Sebuah Harapan

No comment 414 views

Karya Abrillioga
Siswa SMAN 1 Toboali

Dikeheningan malam yang sunyi, aku duduk termenung memandang sejuta bintang yang berpijar di hamparan angkasa yang begitu menakjubkan. Dengan bersandar pada dinding teras rumahku diselimuti angin malam serta suara jangkrik yang berdelik bagaikan paraduan simfoni alunan musik yang menambah indahnya dikegelapan malam yang sunyi ini. Di gubuk rumah bambu dengan beratap daun kelapa inilah kala aku masih dipangku sang ayah dengan hangatnya kebersamaan, sehangat singkur yang terpanggang, duduk bercanda sambil menyantap sedapnya sambal terasi bersama keluarga kecilku.
Terkadang aku menangis meratapi nasibku nanti, membendung sejuta harapan. Zaman ini membawaku seakan-akan berlalu lalang, akan dibawa kemana hidupku kelak? Sungguh tuhan, ku tak sanggup melihat pengorbanan yang dilakukan ibuku selama ini. Ibuku adalah perempuan yang kuat dan tangguh, berkat ibulah aku dan adikku masih bisa bersekolah hingga saat ini. Ayahku sudah lama kembali ke tahta sang ajal ketika penyakit tumor ganas menggerogoti tubuhnya. Sekarang ini ibukulah yang menjadi ayah sekaligus bagi kami.
“Ujang kok belum tidur? Sudah larut malam ini, angin malam tak baik untuk kesehatan nak“ kata ibuku.
“Aku tersentak dari lamunanku. Yah umak, sebentar lagi ujang masuk,“ ujarku.
Malam semakin larut, cahaya bulan pun sudah berselimut diawan yang tebal, hanya sorotan lampu bambu yang menyinari kegelapan malam yang sunyi ini, suara jangkrik pun telah lenyap dibawa angin malam. Saatnya untuk pergi ke alam mimpi, yah mimpi yang tak pernah padam dari pelita hidup kami, dengan berbaring beralas tikar hasil anyaman daun kelapa yang dibuat ibuku untuk penghangat insan yang beku bagi kami sepanjang malam beda halnya dengan orang kebanyakan yang berbaring di kasur empuk dan nyaman.
Dari kejauhan sayup-sayup suara azan subuh telah berkumandang. Memecahkan kesunyian di kampung Air Merba yang menandakan fajar shidiq telah lepas dari paraduannya. Saat waktu untuk melaksanakan perintah illahi bagi umatnya. Dengan sarung dan baju koko sebagai hadiah untukku, ketika hataman alquran dulu dari ayahku, berdiri tegak dan sempurna menghadap kiblat menjadi imam sholat subuh dari ibu dan adikku. Walaupun kehidupan kami yang kurang beruntung di dunia ini, tetapi kami tak pernah untuk meninggalkan kewajiban Sang Illahi ya Robbi.
Sang surya sudah naik dan duduk di singgasananya. Saatnya menjalankan aktivitas bagi semua orang. Aku pun sudah rapi dengan seragam SMA, adikku masih merapikan seragam SD nya dengan dibantu oleh ibu. Seraya menunggu, aku mengeluarkan sepeda sepeninggalan ayahku dari gubuk bawah rumah. Dengan sepeda yang sudah tua dan usang inilah yang menjadi harapan bagiku dalam menjamah baris pepohonan setiap perjalanan yang kutempuh. “Umak, ujang mau berangkat ke sekolah dulu ya” ujarku dan adikku sambil tunduk dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Iya nak, hati-hati di jalan‘’ kata ibuku dengan suara yang lembut dengan penuh kasih sayang.
Setelah aku dan adikku berangkat ke sekolah, ibuku segera untuk mencari pundi-pundi rupiah dengan bekerja sebagai pedagang kue keliling kampung sambil berjalan kaki, tertatih menitih jalanan yang berdebu dengan hangatnya sang mentari pagi. Beliaulah satu-satunya malaikat pelindung bagiku. Semangat hidup ibu tak pernah mengenal lelah. Dengan jerih payah beliau kami masih bisa melihat butir-butir nasi untuk menyambung hidup, tak sedikit biasanya kami sering makan sepiring bertiga apabila hasil penjualan kue ibuku tak semesti apa yang beliau harapkan. Terkadang aku berpikir bisakah aku membayar segala pengorbanannya? Sungguh terasa hampa hidupku jika kalau aku tak mampu membuat ibu bahagia.
