by

Sesal Hati Lelaki Tua

Karya: Rusmin

Lelaki tua itu termangu. Tatapan matanya kosong menyaksikan malam yang makin tua. Bintang-bintang di langit tak berkelip. Demikian pula dengan sinar rembulan. Gelapkan bumi. Segelap hatinya lara sebagai seorang tua yang mestinya amat bijaksana dalam bertindak.
Lelaki tua itu menghela nafas panjang. Sepanjang perjalanan hidupnya yang kini telah menginjak usia tua, semestinya sangat bijaksana dalam mengambil keputusan. Lelaki tua itu menelan ludah hingga masuk ke tenggorokan tuanya yang mulai rentan dengan segala serangan penyakit yang datang menghantam tubuh kurusnya.
Lelaki tua itu sama sekali tidak percaya. Ya, tidak percaya sama sekali. Menarasikan stigma anaknya kepada saudaranya membuatnya harus menyendiri. Menceritakan aib anaknya membuatnya kini terdiam dalam kesendiriannya. Dia tak menyangka, narasinya harus berbuah derita. Saudaranya pun kini meninggalkannya. Tak terkecualii anaknya. Dia tak menyangka kolaborasi jahat dari saudaranya kepada putranya membuat derita yang amat luar biasa mendera jiwanya.
“Kakak harus menekan anakmu biar dia jera,” usul seorang saudaranya.
“Iya. Kakak kan ayahnya. Jangan biarkan dia merajalela,” sambung saudaranya yang lain.
Lelaki tua itu emosi. Naik pitam. Darah tuanya seolah membakar tubuh kurusnya. Dia sebagai seorang ayah terpedaya. Dan…
___

Lelaki tua itu masih sendiri dan tetap menyendiri dalam kesendirian jiwa. Tak ada yang peduli. Tak ada yang bersimpati. Semua meninggalkannya hingga dia terjerumus dalam kesendirian abadi. Termasuk saudara-saudaranya yang kini emoh menemuinya dan tak mau ditemuinya. Padahal dulunya merekalah orang yang paling gigih memberikan solusi buat dirinya menghadapi aksi nakal anaknya. Mereka, para saudaranya dengan segala pikiran jahatnya menuangkan gagasan kepada dirinya agar bertindak terhadap anaknya yang nakal dan menyimpang dari etika hidup di masyarakat.
“Perilaku anakmu itu sudah keterlaluan dan memalukan kehormatan keluarga kita,” ujar adiknya.
“Benar sekali. Jangan mentang-mentang dekat dengan kekuasaan lalu petantang petenteng tak tahu etika hidup,” sambung adiknya yang lain.
“Kakak harus bertindak sebelum semuanya terjadi,” sahut yang lain.
Lelaki tua itu tersulut emosi jiwanya. Dia mencakar langit. Anaknya pun terkulai dimakan narasi penghuni malam yang tajam menghujam jantungnya, hingga darahnya berceceran sepanjang jalan dan masa. Lelaki tua itu merasa puas.
____

Lelaki tua itu masih tetap sendiri menatap alam. Tak ada teman. Apalagi kedatangan anaknya yang telah terluka jiwanya. Dia sebagai orang tua mulai menikmati produknya. Dia sebagai orang tua mulai menikmati hasil narasinya yang menggemakan alam. Dijauhi anaknya saat dirinya mulai renta.
Sementara saudara-saudaranya mulai menjauh. Entah kemana. Tak terlihat batang hidungnya lagi. Apalagi saran pemikiran yang dulu pernah mereka sumbangkan buatnya hingga tega menarasikan aib anaknya ke segala penjuru alam tanpa malu sebagai seorang ayah. Seoang ayah yang seharusnya melindungi anaknya dari serangan hidup dengan kasih sayang.
“Aku bersalah,” desisnya dalam hati.
“Aku memang orang tua yang bejat berhati iblis,” suara hatinya kembali berdesis.
Alam hening. Sepi. Angin pun tak berdesis. Dikejauhan suara azan subuh mulai terdengar. Syahdu sekali. Religiuskan alam. Sakralkan nurani para penghuninya.
Air matanya menetes hingga membasahi bumi yang kering kerontang. Semuanya tak menolong. Tak menolong sama sekali. Derasnya kucuran air mata hanya membanjiri makam anaknya yang kini kekal bersama Sang Pencipta. Sementara dirinya terus hidup dalam kesendirian hingga menunggu ajal datang dengan sejuta kelaraan hati yang berbalut penyesalan tiada tara. Nan terus menyerang jiwa, nurani dan raga tanpa malu hingga maut menjemputnya tiba. (***)

Comment

BERITA TERBARU