Senior Alumni ISBA Yogyakarta Soroti Masalah Lada

  • Whatsapp
Pemimpin Rapat ISBA, Prof. Bustami Rahman menyampaikan pokok pikirannya pada reuni ISBA. (Foto: Roni)

PANGKALPINANG – Alumni Ikatan Pelajar Mahasiswa Bangka Yogyakarta (ISBA) angkatan tahun 1975 yang tergabung dalam IKA ISBA, belum lama ini menggelar acara reuni di Gedung Mahligai Rumah Dinas Gubernur Babel pada 18 Januari 2020 lalu.

Alhasil, beberapa rekomendasi hasil rapat atau diskusi dari para senior alumni ISBA menyoroti berbagai permasalahan di Negeri Serumpun Sebalai, salah satunya mengenai komoditas lada.

Muat Lebih

“Kita berdiskusi, bagaimana kita memberikan sumbangan pemikiran kepada gubernur dalam rangka lebih mensejahterahkan masyarakat Bangka Belitung. Ada beberapa poin yang kita sorot, salah satunya lada,” kata Ketua Panitia Reuni, Iskandar Zulkarnain kepada sejumlah awak media di salah satu Warung Kopi (Warkop), Rabu (29/1/2020).

Sementara Pemimpin Rapat ISBA, Prof. Bustami Rahman menyampaikan pokok pikiran dari para alumni untuk menjadi bahan rekomendasi kepada gubernur, yakni tata kelola dan tata niaga lada perlu ditata ulang kembali.

Ia menyebutkan ada empat poin dari pokok pikiran tersebut, yakni, pertama, harus ada hilirisasi dari produk lada Babel, misalnya, dalam bentuk barang jadi, dikemas dengan baik dan siap dijual. Selain itu ditambahkan dia, harus ada intervensi kebijakan untuk mendorong UMKM di bidang pengolahan lada.

“Yang kedua, perlu dipertimbangkan juga dengan terencana untuk tata kelola lada dalam bentuk koperasi dan konsorsium yang profesional, nah koperasi ini sebagaimana kita ketahui di negara barat yang individualistis, koperasi tumbuh dengan bagus, sementara di negara kita yang bersifat gotong royong nya tinggi, kenapa nggak bisa koperasinya tumbuh nggak bagus,” ujarnya.

Poin yang ketiga, lanjut dia, munculnya kompetitor lada dari luar negeri perlu direspon dengan memperkuat produktivitas dan kualitas perkebunan lada. Dalam hal ini, dikatakan dia, pemerintah harus mengintervensi sektor perkebunan dengan perencanaan dan pengelolaan yang kuat.

“Melalui bantuan bibit unggul, junjung, pelatihan-pelatihan, dan sebagainya, kemudian lakukan kajian-kajian ilmiah untuk membantu petani menangani persoalan lada,” ulasnya.

Selanjutnya poin yang keempat, diutarakan dia, program resi gudang yang dicanangkan oleh Gubernur Erzaldi merupakan sebuah inovasi yang cerdas, namun implementasinya belum berjalan dengan baik, sehingga perlu penguatan komitmen kelembagaan agar sejalan dengan program BUMD.

“Jadi ini lah sebenarnya tugas saya merangkum semua pemikiran mereka untuk disampaikan kepada Pak Gubernur, setidak-tidaknya mengingatkan kalau-kalau apa yang dilakukan beliau selama ini mungkin barang kali ada tambahan-tambahan untuk beliau yang mungkin terlewat dan sebagainya,” tukasnya. (ron)

Pos terkait