Serunya Menyusuri Mangrove Sungai Kepoh

No comment 605 views


Wartawan harian ini beserta dua media lokal dan tim Humas Protokol Setda Basel didampingi Kades Kepoh ketika mengeksplor hutan mangrove dengan menyusuri Sungai Kepoh. (Foto: Dedi Irawan)

Desa Kepoh. Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, ternyata kaya akan potensi bahari. Desa yang terletak di sebelah timur Kota Toboali ini juga memiliki keindahan alam hutan mangrove yang tumbuh di sepanjang sungai menembus muara laut Kepoh.
Tak hanya itu, sejumlah potensi perikanan, mulai dari udang super, ikan kakap, serta kepiting mangrove pun dimiliki desa yang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit saja dari Toboali. Sementara di bagian hulu sungai, menjadi surga bagi para angler memburu udang gala dan ikan toman. Di kawasan hutan pun masih terdapat beragam jenis binatang, seperti rusa dan kancil.
Sabtu (22/4/2017) akhir pekan kemarin, wartawan harian ini bersama dua media lokal beserta Tim Humas dan Protokol Setda Bangka Selatan (kami-red), berkesempatan menikmati indahnya hutan mangrove Sungai Kepoh Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan.
Sungai sepanjang 5 kilometer itu, kami telusuri panoramanya menggunakan perahu kecil dengan panjang 6 meter dan lebar 1 meter milik Bely, nelayan setempat. Didampingi Kepala Desa Kepoh, Udayasa perjalanan kami mengeksplore hutan mangrove dimulai dari dermaga sekitar pukul 11.30 Wib.
Perjalanan awal kami diawali dengan menikmati hijaunya rerimbunan pohon nipah. Di sungai selebar 15-25 meter ini ditumbuhi beragam jenis pepohonan, mulai dari pohon nyere, gelam, nipah hingga mangrove.
Cuitan suara burung menghiasi perjalanan kami. Begitu juga binatang kera yang berlompatan di pepohonan saat kami melintas. Di sana ada terusan hutan sebelah timur laut Desa Kepoh yang berbatasan langsung dengan Desa Beriga Bangka Tengah. Sementara di sebelah barat laut, hutan mangrove berbatasan dengan Desa Tukak Sadai. Di sungai desa ini juga terdapat buaya. Hanya saja, predator ganas ini jarang sekali muncul dan hanya pada waktu tertentu saja menampakan dirinya.
Lima belas menit perjalanan berselang, rimbunan pohon nipah berganti dengan pohon nyire, gelam serta mangrove. Tampak buah pohon nyire bergantungan. Begitu juga dengan buah pohon nipah tumbuh subur dan bisa dinikmati.
Kami akui, eksplore wisata Bangka Selatan kali ini begitu mengasyikan dengan rerimbunan pepohonan hijau yang masih asri belum tersentuh tangan manusia. Tapi di tengah perjalanan beberapa ratus meter berikutnya, kami menemukan sejumlah pohon gelam yang telah ditebang. Ternyata pohon tersebut akan digunakan nelayan untuk membuat bagan ikan.
Pemerintah Desa Kepoh secara bertahap terus mensosialisasikan kepada masyarakat agar tidak menebang pohon mangrove. Begitu juga dengan penebangan pohon lainnya secara besar-besaran. Terlebih keberadaan mangrove memiliki manfaat yang luas bagi masyarakat. Sedikitnya terdapat lima fungsi hutan mangrove yaitu mencegah intrusi air laut, mencegah erosi dan abrasi pantai, pencegah dan penyaring alami, tempat hidup dan sumber makanan, serta mampu menstabilkan kawasan pesisir.
Tak terasa, dua kilometer perjalanan sudah ditempuh. Pepohonan mangrove kian rimbun. Kamipun beberapa kali berlintasan dengan perahu nelayan yang baru akan melaut dan sebaliknya pulang ke darat. Ada bermacam nelayan di Desa Kepoh, ada nelayan pukat udang, nelayan pancing serta nelayan jaring ikan.
