Sepakbola dan Nasionalisme

No comment 238 views

Oleh: Achmad Hudawi,W,S.Pd
Guru Olahraga SMPN 2 Mendo Barat Kabupaten Bangka

Melihat judul di atas terkesan tidak ada hubungan keduanya, sepakbola masuk wilayah olahraga sedangkan nasionalisme tergolong masuk wilayah politik. Tetapi, jangan terlalu cepat memvonis bahwa keduanya tidak ada hubungan, bahkan sebaliknya keduanya mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi. Perlu diketahui, sepakbola mempunyai daya magnet yang kuat menarik wilayah ekonomi dan politik untuk bermain bersama-sama dalam dunia sepakbola. Lihatlah beberapa waktu yang lalu kongres PSSI hampir-hampir gagal digelar sampai-sampai FIFA harus turun tangan untuk mengatasinya. Akibat dari petaka ini, hampir dunia sepakbola nasional jadi korban. Ini suatu contoh kalau dunia sepakbola dibumbui oleh kepentingan politk dan kepentingan golongan.
Sehubungan dengan itu, perlu mejadi catatan bahwa dari kejadian di atas tersirat kesan, politik yang dimainkan dalam dunia sepakbola nasional oleh pihak-pihak terkait yang jauh dari kedewasaan, mereka bermain pada tataran politik untuk kepentingan pribadi dan golongan. Pada tataran wilayah ekonomi, dunia sepakbola memberi daya magnet yang kuat menarik dunia ekonomi untuk bermain bersama-sama guna membangun simbiosis mutualisme. Pernyataan ini, dapat dijelaskan dengan contoh, jika seorang pemain yang berkualitas, maka harga jual pemain tersebut akan tinggi. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antar pemain yang mewakili dunia sepakbola dan harga jual para pemain profesional yang mewakili dunia ekonomi. Begitu juga dengan suatu pertandingan sepakbola yang bermutu, apabila pertandingan tersebut sudah dibeli hak siarannya, maka terjadi proses simbiosis mutualisame antara kepentingan dunia olahraga dengan dunia ekonomi. Dari gambaran yang singkat tersebut jelas terlihat bagaimana dunia sepakbola, dunia ekonomi dan dunia politk membangun simbiosisme mutualisme yang tentunya memberi dampak positif dan negatif bagi ketiganya, tetapi bukan hal ini yang menjadi pembahasan pada tulisan ini.
Dalam sepanjang catatan sejarah pertandingan sepakbola antar klub maupun antar negara telah membangkitkan rasa fanatisme. Kalau pertandingan itu antar klub, maka yang bangkit adalah fanatisme klub, dan kalau pertandingan itu antar negara maka akan bangkit fanatisme nasional yang luar biasa. Kita masih ingat dengan final Piala AFF 11, AFF 2017 dan final Sea Games 2001 antara Indonesia dengan Malaysia, dimana kalau kita lihat bagaimana ulah suporter Indonesia dalam menunjukan rasa nasionalismenya sangat luar biasa. Dari Sabang sampai Merauke mereka berteriak dalam satu teriakan yang membangkitkan semangat nasionalisme, mereka berpakaian dan beratribut bernafaskan merah putih, inilah satu fenomena psikis anak bangsa dalam mengekspresikan jiwa nasionalisme yang diaplikasikan melalui sepakbola. Tentunya fenomena ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya Pertama, sepakbola merupakan permainan lintas sektoral. Artinya, dalam sebuah tim tidak mengenal suku, ras dan sebagainya. Sebagai gambaran dalam sebuah tim nasional siapa saja bisa masuk menjadi anggota skuad tim merah putih asal memenuhi syarat kompetensi yang telah ditetapkan oleh PSSI. Dengan kondisi seperti ini, otomatis para pemain sepakbola yang berada diwilayah kesatuan republik ini, dapat berkompetisi tanpa memandang suku, ras dan yang lainnya. Dengan kondisi seperti ini, maka tim nasional milik bersama rakyat Indonesia.
