya untuk mengobati sakit matanya saja, harus mengeluarkan dana hingga puluhan juta. Atau tetangga kita yang untuk mengobati kakinya yang lumpuh harus mengeluarkan dana hingga miliaran rupiah. Itupun ternyata tak membuat kakinya bisa berfungsi normal sebagaimana kita saat ini. Betapa besar rezeki yang kita terima dari yang Maha Pemberi Rezeki hingga kita tak perlu mengobati anggota tubuh kita yang ternyata bisa bernilai miliaran rupiah untuk satu anggota tubuh saja agar tetap sehat.
Rasakan juga betapa nikmatnya memiliki anggota tubuh yang sempurna, tiada pantas mengeluh atau pun meratap. Seseorang yang diberikan anggota tubuh yang tak sempurna sejak lahir, bagaimana mereka ingin membuat seolah normal saja mereka harus mengeluarkan rupiah hingga ratusan juta rupiah. Lihatlah mereka yang telah mengeluarkan dana begitu besar, ternyata tak membuat senormal kita yang telah tercipta normal sejak lahir. Sungguh kita diberikan kekayaan dengan sehat dan anggota tubuh yang lengkap dan terlahir normal.
Kita pun tak perlu berkecil hati, diberikan sedikit kekurangan dalam hal nikmat kelengkapan anggota tubuh. Bisa jadi itu agar kita mensyukuri besarnya nikmat yang telah diberikan kepada kita melalui kelengkapan anggota tubuh lainnya. Atau kita diberi kesehatan dan kemurahan rezeki dengan anak-anak yang menyenangkan hati. Seperti kita diberi sakit dengan tangan yang luka teriris, sungguh yang tak teriris dan diberi nikmat jauh lebih besar. Mulut, kaki, tangan, telinga dan anggota tubuh lainnya ternyata sehat yang tak terhingga nikmatnya yang tak bisa kita hitung-hitung.

Baca Lainnya

Khatimah
Begitu besarnya kasih sayang yang Allah berikan kepada kita, harusnya bisa kita syukuri dengan beribadah kepada Allah. Umat paling mulia, beliau kekasih Allah baginda Nabi Besar Muhammad SAW ketika ditanya mengapa begitu banyak ibadahnya hingga membuat kakinya bengkak, padahal beliau sudah dijamin Syurga. Apa jawab beliau? Jawaban beliau sungguh mengagetkan istri tercinta Siti Aisyah ra, bahwa ibadah itu sebagai wujud rasa syukur kepada Penciptanya. Jika sang Rasul yang mulia begitu banyak mensyukuri nikmatnya selain dengan ucapan kalimah toybah, beliau juga melakukannya dengan meningkatkan ibadah hingga jauh melampaui ibadah-ibadah muslim lainnya.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita yang tak ma’sum, belajar dari Sang Tauladan bagaimana mensyukuri nikmat Allah. Yaitu banyak beristighfar serta meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah. Khususnya di bulan Ramadhan, bulan yang dimana akan dilipat-gandakan pahala. Kemudian kita lanjutkan secara istiqamaha di bulan-bulan setelahnya. Semoga kita bisa melalui bulan suci Ramadhan ini dengan banyak beribadah kepada-Nya dan mencapai predikat muttaqin. Aamiin, Aamiin yaa Rabbal’aalamiin. Allahu’alam bishawab. (MziS)

Related posts