by

Senja Merah

-Cerpen-221 views

Karya: R Sutandya Yudha Khaidar

Aku sendirian. Ya. Aku sendirian. Sendirian menatap mentari terbit, begitu pula menyaksikan mentari senja. Tak ada seorang pun yang menemaniku. Tak ada yang bisa. Aku tak tertarik pada orang-orang yang hanya datang ketika butuh. Aku benci orang seperti itu.Aku selalu berusaha untuk menjalani hidupku sendirian. Tanpa siapapun. Karena bagiku, lebih baik mengerjakan semuanya sendirian daripada harus repot bekerja sama dengan orang yang belum tentu peduli apa dia kerjakan.
Aku menjalani kehidupanku dengan normal. Kecuali satu hal, aku tidak begitu mempedulikan statusku sebagai makhluk sosial. Jika kalian melihatku tersenyum atau bahkan tertawa, mungkin langit akan berubah merah saat itu juga. Senyum dan tawaku adalah hal paling mustahil yang pernah dibayangkan orang-orang di sekitarku. Hal mustahil yang memang tak pernah terulang lagi sejak saat itu. Saat-saat menyakitkan itu.
“Daffa! Bisa tolong kerjakan soal di papan tulis?” tanya seorang dosen yang membuyarkan lamunanku.
Aku langsung menuju ke depan kelas. Mengerjakan soal Mikroekonomika di papan tulis dan menjawabnya dengan benar dalam waktu singkat. Tanpa banyak bicara, aku kembali ke tempat dudukku. Tak peduli tatapan seorang perempuan yang aku tau dari tadi memperhatikanku. Entah siapa dia. Aku tak tau.
Sore sepulang dari kampus, aku mampir ke sebuah taman yang berada antara rumah dan kampusku.Aku menatap ke sebuah kolam yang dalam di pinggir taman itu. Aku tak pernah mengerti kenapa kolam itu bisa berada di sana. Yang aku tau hanyalah, kolam itu telah merenggut nyawa temanku. Sahabat terbaikku. Fatiah.
Kala itu, Mila, teman sekelas Fatiah yang juga teman sekampus ku tiba-tiba mendorong Fatiah masuk ke dalam kolam yang dalam itu. Aku yang tau bahwa Fatiah tak bisa berenang segera berlari ke arah kolam untuk menolongnya. Namun, teman-teman Mila menahanku. Memegang tanganku kuat-kuat agar aku tak bisa menolong Fatiah.
“Apa yang kalian lakukan? Fatiah tak dapat berenang,” teriakku melihat Fatiah yang tak lama lagi akan tenggelam. Mila dan teman-temannya malah tertawa.
“Yang benar saja anak itu tidak bias berenang? Dia hanya berpura-pura. Mencari perhatian orang sekitar. Kau lihat saja! Sekarang dia menjadi pusat perhatian di taman ini,” kata Mila sambil tersenyum puas. Tak peduli Fatiah yang mencoba minta tolong.
Namun yang paling menyayat hati saat itu adalah tak ada seorang pun di taman itu yang mau menolong Fatiah. Meskipun mereka melihat Fatiah berteriak minta tolong, berusaha keluar dari air. Tak seorang pun menolongnya. Mereka hanya melihat, menunjuk-nunjuk ke arah Fatiah.
“Tolong selamatkan dia!” teriakku sekuat tenaga. Kuyakin banyak orang di taman itu mendengar suaraku. Namun tak ada seorang pun yang menolong Fatiah. Tak seorang pun. Mereka justru berlalu. Meninggalkan Fatiah yang mencoba menyelamatkan diri.
Hingga pada akhirnya Fatiah tak keluar lagi dari air. Barulah teman-teman Mila melepas tanganku. Aku langsung berlari kencang dan melompat ke dalam kolam. Mencoba menyelamatkan Fatiah. Orang-orang di taman itu sekali lagi hanya melihat. Tanpa rasa peduli sedikitpun.
Tapi usahaku tetap sia-sia saja. Meskipun aku berusaha mengeluarkan air dari tubuhnya, tetap saja, air itu sudah terlalu banyak masuk kedalam paru-parunya. Bahkan ketika aku berhasil membawa Fatiah ke rumah sakit terdekat, dokter berkata bahwa Fatiah telah kehilangan nyawanya.
“Hei, Daffa!” kata seorang perempuan yang tiba-tiba duduk di sampingku dengan senyuman manisnya.
Aku menghapus air mataku yang mulai jatuh. Berusaha terlihat baik-baik saja. Melihat ke arah perempuan itu. Menatapnya dengan tatapan “Kenapa kau kemari? Lebih baik kalau kau pergi,” kataku. Tapi dia tak peduli.
