Seruput Kopi, Sejuta Kawan dan Inspirasi

No comment 370 views

Oleh Dedy Irawan/Wartawan Rakyat Pos

Pagi itu seperti biasa jadwal proyeksi redaksi sudah menumpuk di grup Whats App. Proyeksi mulai dari isu sosia, politik hingga perkembangan kasus kriminal. Usai melakoni diri sebagai ayah yakni mengantar anak ke sekolah serta membantu pekerjaan sang ratu, penulis biasanya mampir dulu ke warung kopi sekadar menyeruput kopi susu sebelum memulai pekerjaan. Sebenarnya menyeruput kopi adalah kegemaran yang belum begitu lama penulis lakukan. Baru sejak beberapa tahun ini saya lakoni. Namun sejak dimutasi ke Bumi Junjung Besaoh, kebiasaan menyeruput kopi kian jadi.
Toboali, Selatan Pulau Bangka adalah salah satu ibu kota kabupaten dengan berjuta penikmat kopi. Wajar saja, sedikitnya 10 warung kopi yang siap menyajikan air hitam pahit ini dengan vareasi rasa. Di warung kopi pun terdapat segmen pasar yang berbeda meski kopi merupakan minuman favorit dari semua kalangan. Sebut saja seperti di Warung Kopi Ajang, Cukin, Aliong Simpang Teladan, Warkop Angim, Kopi Tiam 88 (Warkop Literasi), Wendy Caffe, Kopi 86, dan Kedai Penikmat Kopi atau yang disiangkat KPK, kesemua warkop tersebut memiliki pelanggan setia yang berbeda usia.
Dari kesemua warung kopi tersebut, penulis harus akui salah satunya terdapat warkop yang menjadi idola karena cita rasanya yang benar-benar segar di lidah. Penulis sering menyebutnya kepada teman-teman kuli pena “Lagi di Warkop Tertua di Dunia Akhirat” canda penulis di grup WA. Obrolan santai hingga serius semuanya ada di warung kopi. Tak Jarang sumber informasi hingga menjadi berita headline pun berawal dari sebuah warung kopi. Bahkan tak sedikit kalanganya menyebut warung kopi adalah tempat sejuta teman dan seribu informasi dan inspirasi.
Di beberapa daerah seperti di Belitung Timur dengan sebutan Kota 1001 Warung Kopi, sudah menjadi branding yang menunjang sektor pariwisatanya. Para pecandu kopi tentu tak ingin melewatkan tempat ini saat melancong ke Kota Manggar Belitung Timur. Ya, Meski bukan penghasil kopi namun masyarakat Bangka Belitung cukup menggilai minuman beraroma khas ini. Berbicara sejarah, historical kopi di Indonesia dimulai pada tahun 1696 ketika Belanda membawa kopi dari Malabar, India, ke Jawa. Mereka membudidayakan tanaman kopi tersebut di Kedawung, sebuah perkebunan yang terletak dekat Batavia. Namun upaya ini gagal kerena tanaman tersebut rusak oleh gempa bumi dan banjir.
Upaya kedua dilakukan pada tahun 1699 dengan mendatangkan stek pohon kopi dari Malabar. Pada tahun 1706 sampel kopi yang dihasilkan dari tanaman di Jawa dikirim ke negeri Belanda untuk diteliti di Kebun Raya Amsterdam. Hasilnya sukses besar, kopi yang dihasilkan memiliki kualitas yang sangat baik. Selanjutnya tanaman kopi ini dijadikan bibit bagi seluruh perkebunan yang dikembangkan di Indonesia. Belanda pun memperluas areal budidaya kopi ke Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.
Pada tahun 1878 terjadi tragedi yang memilukan. Hampir seluruh perkebunan kopi yang ada di Indonesia terutama di dataran rendah rusak terserang penyakit karat daun atau Hemileia vastatrix (HV). Kala itu semua tanaman kopi yang ada di Indonesia merupakan jenis Arabika (Coffea arabica). Untuk menanggulanginya, Belanda mendatangkan spesies kopi liberika (Coffea liberica) yang diperkirakan lebih tahan terhadap penyakit karat daun. Sampai beberapa tahun lamanya, kopi liberika menggantikan kopi arabika di perkebunan dataran rendah.
Di pasar Eropa kopi liberika saat itu dihargai sama dengan arabika. Namun rupanya tanaman kopi liberika juga mengalami hal yang sama, rusak terserang karat daun. Kemudian pada tahun 1907 Belanda mendatangkan spesies lain yakni kopi robusta (Coffea canephora). Usaha kali ini berhasil, hingga saat ini perkebunan-perkebunan kopi robusta yang ada di dataran rendah bisa bertahan. Pasca kemerdekaan Indonesia tahun 1945, seluruh perkebunan kopi Belanda yang ada di Indonesia di nasionalisasi. Sejak itu Belanda tidak lagi menjadi pemasok kopi dunia (dikutip dari jurnalbumi).
Sejarah kopi mungkin terasa tak begitu penting bagi kita, namun yang utama adalah bagaimana dengan menyeruput kopi, kita bisa menikmati rasanya serta mengambil sejuta manfaat di sana. Sebut saja, sebagai perekat silaturahmi, bertemu kawan baru dan tak kalah pentingnya mendapatkan informasi baru yang mungkin menjadi peluang bisnis hingga pemasukan lainnya. Warung kopi kadang kala seperti rumah kedua. Tak jarang penulis menyelesaikan sebuah berita di warung kopi. Hmm, menyeruput kopi memang tak membedakan kasta. Sering kali penulis bertemu pejabat mulai dari Gubenur, Bupati, Kapolres hingga kuli harian di warung kopi. Ya semuanya bercampur baur di sana hanya untuk segelas si hitam manis itu.
Ngopi memang ngangenin, sehari tak menyeruput kopi rasanya kurang pas. Bagi penggila kopi, dalam sehari mungkin bisa lebih dari tiga gelas. Minum kopi berlebihan memang tak baik bagi tubuh. Tapi kadang kala suasana yang membuat kita ingin terus menyeruput dan menyeruput kopi. Nongkrong di warung kopi memang begitu mengasyikan, ada sejuta kawan dan seribu inspirasi di sana. Ngupi Yuk Bro..!

No Response

Leave a reply "Seruput Kopi, Sejuta Kawan dan Inspirasi"