Semakin Dekatnya Kaum Muslim dengan Bisyarah

  • Whatsapp
Penulis: Ummu Neysariela
Muslimah Bangka Belitung

Alhamdulillah, pujian hanya bagi Allah SWT. Berita gembira datang menghampiri kaum muslim. Hagia Sophia beralih fungsi kembali menjadi masjid. Pengalihan tersebut berkat dekrit yang dikeluarkan oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan pada 10 Juli 2020. Setelah 86 tahun sejak tahun 1934, bangunan bersejarah tersebut dimuseumkan oleh kekuasaan sekuler Turki. Kekuasaan tersebut di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Attaturk, yang dengan kekufurannya meruntuhkan Khilafah dan menggantinya menjadi sistem pemerintahan republik.

Mendengar adzan dikumandangkan di Hagia Sophia dan dijadikan tempat sujud kembali, tidak hanya kebahagiaan bagi kaum muslim Turki. Tetapi kebahagiaan kaum Muslim di seluruh dunia. Mengapa? Karena Hagia Sophia bukan hanya saksi sejarah kejayaan kekhilafahan Islam Turki Ustmani, yang kekuasaannya dari semenanjung Arab sampai Asia Selatan selama hampir 625 tahun. Bukan hanya mercusuar yang memancarkan cahaya Islam sehingga mampu menerangi kegelapan Eropa. Tetapi Hagia Sophia adalah bukti kebenaran bisyarah Rasulullah SAW yang disampaikan 825 tahun sebelum Konstantinopel ditaklukkan. Hadist tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yang artinya : “Sungguh Kostantinopel akan dibebaskan, sebaik baik amir (pemimpin) adalah amir yang memimpin penaklukannya dan sebaik baik pasukan adalah pasukan itu”.

Read More

Sontak tindakan Erdogan membuat panas dunia internasional. Termasuk pemimpin umat Kristen Roma Paus Fransiskus yang merasa sedih dan risau. Karena Hagia Shopia yang dibangun pada abad keenam sebagai katerdral Bizantium takluk di tangan kekhilafahan Islam Turki Utsmani, dan sekarang beralih fungsi kembali menjadi Masjid.

Sebenarnya, Hagia Sophia adalah wakaf dari sang penakluk Muhammad al Fatih kepada kaum Muslim. Hagia Sophia diamanatkan untuk tetap terjaga sebagai masjid. Sebelum dimuseunkan,  Hagia Sophia tidak hanya tempat beribadah kepada Allah SWT, tetapi  candradimuka ilmu pengetahuan dan peradaban.

Penaklukan Konstantinopel bukanlah penjajahan. Karena Muhammad al Fatih tidak mengizinkan pengrusakan bangunan ibadah pada saat penaklukan. Bahkan melarang pembunuhan terhadap jiwa selama penaklukan. Darah kaum Kristen dan para pendetanya pun aman di tangan kaum Muslim. Sehingga para ahli sejarah mengatakan bahwa penaklukan Konstantinopel adalah pembuka pintu peradaban manusia yang agung, yang penuh perdamaian dan kasih sayang.

Related posts