Kedua, pertandingan sepakbola merupakan ajang kompetisi, setiap kompetisi tentunya berakhir dengan kemenangan atau kekalahan. Kalau kemenangan yang diperoleh, maka akan timbul kegembiraan dan kebanggaan. Tetapi, kalau sebaliknya kekalahan yang dialami akan timbul kesedihan dan kekecewaan. Untuk menggapai kemenangan tidak hanya ditentukan oleh faktor teknis saja, tetapi juga ditentukan oleh banyak faktor. Untuk faktor non teknis secara tidak langsung akan mempengaruhi penampilan suatu tim yang akan bermuara pada hasil akhir dari suatu pertandingan. Untuk menggapai kemenangan perlu adanya dukungan maksimal dari faktor non teknis ini, yaitu salah satunya dukungan suporter, sehingga kalau kita lihat berbagai macam bentuk tingkah laku para suporter untuk mendukung tim kesayangannya diwujudkannya dalam berbagai hal, misalnya dalam hal berpakaian serta berbagai atribut yang dikenakannya. Sehubungan dengan membangkitkan semangat nasionalisme biasanya para suporter menggunakan pakaian dan atrbut-atribut yang menunjukan kebanggaan terhadap bangsa dan negaranya.
Ketiga, pada level tertentu, di tingkat psikis, seseorang apabila masih mempunyai suatu hubungan dengan dirinya, maka secara otomatis faktor psikis atau kejiwaan orang tersebut akan memberi respon terhadap gelombang pengaruh tersebut. Begitu juga dengan kehadiran tim merah putih, yang mana tim ini mempunyai hubungan kepada seluruh masyarakat Indonesia yaitu hubungan persaudaraan, satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air (hisbul wathon). Dengan hubungan inilah ada semacam ikatan batin antara suporter dengan para pemain. Faktor inilah yang menggerakan unsur psikis para suporter untuk mengekspresikan dukungan nasionalimenya kepada tim merah putih. Keempat, kekalahan dalam suatu pertandingan adalah sesuatu yang tidak dikehendaki, sebab dalam kekalahan tersebut tersirat unsur psikis yang bernama gengsi. Sehubungan dengan inilah demi menjaga gengsi bangsa ini, para suporter sekuat dan semampunya memberi dukungan kepada tim merah putih, inilah salah satu faktor magnet psikis yang mampu bermain dalam tataran wilayah politk.
Kelima, sisi lain dari gerakan fanatisme nasional yang dipertontonkan para suporter tim merah putih seolah mereka ingin menyampaikan pesan kepada bangsa ini, bahwa kami bangga menjadi bangsa Indonesia. Pesan itu terlihat dari ekpresi mereka yang rela menghiasi tubuh mereka dengan berbagai atribut yang bernuansakan nasionalisme. Ternyata masih ada anak bangsa yang bangga dengan bangsa ini. Faktor lain yang menggerakan rasa nasionalisme melalui sepakbola adalah bahwa sepakbola merupakan olahraga lintas strata sosial. Ia milik rakyat biasa sampai para pejabat, ia milik pekerja sampai pengusaha. Dengan kondisi ini, maka terciptalah satu gerakan yang sama dalam mendukung sebuah tim baik dalam skala regional maupun internasional.
Perkembangan sepakbola di tanah air tidak terlepas dari spirit nasionaliame. Untuk menjelaskan pernyataan ini, mari kita melihat sejarah PSSI dalam kaitannya dengan politik. Peristiwa ini dimulai pada tanggal 19 April 1930 dimana berkumpullah wakil-wakil dari berbagai klub yang ada saat itu,seperti V.I.J (Voetbal Bond Indonesiche Jakarta ) yang diwakili oleh Sjamsoedin,Persatuan Sepakbola Mataram (PSM) yang diwakili Daslan Hadiwasito,A.Hamid,M.Amir Notopratomo,dari Vorten landsche Voetbal Bond (VVB)klb yang berasal dari solo yang diwakili oleh Soekarno, sedangkan klub Soerabajasche Indonesche Voetbal Bond (SIVB) diwakili oleh Pamoeji dan beberapa klub lagi yang hadir pada kesempatan itu. Dari pertemuan tersebut lahirlah PSSI (Persatoean Sepakbola Seloeroeh Indonesia), kemudian pada perkembangan selanjutnya nama organisasi tersebut disempurnakan secara bahasa menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan nama ini, tetap berlaku sampai sekarang. Dari kongres ini, kalau kita lihat sudah ada semangat nasionalisme yan muncul. Hal itu terlihat ada beberapa klub yang sudah memakai kata Indonesiche.
