Sertifikat Layak Nikah, Gubernur: Wajib !

  • Whatsapp

PANGKALPINANG- Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman akan memberlakukan sertifikat layak menikah bagi pasangan yang akan menikah. Menurutnya,
hal ini dilakukan agar dapat menekan angka pernikahan dini di daerah itu yang terbilang cukup tinggi secara nasional.

Tak hanya itu bahaya menikah usia dini juga akan berdampak pada generasi yang dilahirkan berpotensi menimbulkan stunting atau kekurangan asupan gizi dari ibu yang masih belia. Ia menyebutkan, angka pernikahan dini disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor agama, lingkungan, pergaulan dan juga ekonomi.

“Kita ingin menekan angka pernikahan dini dan stunting, karena salah satu sebab stunting adalah menikah muda, saya pernah bertemu dengan pasangan muda, usianya baru 17 tahun tapi sudah punya dua anak, dia menikah ketika kelas 3 SMP karena MBA (hamil di luar nikah-red),” kata Erzaldi kepada wartawan belum lama ini.

Untuk itu, Pemprov Babel bersama dengan Kanwil Kementerian Agama Babel, akan membuat regulasi yang nantinya dikoordinatori oleh Badan Penyelesaian Perkawinan dan Perceraian (BP4) untuk mengeluarkan sertifikat kepada pasangan yang sudah mengikuti pelatihan pra nikah.

“Kira melibatkan penghulu desa, intinya surat izin atau sertifikat sudah melakukan atau menerima sosialisasi pra jikah sudah dilakukan, dak usah nunggu mau nikah baru ikut sosialisasi, yang penting muda-mudi ini diberikan sosialisasi,” kata Erzaldi.

Setelah mengikuti pembekalan pra nikah, dia melanjutkan, peserta baru diberikan sertifikat bahwa mereka memang sudah siap menjadi orangtua. Pembekalan diikuti dari berbagai tingkatan, mulai dari kelurahan selama 8 jam, kecamatan 6 jam dan di kabupaten 4 jam. “Wajib, yang mau nikah wajib punya ini, intinya mereka sudah siap jadi mak jadi pak,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Babel, Etna Estelita menyebutkan usia kawin pertama perempuan di daerah itu sudah mengalami peningkatan dari 19 tahun pada tahun 2015 menjadi 20,8 tahun pada tahun 2018 dan ibu yang melahirkan diusia 15 -19 tahun (ASFR 15 -19 tahun) yang sebelumnya berada diangka 49 pada tahun 2015 (SUPAS 2015), menjadi 34 pada tahun 2018 (SKAP 2018).

“Artinya ini ada perubahan ke arah yang lebih baik, kami selalu mendorong dan mensosialisasikan kepada generasi muda untuk merencanakan kehidupan berkeluarga, agar mereka mendapatkan pengetahuan yang cukup,” kata Etna belum lama ini.

Usia yang layak menikah bagi perempuan adalah minimal 21 tahun, dan laki-laki 25 tahun, pada usia ini sudah memasuki fase yang layak untuk menikah demikian juga dari sisi reproduksi, sudah cukup matang.

“Kalau dia masih belum cukup usia, ketika hamil, anaknya berisiko stunting, makanya kita edukasi generasi muda, agar jangan mau nikah muda, bahkan mereka deklarasi bahwa tidak akan menikah usia muda,” bebernya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3ACSKB) Babel, Susanti mengajak seluruh stakeholder terkait untuk menekan angka pernikahan dini ini, mulai dari keluarga, lingkungan, hingga pihak terkait lainnya.

“Kita provinsi pernikahan anak terbesar, bukan nilai yang membanggakan, malu kita, berarti anak-anak kita kegatel (genit-red). Harus dipantau Hp nya anak-anak, jangan dibiarkan, bahaya, makanya semuanya harus terlibat, terutama keluarga, bekali anak-anak dengan landasan agama yang kuat,” katanya. (nov/10)

Related posts