Sesal Ku

No comment 194 views
Sesal Ku,5 / 5 ( 1votes )


Karya : Musda Quraitul Aini
Siswi SMPN 2 Tukak Sadai

Orang tua merupakan sosok terpenting di balik kesuksesan anak-anaknya. Ia selalu memberikan kasih sayang yang tak terhingga kepada anak-anaknya. Selain itu orang tua juga akan memotivasi ataupun mendorong anaknya agar mereka dapat melampaui dirinya. Segala yang dilakukan oleh orang tua semata-mata hanyalah untuk kebahagiaan anak-anaknya. Tak hanya kepada anaknya saja, seluruh orang tua di dunia ini juga sangat menyayangi seorang cucu dari anaknya. Ia akan merasa sangat bahagia bila mendapatkannya apalagi sampai bisa menggendong cucunya tersebut. Namun, bagaimana jika seorang kakek tidak pernah diakui oleh cucunya sendiri, masihkah ia akan menyayanginya?Malam itu udara sangat dingin, di luar sana hujan mengguyur sangat lebat. Beberapa kali terdengar suara petir menyambar. Maklum saja, saat itu memang sudah masuk pada musim penghujan. Aku beserta keluargaku sedang berkumpul di ruangan keluarga. Aku asyik memainkan smartphoneyang ada digenggamanku, ayah dan ibuku sedang santai sembari menonton acara televisi kesukaan mereka, sudah lama aku tidak melihat kedua orang tuaku santai bersama seperti itu. Ayahku seorang pengusaha proferty, profesi itu mengharuskannya untuk meninggalkan kami jika calon pembeli yang berasal dari luar kota ingin bertemu. Sementara adikku mengerjakan PR matematika yang diberikan pagi tadi. Wajah adikku tampak serius menatap lembaran-lembaran soal, tangannya tak berhenti mencoret-coret kertas putih yang ada di hadapannya.Terdengar suara handphone berbunyi, ternyata suara itu berasal dari handphone ayahku. Tertera nama Sulastri di layar hp-nya.“Assalamualaikum, ada apa dek?” kata ayah mengawali pembicaraan.Wajah ayahku tampak serius mendengarkan suara di telepon.“Baik dek, besok aku akan kesana.” Ucap ayah mengakhiri.Ayahku lalu bergegas masuk ke dalam kamar, dibelakangnya ibuku mengikuti. Aku penasaran mengapa ayahku begitu serius mendengarkan suara di telepon tadi. Namun, aku beranggapan bahwa yang menelepon tadi adalah calon pembeli property yang ingin bertemu dengan ayahku.****Keesokan harinya, aku baru pulang dari sekolah. Aku bergegas memasuki rumah. Saat itu, aku sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Ku lihat tak ada seorang pun di rumah. Jam dinding menunjukkan waktu setengah dua siang. Aku berpikir jika ayahku pasti menemui calon pembeli property-nya yang menelepon tadi malam, kalau adikku pasti ia lagi mengikuti pelajaran tambahan di sekolahnya. Sementara ibuku, aku memanggil-manggilnya namun tak ada jawaban, ku mencari ke seluruh seluk beluk rumah, namun ibuku tetap tidak ada. Pasti ibuku pergi ke supermaket, mengingat tadi pagi ia sedang merinci segala kebutuhan di rumah kami. Pikirku dalam hati.Tak berapa lama, ayah dan ibuku tiba di rumah. Mereka pulang bersama lelaki tua. Aku tak mengenalnya, belum pernah melihat lelaki tua itu sebelumnya. Aku beranggapan ia merupakan tukang kebun baru rumah kami. Lelaki tua itu memakai pakaian yang lusuh serta memakai kopiah hitam di kepalanya. Tampaknya lelaki itu berasal dari desa. Ayahku mengatakan bahwa lelaki tua itu adalah kakekku. Aku kaget mendengar hal itu. Memang sejak SD sampai saat ini aku belum pernah bertemu kakekku. Tapi aku tidak menyangka lelaki tua desa ini adalah kakekku. Aku kesal mengetahui kenyataan itu. Bagaimana jika teman-temanku tahu bahwa kakekku berasal dari desa. Aku pasti akan sangat malu. Ibuku menjelaskan bahwa kakekku selama ini tinggal di desa bersama adik perempuan ayahku. Dulu, ketika aku dan keluargaku belum tinggal di rumah ini. Kami tinggal bersama kakekku di desa. Kata ibuku, ketika aku masih kecil, aku sering digendong oleh kakekku, diriku sangat senang bila digendong kakekku. Lalu ketika ayahku mendapatkan pekerjaan di perusahaan property, kami sekeluarga pindah ke kota sampai saat ini.“Tidak… lelaki tua ini bukan kakekku” kataku sembari masuk ke kamarku.“Mira!!” kata ayahku.Ayahku ingin mengejarku. Namun tangan kakek mencegahnya.