“Kita satu kelas. Aku duduk tak terlalu jauh darimu. Namaku Zahra. Kuharap kita bisa menjadi teman atau bahkan sahabat baik,” katanya tetap dengan senyuman manisnya. Aku memalingkan tatapanku. Melihat kembali ke arah kolam maut itu.
“Apa yang kamu lihat, Daffa? Kolam itu?” tanyanya tanpa peduli aku yang tidak suka jika dia berada di dekatku.
“Aku punya kenangan buruk di kolam itu,” lanjutnya. Sejenak aku kaget.
“Kejadian yang sudah cukup lama, belasan tahun yang lalu. Ketika aku berusia 4 tahun. Ibuku tenggelam setelah menyelamatkan aku yang tidak bisa berenang,” katanya terdiam sebentar.
“Ibuku tak bisa berenang. Tapi karena harus menyelamatkan putrinya yang belum bisa apa-apa, ibuku terpaksa harus masuk ke dalam kolam yang dalamnya melebihi tiga kali tinggi badannya sendiri. Dan tak seorangpun yang berusaha menyelamatkan ibuku. Hingga kemudian ayahku datang, melihat anaknya yang menangis di pinggir kolam dan seorang wanita yang berusaha keluar dari kolam itu. Meminta tolong.” Dia mulai menangis.
“Ayahku terlambat. Ibu tak terselamatkan. Sampai sekarang aku penasaran apa yang ada di dalam kolam itu hingga tiba-tiba bisa merenggut nyawa ibuku,” katanya menangis tapi berusaha tersenyum tegar. Aku hanya diam. Dia memiliki kisah yang mirip denganku.
“Eh? Kok jadi curhat ya? Maaf, Daffa. Aku benar-benar sedih setiap kali melihat kolam itu. Meskipun saat itu aku masih berusia 4 tahun, otak ku mampu merekam dengan jelas bagaimana ibuku tenggelam di kolam itu,” katanya sambil menghapus air matanya. Tetap berusaha tersenyum. Tanpa aku sadari, air mataku juga menetes. Mengalir ke pipiku.
“Ayo kita pulang, Daffa! Sudah terlalu sore.” Dia menarik tanganku. Entah kenapa, saat itu aku menurut saja. Pulang ke panti asuhan tempatku tinggal. Tempat perempuan itu juga tinggal.
Panti asuhan tempatku tinggal tak begitu jauh dari taman itu. Berjalan sekitar 5 menit, maka panti asuhan akan terlihat di ujung jalan. Sepanjang perjalanan, aku kembali mencerna cerita yang dilontarkan perempuan itu. Siapa tadi namanya? Ara? Rara? Zahra? Entahlah.
Kisahnya membuatku semakin membenci orang-orang di sekitarku. Membenci semua orang di seluruh penjuru kota. Membenci teman-temanku. Membenci semua orang. Hanya ada satu orang yang tidak aku benci. Ibu pengasuhku di panti asuhan. Hanya dia yang aku percaya dan tidak pernah aku benci. Selebihnya, silahkan kau fikirkan sendiri. Karena memang pembaca berhak menginterprestasikan apa yang dibacanya dan aku tidak memaksa kalian menuruti apa maksud fikiranku dalam cerpen ini.
Tapi tolong jangan pernah berfikir aku ini seorang anak yang baik di panti asuhan. Seperti yang aku ceritakan tadi, aku kurang menyadari bahwa aku ini makhluk sosial. Jadi aku hanya mengerjakan rutinitas seperti tidak ada orang lain di sekitarku. Menjalani semuanya sendirian. Meskipun di sekelilingku ada banyak orang yang tertawa riang termasuk perempuan itu salah satunya.
Aku menjadi tak peduli pada orang-orang di sekitarku semenjak peristiwa kematian Fatiah yang kurang masuk akal itu. Jika orang-orang di sekitar tidak pernah peduli, kenapa aku harus peduli pada mereka? Kalaupun mereka peduli, sampai sejauh mana mereka akan merubah hidup kita? Tak mungkin jauh berbeda kan? Semua orang hanya peduli pada dirinya. Dirinya selalu nomor satu dibandingkan orang lain.
“Anak-anak ada yang mau bunda sampaikan,” kata pengurus panti. Semua anak-anak berkumpul. Termasuk aku. Termasuk Zahra. Kalau aku tak salah, nama perempuan itu.
