by

Secangkir Kopi di Rumah Kakek

Karya: Rusmin

Setiap sore, secangkir kopi selalu menemani hari-hari Kakek di teras rumah tuanya. Dan tentu saja bersama koran pagi yang datangnya selalu sore. Telat. Maklum, kampung kami jauh dari pusat kota. Kopi yang selalu direbus nenek, dihidangkan dalam cangkir dari bahan alumunium seolah-olah menjadi sahabat setia kakek saat menunggu waktu azan Magrib tiba. Maklum, usai pensiun sebagai pegawai pemerintahan kakek tidak memiliki usaha lain, selain menerima uang pensiunnya.
“Kakekmu orang jujur. Tidak pernah memanfaatkan jabatannya,” cerita ibu kepadaku. “Kakekmu ingin mewariskan nama harum jika tidak bekerja lagi. Bukankah nama harum lebih berharga dari timbunan harta,” lanjut ibu.
Dan sore hari adalah waktu yang amat ku tunggu. Waktu yang sangat membahagiakan ku. Waktu yang sangat istimewa sekali bagiku. Sore adalah momentum untuk ke rumah kakek. Selain bisa menikmati kopi buatan nenek bersama kakek, aku juga bisa membaca koran. Dan tentu saja mendengarkan cerita kakek tentang berbagai hal yang pernah dialaminya, sekaligus bisa menambah pengetahuanku. Dan syukur-syukur aku bisa belajar dari pengalaman kakek sebagai bekal masa depan yang amat keras dan penuh tantangan.
Kakek pernah bercerita era dulu, kehidupan masyarakat amat rukun dan tidak pernah terjadi friksi diantara masyarakat karena dulu orang merasa hidup sepenanggungan dan saling berusaha membantu kalau ada yang kesulitan.
“Dulu orang saling gotong-royong. Saling bantu membantu. Tak saling menyatakan dirinya paling hebat, pintar atau sok berkuasa,” cerita kakek sambil menghirup kopinya.
Sebatang rokok kretek dibakarnya. Dihisapnya. Asapnya melayang tinggi ke angkasa. Seolah ingin mengejar awan di langit biru. “Makanya di kota ini ada gedung pertemuan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat,” lanjut kakek sambil menjentikkan rokoknya di asbak.
Dan biasanya aku baru pulang ke rumah usai Sholat Magrib bersama kakek.

___

Setiap sore pula, biasanya banyak sahabat-sahabat kakek yang datang. Mereka rata-rata pensiunan. Ada pensiunan guru, tentara hingga pensiunan pegawai kecamatan. Bahkan ada pula masyarakat biasa. Kadang ada juga pegawai kecamatan yang masih aktif memenuhi teras depan rumah kakek. Ramai sekali. Mereka bisa berbaur tanpa memandang status. Mereka sekedar bersilahturahmi dan ngobrol. Kadang bertukar informasi. Mereka senang datang ke rumah kakek, karena selain bisa menikmati kopi dan juga pisang goreng saat tanggal muda, mereka bisa pula membaca koran. Setahuku sudah lama Kakek berlangganan koran. Sejak aku SD. Aku sudah terbiasa melihat dan membaca koran di rumah kakek.
Tawa dan canda selalu berderai dari mereka, para kaum sepuh. Wajah mereka selalu berseri. Tak ada guratan kesedihan yang terpancar dari wajah-wajah tua menyongsong waktu senja. Tak ada sama sekali. Dan biasanya saat lembayung dengan sinar kemerah-merahannya mulai tampak diufuk, mereka secara berangsur-angsur meninggalkan rumah kakek.
Sore itu aku datang ke rumah kakek. Hanya dalam tempo limabelas menit, aku sudah sampai. Ku lihat banyak mobil terparkir rapi di halaman rumah kakek. Beberapa diantaranya mobil bernomor polisi berwarna merah parkir. Aku bertanya dalam hati. Siapa gerangan tamu kakek?
Aku melihat kakek tampak sedang asyik bercakap dengan tamunya yang memakai baju safari seperti pejabat yang sering kulihat di koran. Apalagi ada beberapa pegawai kecamatan yang juga ikut menemani lelaki berpakaian safari itu. Kakek dan lelaki bersafari tampak akrab. Mereka tampak seperti dua sahabat lama yang sudah tak bertemu. Sejuta kecerian terhampar dari wajah keduanya. Kopi tentu saja menjadi menu khusus sore itu. Walaupun kulihat ada juga pisang goreng dan ubi goreng.
Usai tamunya pulang, aku bertanya kepada kakek tentang siapa orang yang berkunjung tadi. Kakek menjawab dengan santai. Tak ada rasa bangga. Datar saja suaranya seperti biasanya.
“Oh, itu Pak Wakil Gubernur,” jelasnya.
“Wakil Gubernur?” seruku dengan nada setengah tak percaya.
“Iya. Dulu waktu kakek masih aktif bekerja, beliau masih berstatus sebagai pegawai magang di kantor bupati. Tugasnya menerima tamu dan mencatatnya. Maklum dia baru lulus dari pendidikannya. Kadang dia juga membuatkan naskah pidato Pak Bupati,” jelas kakek santai.
“Ngapain Pak Wakil Gubernur datang ke rumah kakek?” tanyaku dengan penuh usut.
“Bersilahturahmi. Kami sudah lama tak bertemu. Kebetulan beliau sedang ada tugas ke kota kita, makanya beliau mampir,” kata kakek. Aku hanya terdiam.

