“Selamat Datang di Kelurahan Terbusuk se-Babel”

  • Whatsapp
Protes Bau Busuk- Spanduk bertuliskan “Selamat Datang di Kelurahan Terbusuk se-Babel” dipasang warga dipinggir warga di jalan Kenanga, Kecamatan Sungailiat, Minggu (17/11/2019). Spanduk dibuat sebagai bentuk protes aktivitas PT BAA yang menimbulkan bau busuk di lingkungan warga setempat. (foto: Riski Yuliandri)

Protes Warga Kenanga Berlanjut
Pasang Spanduk Tolak Aktivitas PT BAA
Adi: Kami Sudah Sabar

SUNGAILIAT – “Selamat Datang di Kelurahan Terbusuk se-Babel’ demikian tulisan dalam spanduk yang dipasang warga Kelurahan Kenanga, Kecamatan Sungailiat, Minggu (17/11/2019). Pemasangan spanduk tersebut sebagai bentuk protes warga terhadap bau busuk limbah dari pabrik tapioka milik PT Bangka Asindo Agri (BAA) di daerah itu.

Tak hanya satu spanduk yang dipasang warga tetapi ada beberapa spanduk lainnya dengan tulisan ‘Polusi Udara Tercemar Warga Terkapar, Stop Pabrik Ubi PT BAA’. Spanduk-spanduk tersebut terpasang diberbagai tempat seperti halaman depan Masjid Al Mu’minun Kenanga dan dipinggir jalan saat memasuki kawasan pemukiman Kenanga.

Sebelumnya, warga juga melakukan aksi protes terhadap aktivitas PT Bangka Asindo Agri (PT BAA), Jumat (15/11/2019). Warga melakukan aksi protes dengan mengumpulkan tanda tangan diatas kain putih yang bertuliskan ‘Stop Bau Busuk PT BAA’ di depan Masjid Al Mu’minun kenanga.

Kain berukuran sekitar delapan kali satu meter tersebut penuh dengan tandatangan warga. Bahkan bukan hanya warga setempat saja yang menandatangani, warga luar yang berhenti untuk melihat aksi tersebut juga ikut membubuhkan tandatangannya sebagai bentuk dukungan terhadap warga.

Salah satunya, Mahfur. Warga Tua Tunu Pangkalpinang tersebut ikut menandatangani petisi karena setuju untuk menghentikan perusahaan pabrik tapioka di kelurahan kenanga.

“Tadinya saya mau pulang dari Sungailiat, pas disini liat orang kumpul jadi saya penasaran dan berhenti, ternyata ada aksi ini jadi saya ikut juga karena di jalan saja bau, apa lagi warga sekitar sini, terlebih lagi disini dekat mesjid juga, kan kasian orang mau ibadah tapi mencium bau ini,” ungkapnya.

Selain itu, RT 06 Kenanga, Adi mengatakan pihaknya sudah berapa kali melakukan protes terhadap PT BAA, namun tidak digubris. Pihaknya juga sudah berapa kali menemui DPRD Bangka namun hasilnya juga tidak ada.

“Berbagai cara sudah kami lakukan, ke dewan (Bangka-red) juga sudah tapi tetap saja tidak ada hasil karena perwakilan dari pihak perusahaan ini hanya bawahan saja jadi tidak bisa ngambil keputusan,” ungkapnya.

Dia mengatakan pihaknya akan melakukan aksi lainnya jika bau dari limbag pabrik PT BAA tersebut tidak bisa diatasi dalam waktu dekat. “Bau ini sebenarnya sudah lama, selama ini juga kami sudah sabar dan meminta perhatian pemerintah bagaimana solusinya tapi sampai saat ini tidak ada juga,” tambah Adi.

Salah satu warga Kenanga, Nando juga mengaku aroma tak sedap tak hanya tercium oleh penduduk mereka, akan tetapi warga Kecamatan Pemali dan sekitarnya mengeluhkan sama.

“Aromanya bau busuk ini sudah lama sekali, kadang pagi, kadang siang, kadang sore bahkan malam hari dan ini sangat mengganggu penciuman kami. Untuk itu kami adakan aksi tanda tangan di spanduk ini dan bagi bagi masker sebagai tanda bentuk penolakan kami,” katanya.

Selain itu, Nando meminta kepada pemerintah daerah bertanggung jawab atas keberadaan pabrik tapioka milik PT BAA yang diduga telah mencemari udara lingkungan setempat lewat bau tak sedap itu. Tak cuma itu, warga menuntut pemerintah daerah untuk mengembalikan hak warga Kenanga berupa fasilitas udara yang layak dihirup.

“Kalau tidak digubris, maka kami akan melanjutkan dengan aksi meminta pertanggung jawaban pihak pabrik dan pemerintah. Karena disini kami hanya meminta hak kami yakni memiliki udara segar itu dapat kembali dengan semula,” tandasnya.

Sementara, Direktur PT BAA, Acung yang dikonfirmasi terpisah membenarkan jika dalam satu minggu terakhir pabrik tapioka tersebut mengeluarkan bau tak sedap akibat perubahan cuaca. Akan bau tak sedap itu kata dia, pihak perusahaan langsung mengambil sikap dengan cara menghentikan sementara waktu aktivitas pabrik.

“Kalau ada komplain dari masyarakat sekitar, kami selalu menanggapi dan minimal mempelajari lagi kinerja pabrik. Seperti keluhan masyarakat itu, kami stop untuk sementara waktu ini,” katanya.

Dia menambahkan, pihak perusahaan saat ini terus berupaya meminimalisir bau tak sedap yang diduga ditimbulkan pabrik. Namun Acung keberatan jika pabriknya harus ditutup seperti yang diinginkan masyarakat. Mengingat pihaknya sudah berupaya keras menyiasati bau tak sedap itu.

“Kalau minta untuk stop tidak beroperasi, itu hal yang tidak mungkin. Karena disini kami juga mau berusaha dan karyawan pabrik pun mau mencari makan. Apalagi petani singkong sudah sering berteriak, kapan giling, kapan terima ubi, kapan produksi karena ubi kami sudah mau panen,” alasannya.

Menyikapi protes yang dilayangkan masyarakat Kenanga dengan aksi pengumpulan tanda tangan, disikapi oleh Acung sebagai hal yang wajar. “Kami sangat memaklumi aksi protes masyarakat sekitar yang mengeluh aroma bau dari pabrik. Karena itu komplainan masyarakat dan kami pun pasti mencari solusi terbaiknya,” pungkas dia. (mla/10)

Related posts