Tak lama setelah kami semua berkumpul di sebuah ruangan yang tak terlalu luas, bunda mulai membuka pembicaraannya. Sangat panjang. Penuh basa-basi bak politikus yang menjaring massa. Tapi intinya, panti asuhan ini akan ditutup. Pemerintah ingin menggusurnya dan membangun pusat perbelanjaan yang baru. Sudah kukatakan tadi. Manusia itu memang tak berperasaan.
Coba saja kau bayangkan. Bagaimana mungkin ada manusia yang tega menggusur panti asuhan? Tempat anak-anak terlantar tanpa orang tua. Apakah masih ada hati nurani di dalam diri mereka? Ataukah hati itu telah mati? Tak bisakah mereka sedikit memikirkan perasaan orang lain? Aku membenci mereka semua. Aku benar-benar membenci mereka semua.
Dihari-hari terakhir kami menempati panti asuhan itu, Zahra selalu mendekatiku. Menceritakan kehidupannya, mengapa ia bisa terdampar di panti asuhan ini 2 minggu terakhir. Dia menceritakan segalanya. Meskipun dengan tangis, dia tetap berusaha tersenyum tegar. Seolah tak ada hal yang sangat menyakitkan di antara segala kisah-kisahnya itu. Dia mengulangi aktivitasnya untuk duduk di sampingku, bercerita, dan berusaha menghiburku setiap harinya. Tanpa lelah. Entah apa yang ada difikiran anak itu. Padahal aku tak pernah meresponnya. Hingga akhirnya ada satu hal yang kurang kumengerti dan baru kini aku sadari. Aku suka mendengar ceritanya, melihatnya tersenyum dan tertawa meskipun diselingi air mata. Dia terlihat begitu kuat di hadapanku. Tapi tetap saja, raut senyumnya tak menular sama sekali padaku. Apalagi tawanya yang riang.
Hingga tibalah hari dimana kami harus meninggalkan panti asuhan. Kami dipindahkan ke panti-panti asuhan lain di kota yang sama. Namun aku dan Zahra saat itu tak langsung menuju panti tujuan kami yang kebetulan sama. Aku dan Zahra justru menuju ke taman Balekambang. Ya, taman Balekambang namanya, tempat di mana kolam maut itu berada yang membunuh orang yang kami sayangi.
“Kau lihat kan, Daffa! Manusia itu memang kejam sekali? Panti asuhan digusur begitu saja,” katanya mengomel. Tapi kemudian dia terdiam.
“Daffa, aku ingin bertanya,” lanjutnya. Aku hanya menoleh. Melihatnya.
“Apa aku ini temanmu?” tanyanya. Aku hanya mampu terdiam beberapa saat setelah dia menanyakan itu. Pertanyaan aneh. Tapi aku justru mengangguk pelan. Ya. Dia memang teman yang baik, bukan?
“Apa kamu bisa sedikit keluar dari rasa sedih dan bencimu dengan kehadiranku?” tanyanya lagi. Aku menggangguk. Dia tersenyum.
“Memang percuma melawan orang-orang yang memang tak peduli pada sekitarnya. Tapi membenci orang-orang yang tak peduli itu jauh lebih buruk daripada orang yang tidak peduli sama sekali. Itulah kenapa harusnya kamu berlaku baik pada orang di sekitarmu,” ucapnya. Aku merekam dengan baik apa yang dikatakannya.
“Lagipula kan ada aku,” imbuhnya sambil nyengir. Tertawa.
“Aku akan menjadi teman terbaik atau mungkin sahabat terbaik yang kamu punya Daffa. Kau tau betapa ajaibnya kehadiran seorang sahabat? Ia mampu merubah hidupmu. Jadi, kamu tidak perlu sedih lagi. Kita akan selalu bersama, Daffa. Kita akan menatap mentari terbit dan senja bersama setiap hari,” ujarnya. Aku hanya diam. Hanya melihatnya.
“Daffa, cobalah untuk tersenyum. Bidadari di kahyangan sana akan iri jika melihatmu bisa tersenyum. Apalagi jika kau tertawa,” kata Zahra menghiburku. Menggodaku.
Tanpa kusadari sepenuhnya, senyum terukir di bibirku. Senyum pertama setelah bertahun-tahun lamanya. Kumparan cahaya di langit tiba-tiba berubah menjadi merah seakan tersipu malu dengan raut senyumku. Indah sekali. Aku menatap langit. Apa langit benar-benar harus memerah ketika aku tersenyum?
Fatiah, Tuhan mengirimkan penggantimu. Di bawah senja merah terindah dalam hidupku ini.

Surakarta, 18 November 2018

Comment

BERITA TERBARU