___

Di sekolah menengah pertamaku, aku sering mendengar nama kakek disebut oleh para guru. Mereka menyebutku dengan sebutan cucu Pak Ali. Demikian pula kalau aku bersama Ibu berlibur ke kampung halaman saat masa libur sekolah. Para tetangga rumah ibu di kampung memanggilku dengan sebutan cucu Pak Camat. Mereka kalau bercakap dengan ibu selalu menanyakan kabar kakek. Dan biasanya selalu kata jujur dan baik terlontar dari mulut mereka.
“Mertuamu itu orang yang jujur,” ujar mereka kepada ibu. “Dan baik hati pula. Suka menolong orang,” sambung yang lain.
“Seandainya beliau mau kemaruk harta barangkali sudah kaya raya,” lanjutnya.
Ibu biasanya cuma tersenyum. Ada kebahagian yang terpancar dari wajahnya sebagai menantu kakek. Sementara aku cuma bengong saja. Belum mengerti.
Cuma yang kutahu, kakek hanya memiliki satu rumah saja. Kebun tak ada. Kendaraan roda dua pun tak ada. Apalagi roda empat. Tak ada sesuatu yang istimewa dari isi rumah kakek. Hanya sepasang kursi tua. Tak ada sama sekali barang-barang yang luxs yang menandai bahwa kakek dulunya seorang kepala pemerintahan kecamatan.
Tak ada sama sekali. Biasa saja. Paling hanya ada sebuah radio tua yang sering diputarnya saat malam. Untuk mendengarkan berita dari BBC London. Sementara televisi hitam putih itu pemberian anaknya yang bekerja di sebuah perusahaan tambang.
___

Ketika kakek wafat, aku baru memahami. Maklum aku sudah dewasa. Dari cerita Ibu, dan para kawan lamanya kakek, ternyata semasa hidupnya kakek itu seorang amat baik hati dan penolong. Tak suka memanfaatkan jabatan. Banyak sekali orang yang ditolongnya tanpa memandang suku, agama dan warna kulit, bahkan kakek juga banyak membantu anak-anak yang putus sekolah untuk melanjutkan pendidikannya. Maklum kakek saat itu tercatat sebagai ketua yayasan sebuah sekolah menengah atas di kota kami.
Kini kakek sudah bahagia di alam kuburnya. Warisannya berupa kebaikan tetap diingat dan tak pernah lekang dimakan zaman. Dan aku sebagai cucunya, selalu merindukan waktu sore hari bersama kakek. Saat mentari mulai tenggelam. Saat rembulan mulai terbangun dari mimpi panjang. Saat sore ketika minum kopi di teras rumah kakek sambil menunggu koran datang, diantar sang loper dan berebut cepat dengan kakek untuk membacanya. (***)

Comment

BERITA TERBARU