Sekolah Dilarang Tes Kehamilan

  • Whatsapp

M Soleh: Dunia Pendidikan Kita Tercoreng

PANGKALPINANG – Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bangka Belitung (Babel), M Soleh, menegaskan pihaknya melarang sekolah melakukan tes kehamilan terhadap para siswa di sekolah, hal ini dikarenakan sekolah merupakan tempat belajar bukan tempat tes kehamilan.
Larangan ini disampaikanya, menyusul adanya salah satu sekolah di Kabupaten Bangka Barat yang melakukan tes kehamilan terhadap para siswinya untuk mengantisipasi kejadian serupa terkait seorang siswi SMK di Belinyu yang melahirkan di dalam toilet sekolah.
“Sekolah itu tempat belajar, mencetak generasi masa depan, bukan tempat tes kehamilan, jadi saya ingatkan tidak benar sekolah melakukan tes kehamilan ke para siswinya,” tegas Soleh.
Soleh mengaku, kejadian salah satu siswi melahirkan di toilet sekolah, telah mencoreng dunia pendidikan di Provinsi Bangka Belitung. Untuk itu, dia mengaku prihatin dan sangat disayangkan.
“Dunia pendidikan kita jelas tercoret, saya prihati dengan kejadian ini,” ujarnya.
Dengan begitu, sambungnya, Dinas Pendidikan akan melakukan pengecekan apakah ada sekolah di Bangka Barat yang sudah melakukan tes kehamilan, jika nanti memang terbukti, Disdik akan melakukan pembinaan.
“Saya baru tahu, nanti akan kita cek benar tidak ada sekolah yang melakukan tes kehamilan untuk antisipasi kejadian serupa, kalau memang ada, kita akan lakukan pembinaan,” terangnya.
“Apalagi katanya ada seorang siswi hasil tes positif hamil, ini luar biasa, makanya kita akan cek kebenaran tersebut,” ungkap dia.
Dia pun meminta kepada seluruh orang tua, lebih menekankan karakter keimanan kepada anak, sebab tolak ukurnya ada pada orang tua, setiap hari anak-anak banyak menghabiskan waktu di rumah.
“Peran orang tua sangat besar dalam hal ini, pembentukan karakter keimanan anak bukan hanya di sekolah saja, tetapi oleh orang tua juga, sehingga kejadian serupa dapat di antisifasi,” tutur Soleh.
Sementara, Ketua KPAD Provinsi Bangka Belitung, Sapta Qodria mengatakan, KPAD sudah melakukan pendampingan terhadap korban dengan memberikan pendampingan psikolog, untuk membantu trauma yang dialami korban.
“Secara fisik baik, tapi mengalami trauma, jadi kita beri pendampingan psikolog,” kata Sapta.
Sapta meminta kepada seluruh orang tua agar lebih memperhatikan dan membimbing anak agar kejadian serupa seperti Bunga (16) yang melahirkan di toilet SMK Belinyu tidak terjadi kembali.
“Dalam kasus ini, memang peran orang tua sangat di butuhkan sehingga tidak terjadi hal demikian,”ujar dia.
“Kita pun bersyukur berkat pendampingan kita, orang tua korban mau melapor ke polsek, dan Alhamdullilah pelakunya sudah di tangkap,” ungkap Sapta.
Salah satu orang tua siswa, Merry menyayangkan Disdik yang melarang siswa melakukan tes kehamilan, menurutnya langkah sekolah ini justru merupakan terobosan dan sekaligus perhatian sekolah kepada para siswinya, agar para siswi tidak berani melakukan hal-hal negatif. Karena bisa saja, di rumah siswa ini kurang diperhatikan orangtua, dengan dilakukan sekolah sekaligus menjadi peringatan bagi orang tua.
“Kalaupun memang ada test pihak sekolah bisa mengundang orangtua, sehingga bisa langsung diketahui para orang tua, dan juga mengundang dinas kesehatan untuk menjelaskan ciri-ciri ketika anak sudah berbadan dua atau perubahan fisik lainnya, kedepan semoga hal ini tak terjadi lagi,” sarannya. (nov/6)

Pos terkait