“Biarkanlah, anakmu. Mungkin ia butuh waktu untuk menerimaku sebagai kakeknya. Ayah tidak apa-apa nak” kata lelaki tua itu.Sejak saat itu, ayah dan ibuku selalu berusaha menjelaskan bahwa lelaki tua itu memang benar adalah kakekku, namun aku masih tetap tidak mau menerimanya sebagai kakekku. Aku malu jika teman-temanku sampai tahu lelaki tua itu merupakan kakekku.Sampai suatu saat, kakekku jatuh sakit. Ayah dan ibuku sangat khawatir dengan keadaan kakekku yang semakin memburuk. Akhirnya ayahku membawanya ke rumah sakit, untuk memeriksakan kesehatan kakekku. Dokter mengatakan bahwa kakekku terkena serangan jantung dan bagian kanan tubuhnya tak berfungsi lagi. Ia tak dapat menggerakkan anggota tubuhnya sebelah kanan. Selama beberapa hari, kakeku dirawat di rumah sakit. Ayah, ibu serta adikku sempat beberapa kali menjenguk kakek. Tapi aku tak pernah. Setiap diajak orang tuaku, aku selalu beralasan ada tugas sekolah yang harus segera diselesaikan.****Suatu hari, aku baru pulang dari sekolah. Tak biasanya hari itu sangat panas. Baju seragamku sampai basah dengan keringat. Maklum saja, aku pulang dengan kendaraan umum. Ayah bilang tak bisa menjemputku karena ia ingin menjemput kakek dari rumah sakit. Hari itu, kakek telah diperbolehkan pulang oleh dokter yang memeriksanya. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju ke kamar mandi. Aku sudah tidak betah dengan bau keringat yang ada tubuhku.Jam dinding menunjukkan pukul 4 sore, namun ayah belum pulang juga. Aku pun memutuskan untuk menonton tv sembari memainkan smartphone-ku. Terdengar orang membuka pintu, rupanya itu orangtuaku. Terlihat ayahku mendorong kursi roda, sakit stroke yang diderita kakekku mengharuskan ia menggunakan itu. Sementara itu, ibuku dan adikku terlihat sedang membawa barang-barang kakekku selama di rumah sakit. “Mira… tolong ambilkan kakek minum” kata ayah. Namun, Mira hanya diam saja. “Mira!!!” kali ini ayah meminta dengan suara lebih keras.“haduhh… Ayah, Mira sedang menonton televisi. Suruh saja adik, dia lagi ada di dapur.”kata mira membantah. “Aku pun enggak mau mengambilkan minum buat kakek tua itu”lanjutnya.“ya allah”lirih kakek. Tampak kesedihan di wajah senjanya yang telah dipenuhi kerutan.Tak terasa setetes air mata jatuh di pipi kempotnya. Ia tidak percaya bahwa cucunya sendiri yang mengatakan itu. Apa salah diriku kepadanya, sampai-sampai ia bersikap seperti itu. Pikirnya dalam hati. Mira tidak mempedulikan kakeknya yang sedang mengidap penyakit jantung dan stroke yangmengakibatkan bagian tubuh sebelah kanantidak bisa digerakkan kembali.“Ayah,, Mira mau pergi sama teman-teman” pamit Mira.“Mira…cium tangan kakekmu dulu”kata ayah.“haduhh… Mira enggak ada waktu lagi, Yah! Teman Mira sudah ada di di depan. Kalau enggak cepat, Mira bisa terlambat, Yah!” ucap Mira sambil berlalu melangkah keluar.“Pah… maafkan Mira ya!!” kata ayah.Kakek pun hanya tersenyum mendengarnya.Namun senyuman itu tak dapat menyembunyikan rasa kekecewaan yang dirasakan terhadap cucunya. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke desa. Ia beranggapan bahwa cucunya itu tidak senang dengan kehadiran dirinya di rumah itu. Tapi Ia yakin, suatu saat nanti cucunya itu dapat menerimanya sebagai kakeknya.****“kriing…kriing…kriing…” telepon berdering.Mira yang berada dekat dengan telepon itu, tak menghiraukannya. Ia masih tetap saja asyik memainkan smartphone yang ada di genggamannya.“Mira tolong angkat telponnya, Nak” pinta ibunya.“haduhh,, Mah.aku lagi main hp, mama aja yang angkat”Ibupun mengangkat telpon.“Haloo… Assalamualaikum,aaa…apa?” Mama kaget dan menjatuhkan gagang telepon.“kenapa mah?”tanya Mira“Ada apa, Mah?” tanya ayah.“Ayah, Pah. Ayah meninggal”mamapun terduduk lemas sambil menangis, papa sangat shock mendengar perkataan mama.“Mira…cepat siap-siap. Kita akan pergi” kata papa.“baik pah”kata mira takut.Mata Mira mulai berkaca-kaca. Teringat kelakuan kelakuan dirinya kepada kakeknya. Ada penyesalan yang sangat besar di hatinya. Sementara itu, mama dan papa hanya bisa diam sambil membacakan ayat suci untuk kakek. Tak sengaja Mira menemukan sebuah foto di sebuah buku milik kakeknya. Foto itu sangat usang. Mira mengambil dan menatap foto itu dengan serius. Ternyata itu adalah foto masa kecilnya yang digendong oleh kakeknya. Mereka tampak senang. Tak terasa air matanya tak terbendung lagi di matanya hingga akhirnya menetes di pipi. Lelaki tua yang selama ini ia benci, tetap menyayanginya sampai di akhir usianya. Mira menyesalkan kejadian yang sudah terjadi, saat dirinya tidak mempedulikan kakeknya sendiri yang sebenarnya sangat sayang kepadanya. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi dan tak bisa di ulangi lagi.“Kek maafkan aku, Kek!!Semoga kakek bisa tenang di sana.sekali lagi maafkan aku, kek!!” tangis Mira.Sadai, 29 Juni 2017 ****

No Response

Leave a reply "Sesal Ku"