“Kring-kring“ bel istirahat sekolah berbunyi, anak–anak berhamburan keluar dari kelas menuju kantin. Tidak sama halnya diriku yang tidak membawa uang jajan sama sekali, berbekal sepiring nasi dengan sambal terasi sebagai pengisi perut yang kosong saat sarapan sebelum berangkat ke sekolah hingga tiba waktu bel sekolah usai. Bila terasa lapar aku memilih berdiam diri bungkam seribu bahasa seakan mengadu pada angin yang bertiup perlahan-lahan menerpa tumbuh-tumbuhan yang ada di taman sekolah, yang tak mungkin dapat mendengarkan segala keluh kesahku. Aku malu jika menceritakan keadaan ini pada teman–temanku.
”Apa mereka mau mendengarkan penderitaanku?” gerutuku. Teman-temanku merupakan orang yang berada, namun aku bangga dapat diterima di sekolah ini melalui jalur beasiswa, Tuhan masih memberi belas kasihan serta keadilan pada kami yang kurang beruntung untuk mengenyam pendidikan yang berkualitas di SMA ternama di kota Belitung.
Tak mau menghabiskan waktu di kelas, aku bergegas ke perpustakaan sekolah untuk membaca buku. Dengan membaca inilah aku bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang kelak akan berguna untuk kehidupan dunia dan akhirat.
“Tanpa ilmu manusia buta“ itulah pikirku. Seperti biasanya guru penjaga perpustakaan selau tersenyum ramah padaku, aku pun membalas balik senyumannya. Satu persatu buku kulihat dengan tersusun rapi layaknya pasukan bala tentara, belum ada satu buku yang dapat menarik perhatianku, aku sedang mencari buku
“The Ultimate of Shalat Tahajud’’. Belum selesai mencari buku yang kuinginkan, aku dikejutkan dengan suara panggilan dari belakang, ternyata temanku. Ia bilang bahwa aku disuruh menemui kepala sekolah. Tiba-tiba aku bingung, “Ada apa ya?‘’ pikirku. Kecemasan mulai menghampiri pikiranku, bagaimana jikalau beasiswa ku nanti dicabut?. Wallahualam.
Seketika itu lenyap semua harapan yang kuimpikan, ya harapan untuk membahagiakan satu-satunya orang tuaku. Aku benar-benar gugup dengan berjalan sambil menatap langit-langit teras kelas disertai keringat dingin yang membasahi wajah dan keringnya kerongkongan ku yang rasanya begitu pekat, tetapi aku memberanikan diri untuk masuk setelah tepat berada di balik pintu ruang kepala sekolah.
Seraya mengetuk pintu, aku pun dipersilahkan masuk dan duduk dengan tatapan tertunduk. Aku memasang telingaku dengan jantung yang berdetak kencang dan siap mendengarkan setiap perkataan beliau ucapkan. “Nak, bapak ingin berbicara hal yang penting padamu,“ ujar beliau dengan nada suara yang serius. “Masalah apa pak,” tanyaku dengan nada suara yang rendah.
“Begini nak, kamu kalau sudah lulus SMA nanti mau melanjutkan kemana?“
Aku menghela napas dengan leganya, jantungku yang semula berdetak dengan kencang layaknya bom yang hendak meledak, sekarang berhenti dengan detakan jantung yang berirama. Syukurlah ini semua bukan hal yang kutakutkan, pikirku.
“Mungkin Ujang tak bisa pak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, pendidikan ujang hanya bisa berakhir sampai SMA ini saja, Bapak tahukan kami orang yang tak mampu,“ kataku dengan pasrah menerima apa adanya. “Tetapi engkau dapat kesempatan Jang, kau ditawarkan beasiswa untuk kuliah di luar pulau Belitung. Ini lah yang ingin bapak katakan, kau merupakan satu-satunya siswa SMA dari Belitung yang berhasil mendapatkan beasiswa di Universitas ternama di Yogyakarta tanpa biaya. Bapak sangat bangga denganmu Jang’’.
“Benarkah pak? Allhamdulillah ya tuhan, kau memberiku nikmat yang tiada tara” sambil bersujud syukur pada sang illahi.
Hari itu merupakan hari yang paling berkesan dalam hidupku, terasa segala hal yang ku angan-angankan akan terwujud semuanya. Aku sungguh tak sabar ingin segera memberi tahu ibu. Seakan-akan dunia ini berada dalam genggamanku. Kesedihan yang kurasakan selama ini akan sirna hilang ditelan bumi. Setelah pulang sekolah, lalu aku menjemput adikku menggunakan roda dua yang sudah tua itu, tetapi dengan penuh kegembiraan aku serasa sedang mengendarai sepeda motor. Seluruh medan yang kukayuh dengan melewati sawah perladangan yang berbelok-belok tak terasa sama sekali. Bunyi kicauan burung di sepanjang perladangan sawah seakan menyapa memberi ku ucapan selamat. Rimbainya pepohonan diiringi tiupan angin sepoi-sepoi terasa menusuk sukmaku.
