by

Seperti Hujan Di Bulan November

-Cerpen-301 views

Karya : R Sutandya Yudha Khaidar

Hujan kembali datang pagi ini. Menambah rasa dingin yang menusuk kulit, membuat orang malas untuk bangkit dari lelap. Ah, tidak perlu heran. Ini November, bulan yang tepat bagi hujan untuk datang setiap hari. Seperti kenangan, selalu memaksa untuk diingat tiap kali tetes air hujan jatuh.
Arran merapatkan jaketnya yang dirasa sama sekali tidak menghangatkan tubuhnya. Ia masih bisa merasakan dingin yang terus mencoba masuk. Ah, andai jaket kesayangannya tidak ia tinggalkan di rumah Galang. Hari ini, ia akan mengambilnya.
Bus yang dinaikinya berjalan sangat lambat. Entah waktu yang malas untuk berjalan, atau memang bus yang melambat untuk menghindari kubangan yang muncul setelah hujan.
Beruntung, dalam sepuluh menit kemudian, bus berhenti di halte terdekat. Arran turun dan membenahi penampilannya yang berantakan. Rumah Galang hanya selisih dua blok dari halte. Arran hanya tinggal berjalan kaki. Mungkin itu ide yang cukup bagus, seraya mencium petrichor(Aroma alami yang dihasilkan saat hujan jatuh di tanah kering) dan hitung-hitung berolahraga.
Rumah Galang sudah nampak dari kejauhan. Pagar rumahnya dibiarkan terbuka lebar. Bisa dipastikan Galang sedang ada di rumah. Mungkin masih bermalas-malasan sembari bermain game.
Arran mengetuk pintu rumah Galang. Anehnya, suasana di dalam rumah Galang sedang ramai. Bahkan tidak terdengar suara efek dari game yang dimainkan Galang sepertibiasanya. Tak lama, pintu dibuka oleh seseorang yang pastinya bukan Galang.Arran cukup terkejut untuk sesaat. Seseorang yang sangat dikenalnya. Seseorang yang mampu membuat jantungnya berdebar setiap kali memperhatikannya. Mereka tidak pernah sedekat ini. Tidak pernah.
“Kinar?” ucap Arran spontan. Kinar tersenyum manis. Senyum yang dinantikan Arran tiap kali sedang memperhatikan Kinar. Anggap saja, Kinar adalah orang yang sangat dikagumi oleh Arran. Membuat Arran tidak bisa tidur karena memikirkan Kinar tiap malam.
“Ayo masuk! Galang di dalam.” Kinar membuka pintu lebih lebar. Arran segera masuk ke dalam rumah Galang. Di dalam sudah ada Galang, Evan, dan Mira.
“Eh, Arran! Ada apa ke sini?” tanya Galang yang sedang berbincang dengan Evan. Ia meletakkan gelasnya yang berisikopi khas Bangka yang nikmat.
Arran terdiam sebentar.
“Jaketku ketinggalan.” ujar Arran sambil tersenyum tipis. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tidak ada tanda-tanda jaket tebalnya yang berwarna biru itu.
Galang tampak memikirkan sesuatu dan tersentak.
“Ah, aku letakkan di belakang pintu.” Galang menjentikkan telunjuknya ke arah Kinar yang berada di dekat pintu. “Kinar, tolong ambilkan untuk Arran, ya.”
Galang melirik kecil ke arah Arran dengan nada menggoda. Hanya Galang satu-satunya orang yang mengerti perasaan Arran. Rona muka Arran menjadi campur aduk.
Kinar tersenyum kecil dan meraih jaket yang disampirkan di belakang pintu. Iamenggenggamnya dan menyerahkannya kepada Arran dengan senyum masih tertera di wajahnya yang manis. Sangat terlihat bahwa Arran sangat gugup. Tentu saja, ini adalah pertama kalinya ia dan Kinar melakukan kontak mata. Selama mengagumi Kinar, Arranhanya dapat memperhatikandari jauh. Ia hanya bisa ikut tersenyum saat Kinar tertawa manis, meskipun tawa itu bukan karenanya.
“Makasih.” ucap Arran pendek. Padahal sudah banyak kata yang terngiang di kepalanya untuk diucapkan pada gadis di hadapannya.
Suasana kembali hening di dalam ruang tamu. Sesaat kemudian, keheningan pecah oleh hujan yang kembali menghantam bumi. Rintik hujannya tampak damai, meskipun rela jatuh berkali-kali.
Semuanya saling memandang satu sama lain. Hujan membuat orang susah untuk bergerak ke mana-mana. Meskipun halte dekat dengan rumah Galang, malas rasanya untukmelangkah ke luar.
“Hujan lagi.” desah Galang sebal. Ia melirik Evan, Mira, Arran, dan Kinar bergantian.
“Kalian pulang sekarang?”Evan melirik yang lain. Ia meraih tasnya dan memakai hoodie jaketnya.
“Aku pulang, ya, Lang.” ucap Evan seraya meraih kunci motornya. Mira yang melihat Evan, segera mengambil tasnya.
“Aku ikut, Van!” Mira membuntuti Evan yang sudah keluar dari rumah Galang. Tidak usah mengkhawatirkan mereka berdua. Mereka seperti perangko dan amplop yang tidak bisa dipisahkan.
Kini tinggal Arran dan Kinar yang tersisa. Arran tahu bahwa rumah Kinar searah dengannya dan hanya berjarak satu blok. Setiap hari Minggu pagi, Arran selalu menyempatkan untuk lari pagi dan melewati rumah Kinar. Berharap si empunya rumah keluar untuk menyapanya dan memberi senyum.