Kemudian pada perkembangan selanjutnya rasa kebangsaan ini dikembangkan dalam wilayah yang lebih besar yaitu dalam wadah organisasi yang bersifat nasional yaitu Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia. Berangkat dari sinilah dunia sepakbola mulai bermain dalam wilayah politik. Hal ini terjadi karena situasi dan kondisi yang menghendaki. Sebab, pada masa itu tuntutan untuk kemerdekaan sangat kuat, untuk itu hampir semua organisasi yang bersifat pergerakan selalu bernafaskan nasionalisme. Semangat kebangsaan yang mencerminkan semangat nasionalisme yang digariskan oleh PSSI terlihat dari beberapa kebijakan yang diambil, diantaranya Pertama, dalam penyusunan progaram kerja yang disusun oleh PSSI pada dasarnya banyak menantang berbagai kebijakan pemerintah Belanda melalui NIVB khususnya yang berkenaan dengan dunia sepakbola. Sehingga PSSI melahirkan stridij program yakni program perjuangam kebangsaan versi PSSI. Program ini bernafaskan perjuangan melawan penjajahan pemerintah Belanda seperti yang dilakukan oleh berbagai organisasi pergerakan pada masa itu. Kedua, pada saat pengiriman tim sepakbola ke piala dunia tahun 1943, PSSI mengadakan protes kepada pemerintah Belanda, dalam ini protes tersebut dilayangkan kepada Nederland Indische Voetbal Unie (NIVU), organisasi ini semacam PSSI-nya Belanda. Protes ini berkenaan telah terjadinya pengingkaran terhadap perjanjian gentlemens agreement yang salah satu isinya adalah pengirima tim sepakbola ke piala dunia tahun 1938 harus ada pertandingan lebih dulu antara kesebelasan NIVU dengan kesebelasan PSSI. Sebagai aksi protes tersebut, pada kongres PSSI ke 1938 di Solo pihak PSSI membatalkan secara sepihak perjanjian dengan NIVU. Dan perlu juga menjadi catatan pada pengiriman kesebelasan pada piala dunia 1938 pihak PSSI tidak menghendaki bendera yang dipakai bendera Belanda, inilah beberapa catatan sejarah yang dimainkan oleh PSSI dalam mengaplikasikan semangat kebangsaan untuk mendukung perjuangan anak bangsa guna mewujudkan Indonesia merdeka pada masa itu. Pada perkembangan selanjutnya PSSI ingin memberi yang terbaik bagi bangsa ini, tetapi tekad baik ini selalu dirusak oleh oknum-oknum tertentu yang bermain pada ranah politik ataupun ranah golongan atau dalam bahasa lainnya PSSI sering dimanfaatkan oleh mereka untuk kepentingan golongan atau politik.
Pada sisi lain, dengan melihat adanya hubungan yang signifikan antara sepakbola dengan nasionalisme, tentunya kita bisa mengatakan bahwa sepakbola merupakan suatu masalah dan sekaligus bagian dari kepentingan nasional, tentunya pernyataan ini berkaitan dengan catatan sejarah yang telah dimainkan oleh PSSI dan juga kenyataan yang telah diperlihatkan dunia sepakbola sekarang bersama para pendukungnya dalam memperlihatkan semangat kebangsaan yang bernafaskan nasionalisme. Berkaitan dengan ini pula, maka dunia sepakbola dan dunia olahraga pada umumnya sering dijadikan standar bagi kemajuan suatu negara dan gengsinya suatu bangsa. Adalah suatu kenyataan jika suatu negara maju dalam dunia olahraga maka negara tersebut juga maju dalam bidang lainnya, sebagai contoh ditingkat Asia Jepang, China ataupun Korea, adalah negara-negara yang mendominasi dunia olahraga di Asia dan sangat diperhitungkan di tingkat dunia, mereka juga maju dalam berbagai bidang terutama bidang teknologi.
Berangkat dari kenyataan ini kita dapat menyimpulkan bahwa sepakbola menyangkut berbagai kepentingan. Untuk itu, perlu adanya perhatian dari pemerintah untuk mengambil berbagai kebijakan guna menghindari pemanfaatan negatif, terutama terhadap lembaga –lembaga yang berkompeten terhadap dunia sepakbola terutama PSSI. Dalam kaitan ini tentunya adanya pembinaan nasionalisme dalam dunia sepakbola, walaupun selama ini secara tidak disadari nasionalisme itu tumbuh sendiri ketika seorang atlit berlaga dengan membawa nama merah putih atau seorang suporter mendukung tim merah putih. Tetapi kondisi ini mungkin hanya dipengaruhi faktor psikis saja dan bersifat sementara. Tentu kondisi ini tidak memberi efek yang positif dalam membangkitkan semangat nasionalisme. Namun, wacana yang layak digulirkan adanya pembinaan mental bagi pemain dan para suporter yang terencana dan kontinyu dalam kontek membangkitkan semangat nasionalisme. Selamat hari kebangkitan nasional.(****).

No Response

Leave a reply "Sepakbola dan Nasionalisme"