Tak jauh dari muara Sungai Kepoh atau sekitar 2-3 mil laut, tampak nelayan-nelayan menjaring udang. Udang berkualitas super ini dijual seharga Rp80 ribu perkilogramnya. Dalam satu kali melaut nelayan Kepoh bisa mendapatkan 4-5 kilogram udang super berukuran hampir sepanjang telapak tangan orang dewasa. Menurut Kades Kepoh, hutan ini berpotensi sebagai wilayah tambang. Masih ada beberapa tambang rakyat yang nekat menambang di dalam kawasan hutan. Tak jarang limbah air mengalir hingga masuk ke Sungai Kepoh dan membuat air sungai menjadi kotor dan keruh.
Disisi lain, kawasan muara sungai merupakan surga bagi para pemancing ikan kakap putih. Para angler biasanya ber-casting-ria untuk menangkap kakap putih yang terkenal dengan tarikan ganasnya.
Sedangkan pada musim Barat Laut, kawasan hutan mangrove ini menjadi tempat bermain para lebah madu manis. Pada masa ini, menjadi pemasukan tambahan bagi masyarakat Desa Kepoh yang memanen madu dengan rata-rata perhari mendapatkan 5 – 20 liter madu asli. Jika dalam waktu 4 bulan, ditotalnya madu yang berhasil dipanen mencapai 500 liter bahkan lebih. Sementara satu liter madu dijual seharga Rp80 ribu. Setelah hampir satu jam perjalanan menyusuri sungai mangrove Desa Kepoh, kami tiba di muara sungai. Terdapat perahu nelayan yang sedang asyik casting kakap putih di ujung muara. Nelayan ini beruntung berhasil mendapatkan dua ekor kakap putih ukurang 1-2 kilogram.
Melihat itu, kami tak menyia-nyiakan waktu dan langsung ikut beraksi memancing. Ada yang casting maupun mancing dasaran, dan ada juga yang tidak. Namun keberuntungan hari itu bukan milik kami. Satu jam memancing, hanya tarikan-tarikan kecil saja yang menghinggapi pancing kami.
Tim humas pun hanya berhasil mendapatkan ikan bedukang dan itupun ukuran kecil. Air yang surut dan tidak jernih, kemungkinan membuat kawanan ikan enggan bermain di lokasi tersebut.
Usai memancing, kami kembali berteduh di ujung sungai menuju muara. Kades Kepoh Udayasa mengungkapkan, di lokasi inilah dirinya bermimpi untuk dibangun semacam saung-saung kecil untuk wisatawan menikmati indahnya rimbunan pohon mangrove. Selain menyusuri sungai dengan pemandangan hutan yang alami, para wisatawan juga dapat menikmati kuliner laut dari Kepoh, mulai dari ikan, udang serta kepiting laut dan bakau. Ia juga bercita-cita akan membuat transportasi khusus bagi wisatawan yang dikelola Bumdes.
“Saya berangan-angan di lokasi ini akan kita bangun semacam saung-saung baik ukuran besar ataupun kecil. Wisatawan setelah menyusuri sungai, istirahat dan singgah di sini, menikmati kuliner Desa Kepoh,” ujarnya.
Wisatawan yang singgah di saung juga menurutnya kelak bisa melanjutkan perjalannya dengan memancing di laut ataupun di muara dengan fishing ground yang telah disediakan.
“Desa Kepoh ini letaknya di ujung, tidak akan ada yang mengunjungi jika tidak dikemas. Potensi wisata sungai mangrove ini saya pikir sangat layak dikembangkan, dan ini nantinya bertahap kita sosialisasikan kepada masyarakat. Karena banyak pemasukan yang akan kita dapatkan dengan banyaknya wisatawan berkunjung ke sini. Saat ini pun setiap minggu para pemancing dari Pangkalpinang pasti ke Sungai Kepoh memancing toman, banyak yang akan diberdayakan jika mimpi ini terwujud,” imbuhnya.
Udayasa berharap Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan dapat menindaklanjuti potensi ini untuk menjadikannya sebagai salah satu kawasan wisata mangrove di Bangka Salatan.
“Harapan kita, Pemkab Basel, begitu juga dengan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dapat turun ke sini, melihat langsung potensi-potensi bahari dan Sungai Kepoh ini. Sungai Kepoh dengan potensi hutan mangrove serta perikananya ini, saya pikir dapat menjadi satu kawasan wisata terbaik di Bangka Selatan dan Bangka Belitung,” pungkasnya. (dedy irawan)

No Response

Leave a reply "Serunya Menyusuri Mangrove Sungai Kepoh"