Ketika sampai di rumah, ku dapatkan ibuku yang sedang berbaring lemah di atas tikar dengan bibir yang pucat, hitam bola matanya seakan-akan redup. Aku terkejut, jantungku berdetak sangat kencang, lalu ku berlari sambil menghampiri malaikat ku itu, dengan suara yang serak ibuku batuk-batuk memecahkan kesunyian dalam gubuk ini. Aku menyuruh adikku untuk segera menuangkan segelas air putih, lalu ku tuangkan perlahan pada bibir yang lembut itu untuk melegakan tenggorokan yang kering.
“Ada apa ini umak? Kenapa umak kelihatan pucat sekali?“ ujarku dengan suara merintih sedih. “Umak tak apa-apa nak, kau tak perlu risau. Umak hanya kecapean saja, yang penting kesehatan kedua anak umak itu sudah lebih dari cukup” ujarnya sambil duduk bersandar pada dinding bambu. ‘ Ya ALLAH, berikan kami kesabaran untuk menghadapi segala cobaanmu,” harapku.’
“Umak, ujang ingin memberi tahu umak tentang suatu hal apabila umak berkenan”
“Ada apa Jang? ” ‘’Begini umak, ujang dapat beasiswa untuk melanjuti kuliah di universitas ternama di Yogyakarta. Tapi ujang masih bingung umak,” ujarku ‘’Wah, anak umak hebat. umak bangga padamu nak” ucapnya dengan meneteskan air dari kelopakmata yang layu itu. “Ujang tak mau umak, kalau ujang pergi, nanti siapa yang menjaga umak dan Raka?
“Umak tak payah di jaga nak,umak bisa jaga diri dan adikmu, kamu harus kuat nak. Ingat dalam hidup ini kau harus yakin dan sabar dalam menghadapi segala sesuatu. Tuhan selalu bersamamu’’ ujarnya sambil menarik kain sarung ke tubuhnya.
‘’Aku hanya mengangguk tanpa memberikan komentar apapun’’.
Kemudian, aku menjalani hari-hariku tak seperti biasanya. Segala pekerjaan harus ku kerjakan dengan tanganku sendiri. Ibuku sudah berhari-hari terbaring lemah diatas tikar dengan kondisi tubuh yang tak berdaya. Wajah yang biasanya cerah secerah sinar mentari sekarang redup tanpa sinar harapan. Kecemasan mulai menghampiriku. Segala upaya ku lakukan untuk menyembuhkan penyakit sang Ibu. Berbagai tabib telah mencoba untuk menyembuhkannya,tetapi tak kunjung sembuh. Seakan-akan penyakit itu sudah merajai di tubuhnya.
Tapi, nyatanya, hari itu datang. Aku ada kegiatan les untuk persiapan menghadapi ujian nasional. Senja hari itu terasa lebih lama dari biasanya dan itu menyiratkan suatu hal buruk yang akan terjadi. Ketika aku sedang dalam perjalanan pulang, aku bertemu dengan salah satu seorang tetangga yang satu kampung dengan kami. Dia mengatakan ada sesuatu yang buruk yang terjadi di rumah gubuk itu.
Detak jantungku semakin kencang, kekhawatiran menghantuiku. Seluruh panca inderaku seakan akan lumpuh total. Tak dapat terucap satu katapun yang keluar dari mulutku. Seketika aku teringat ibuku yang terbaring lemas di atas tikar. Aku pun meninggalkan tetangga ku itu tanpa mengucapkan kata terimakasih. Ku kerahkan segala kekuatan dan tenagaku mengayuh sepeda tua itu dengan melewati jalan berbelok-belok. Tak ku hiraukan bebatuan yang mencoba menghalangiku. Kicauan burung yang biasanya terdengar merdu sekarang bungkam. Tiba-tiba entah bagaimana penglihatanku gelap, seraya kabut hitam malam menghampiriku. Kepalaku begitu berat seakan akan harus ditopang tiang besi paling kuat. Aku menggelengkan kepalaku, mencoba mengusir rasa sakit yang merajai, tetapi malangnya sepeda tuaku hilang keseimbangan dan menabrak batu cukup besar yang ada di depan. Aku jatuh tersungkur tak berdaya. Tetapi, aku berusaha bangkit dari tanah yang mencoba menahanku, lalu aku berlari sekencang-kencangnya meninggalkan sepeda tua peninggalan ayahku itu. Sampai tiba di depan kerumunan banyak orang yang menutupi rumah gubuk yang terbuat dari bambu itu, dengan beratapkan daun kelapa sebagai pelindung dari panas dan hujan. Aku bergegas masuk, menyelinap diantara banyak orang dan aku tidak peduli, aku harus memastikan gerangan apa yang terjadi.