“Kinargimana? Pulang bareng Arran?” tanya Galang. Entah itu untuk menggoda atau benar-benar menawari Kinar.
Kinar tersadar dari lamunannya dan memandangi Arran.
“Boleh, Ran? Kamu naik bus, kan?” Kinar memastikan. Sepertinya Kinar tidak pernah tahu bahwa setiap Kinar pulang dari kampus, Arran selalu bersamanya. Di bus, Arran selalu berada di jarak aman, selisih dua kursi dengan Kinar untuk bisa mengamatinya dengan nyaman.
Arran mengangguk, mencoba untuk tetap berwajah datar.
“Ya, udah. Ayo,” ajak Kinar. Mata Arran membulat. Ia kaget dengan ajakan Kinar. Namun, Kinar sudah meraih tasnya di atas sofa dan pamit pada Galang. Mau tak mau, ia juga harus pulang bersama Kinar.
Payung berwarna hitam milik Galang sudah berada di genggaman Arran. Tubuhnya yang tinggi menjadi pelindung untuk Kinar dari hujan. Ini yang menjadi impiannya sejak dulu; melindungi orang yang ia kagumi.
Di bawah hujan, mereka diam membisu. Sesekali air hujan mengenai pakaian mereka. Sehingga mereka harus lebih merapatkan jarak agar tidak terkena air hujan.
Tidak sengaja, lengan Arran mengenai bahu ringkih Kinar. Mereka menjadi semakin canggung dan Arran memberi jarak di antara mereka.
“Ran,” ucap Kinar. Meskipun hilang ditelan hujan, suaranya masih dapat didengar oleh Arran. “Kamu sudah punya pacar, kan, ya?”
Arran menoleh. Ia menahan tawanya.
“Memangnya siapa yang mau sama aku?” jawab Arran.
Tinggal beberapa langkah lagi sampai di halte. Ada bus yang nampaknya baru datang. Mereka berdua mempercepat langkah.Kinar diam sejenak. Ia menyibak rambutnya dan diselipkan ke telinganya. Beberapa helai berjatuhan, menambah kesan manis di wajahnya yang polos.
“Aku kira sudah punya.” Perkataan Kinar membuat Arran tertawa. Tapi, Arran berusaha untuk mengontrol tawanya di hadapan Kinar.
Mereka berdua secara bergantian masuk ke dalam bus. Arran menutup payung dan masuk ke dalam bus. Ia duduk di samping Kinar yang sedang bersandar di kursi bus.
Dalam sepuluh menit, bus sudah penuh. Sopir menjalankan bus dengan pelan, seperti saat mengantar Arran tadi. Arran melirik ke arah Kinar yang sedang memandangi jendela.
“Kinar,” panggil Arran refleks. Kinar yang sedang melamun tidak merespons panggilannya. “Ehm, Kinar.”
Dengan kaget, Kinar menoleh ke arah Arran. Ia tersenyum dan meminta maaf karena tidak mendengar panggilan Arran.
“Apa, Ran?”
“Kamu sudah punya pacar?” tanya Arran. Menurutnya itu pertanyaan yang wajar, sebagai balasan dari pertanyaan yang sebelumnya dilontarkan oleh Kinar.
Kinar tersenyum kecil di balik rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Arran tentu tidak melihat itu.
“Memangnya kenapa?” tanya Kinar, membuat Arran kebingungan. Hujan di luar masih deras. Rasa dingin kembali menyelimuti.
“Aku hanya sekedar bertanya!” Arran cepat-cepat menimpali. Semburat merah di pipinya makin kentara.
“Tidak punya, Ran.” Jawaban Kinar membuat hati Arran lega. Ia menjadi siap untuk menunggu lebih lama lagi.
“Tapi, aku lagi suka sama seseorang” Tambah Kinar.
Sontak Arran yang di dalam hatinya sudah merasa sangat bahagia, kembali mendung seperti suasanahari ini. Pupus sudah harapannya untuk mencoba menjadi bagian dari hari-hariKinar.
“Mau curhat?” Arran menawari. Siapa tahu, meski tidak bisa menjadi seseorang yang membuat Kinar tertawa, tapi ia bisa menjadi tempat Kinar untuk berbagi kisah.
“Tidak, Ran. Tapi, makasih sudah menawari” Kinar tersenyum. Ia mengalihkanpandangannya ke jendela. Hujan masih turun dengan deras. Tidak ada tanda-tanda untuk berhenti jatuh.
Arran menghela nafas. Ini tidak akan pernah selesai. Perjuangannya untuk tetap bertahan dalam mengagumi Kinar tidak akan pernah selesai. Rasanya, belum cukup hari ini ia menghabiskan waktu bersama Kinar. Wajahnya yang manis tetap membayangi.
Arran tahu, bahwa ia tak akan bisa mendapatkan tempat di hati Kinar. Namun, ia tetap bertahan.
Kinar menoleh sebentar ke arah Arran yang sedang bersandar sambil memejamkan mata. Sebersit senyuman kembali menghias wajahnya.Arran tak pernah tahu. Bahwa senyumannya dinantikan oleh Kinar. Arran juga tidak tahu bahwa Kinarsebenarnya selalu memperhatikan Arran saat Arran sedang tidak memperhatikannya.Kinar tidak pernah menceritakan kepada siapapun tentang Arran. Pendapatnya tentang sosok Arran mungkin akan menimbulkan cecaran negatif dari teman-temannya. Namun, Kinar akan tetap mengagumi Arran bagaimanapun caranya.
Keduanya saling mengagumi, namun tak pernah saling tahu. Keduanya saling tersakiti, namun tetap bertahan. Seperti hujan di bulan November yang tetap jatuh berkali-kali meskipun tahu bahwa rasanya sakit.

Comment

BERITA TERBARU