Seketika itu, darahku seakan terhenti sejenak. Aku terpaku menatap adikku terduduk lemas di tikar, memeluk sesosok wanita yang dilapisi kain. Tungkaiku melemah sehingga aku merosot ke tanah yang tak dapat menahan raga ini. Dengan keluh kesedihan yang mendalam, aku mendekati tanpa dapat berkata. Di balik kain putih itu pun aku tau, Ibu berbaring terbujur kaku dibaliknya. Tidak ada lagi detik kehidupan di insannya. Aku menangis pilu yang tak tertahankan, seakan-akan tubuhku dihantam palu yang begitu berat. Tak ada yang dapat ku lakukan, semuanya sudah terlambat,nasi sudah menjadi bubur. Menangisi tubuh Ibuku yang tak mungkin dapat mendengar haluan tangis kesedihan di rumah gubuk ini. Aku mencoba mendekapkan telingaku ke jantung beliau, berharap menemukan sebuah detakan kehidupan, tetapi hanya kehampaanlah yang ku dapatkan.Rasa sakit di tubuhnya telah lenyap terkubur di dalam tanah. Beliau telah menghadap sang illahi ya Robbi, sebelum sempat menyaksikan keberhasilan anak-anaknya.

Sekarang tinggallah aku bersama adikku di rumah gubuk itu. Ibu sudah pergi selama-lamanya menyusul sang ayah di tahta sang ajal. Hari yang begitu kelam kulewati bersama adikku. Dengan penuh kesabaran dan keyakinan yang ibu sampaikan pada saat beliau masih hidup, ku jalani apa adanya. Amanat yang ibu sampaikan itu sangat berharga dari sebuah mutiara bagiku, seakan-akan itu rahasia besar yang dapat mengguncangkan dunia. Tinggal menunggu waktu aku menyelesaikaan belajarku di SMA, setelah itu aku akan pergi merantau ke negeri orang untuk melanjutkan pendidikanku yang lebih tinggi sambil bekerja.
Waktu yang kutunggu telah tiba, dari hasil pengumuman itu, aku mendapatkan nilai tertinggi di kota Belitung serta mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi di kota ternama Yogyakarta. Disaat waktu yang berbahagia ini, Ibu dan Ayahku tak bisa menyaksikan anaknya berdiri di atas podium. Aku menangis terharu teringat kedua orang tuaku ketika kami masih bersama di dunia ini. Aku mengerjapkan mata, membayangkan wajah kedua orang tuaku dengan memberi pelukan kasih sayang mereka kala aku masih dipangkuan mereka. Tetapi,aku berusaha tegar menerima kenyataan ini. Kesabaran yang kulakukan selama ini membuahkan sinar harapan yang tak terduga dari sebelumnya. Aku akan mengejar segala impian yang kutanam dari dulu.
Dengan sangat terpaksa aku menempatkan adikku di rumah paman yang berbaik hati untuk membantu menopang hidup kami. Aku janjiakan menjadi orang yang berguna demi membahagiakan kedua orang tuaku,walaupun tak sempat membahagiakan mereka ketika napasnya masih berdetak di dunia ini. Aku yakin mereka pasti menyaksikan kami dari kejauhan yang tak dapat terlihat dikasat mata.Semoga Ayah dan Ibu bahagia dalam pelukan Sang Illahi.

No Response

Leave a reply "Sebuah Harapan"