Sebuah Catatan untuk Hardiknas, Urgensi Pendidikan Keluarga & Literasi Digital

  • Whatsapp

Oleh : Deddy Kristian Aritonang
Alumnus Pascasarjana Unimed/Guru SMP/SMA Sutomo 2 Medan

Indonesia adalah satu dari banyak negara yang mengalami kemajuan pesat dari sisi perkembangan teknologi dan digitalnya. Global Digital Report tahun 2018 merilis sebuah laporan bahwa pengguna aktif internet di negara kita Indonesia mencapai 132 juta jiwa dari total penduduk 265,4 jiwa. Masifnya penggunaan internet ini didominasi oleh rutinitas bermedsos (media sosial) ria yang menjangkit berbagai kalangan usia dari anak-anak hingga orang tua. Namun sayang, fenomena ini belum disokong oleh pengetahuan masyarakat secara mumpuni dalam hal menggunakan medsos secara tepat guna.
Dalam dunia pendidikan di Indonesia, pendidikan karakter merupakan kunci utama yang dianggap punya peran penting membawa perubahan besar di setiap satuan pendidikan. Tema besar yang diusung dalam Kurikulum 2013 ini, sudah menjadi wajib sifatnya dan harus dilaksanakan di sekolah-sekolah. Tak cukup sampai di situ, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2017 menitikberatkan peran keluarga dan masyarakat untuk ikut serta membantu satuan pendidikan dalam membentuk karakter kuat setiap generasi bangsa. Gagasan ini tentunya harus kita sambut gembira, namun di dalam kurikulum 2013 belum terdapat porsi yang ideal untuk penerapan literasi media sosial bagi peserta didik.
Edukasi tentang bagaimana menggunakan media sosial dengan bijak tentu sangat mutlak diperlukan, mengingat bukan rahasia umum lagi bila pelajar di Indonesia sangat menggandrungi aktifitas-aktifitas di medsos-medsos populer seperti Facebook, Instagram, Twitter, Whatsapp, Line atau Youtube. Kehadiran medsos membawa dua dampak positif dan negatif sekaligus, sehingga diibaratkan sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, medsos dapat digunakan sebagai sarana untuk mengakses informasi penting, sehingga dapat membantu proses pembelajaran peserta didik di sekolah dan menjalin silaturahmi dengan teman-teman.
Namun di sisi satunya, penggunaan medos juga dapat memberi pengaruh buruk, bahkan bisa masuk kategori berbahaya. Kita semua tentu sudah mafhum dengan makna peribahasa lawas mulutmu harimaumu, yakni agar kita senantiasa menjaga lisan dari kata-kata tidak pantas yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Pada masa sekarang, kecanggihan teknologi menjadikan ungkapan ini telah bertransformasi menjadi jarimu harimaumu. Artinya, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang sudah dibuat sejak tahun 2008 silam siap menjerat pelanggaran-pelanggaran hukum yang terjadi di dunia maya, termasuk di media sosial akibat ketidakmampuan mengontrol jari-jari kita dari ujaran kebencian (Hate Speech), berita bohong (Hoax), penipuan (Fraud) dan lain-lain. Pelajar yang masih belum matang secara psikis sangat rentan terjerumus pada pelanggaran-pelanggaran hukum di dunia maya bila tidak ada langkah serius yang ditempuh untuk menyikapi fenomena ini.
Dampak Buruk Medsos
Harus diakui memang keberhasilan seorang pelajar dalam pendidikannya bergantung pada banyak hal. Tapi jika melihat gejolak yang terjadi di masyarakat sekarang, medsos bisa mendatangakan destructive effect (efek merusak) dan tanpa memandang usia. Seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu yakni tertangkapnya dua remaja yang masih berusia sekolah pelaku penghinaan kepada Presiden Joko Widodo melalui akun media sosial facebook dan twitter. Selain harus mengikuti serangkaian proses hukum yang berlaku, pendidikan dan kehidupan sosial kedua remaja ini sudah pasti menjadi terganggu.
Dampak buruk lain dari medsos adalah daya tariknya sangat kuat hingga mampu menjadi ‘zat adiktif’ bagi penggunanya. Apabila seorang pelajar telah mengalami kecanduan yang akut terhadap medsos, sudah bisa dipastikan proses pendidikannya juga akan terganggu. Pemandangan seperti ini suka atau tidak suka harus kita akui telah melanda banyak anak-anak sekolah di negara kita. Mereka cenderung menghabiskan waktu berjam-jam beraktifitas di medsos ketimbang memanfaatkan waktu luang mereka untuk belajar dalam diskusi kelompok, mengulang pelajaran sekolah di rumah atau berinteraksi sosial dengan anggota keluarga lain maupun masyarakat luas. Mereka akan terkurung dalam kenikmatan bermain medsos tanpa rasa peduli pada lingkungan sekitar.
Keluarga dan Literasi Medsos
Literasi umumnya mengacu pada kemampuan melek huruf yakni kemampuan baca tulis. Namun definisi itu kini meluas bukan sekedar pada mampu membaca atau menulis. Literasi saat ini juga harus mencakup pada kemampuan melek media yaitu kontrol individu terhadap media yang mereka gunakan untuk mengirim dan menerima pesan, terutama dalam konten media sosial.
Pembelajaran Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah selama ini, belum menyentuh ranah bagaimana pemakaian medsos dan internet secara bijak dan bermanfaat dalam kaitannya dengan UU ITE sebagai landasan hukum. Pemerintah harus mulai menggodok kembali K-13 agar memuat unsur literasi media sosial. Sehingga pelajar kita tidak hanya fasih menggunakan gawai, namun juga melek terhadap dampak negatifnya, terutama hal-hal yang berpotensi melanggar hukum.
Sebagai unit sosial terkecil di dalam masyarakat, keluarga adalah fondasi sekaligus benteng pertahanan terakhir yang bisa diharapkan menghalau pengaruh-pengaruh negatif di dunia maya. Para orang tua harus mampu mengawasi setiap aktifitas anak di dunia maya. Selama ini sering ditemukan bahwa orang tua sudah mencekoki anak-anak bahkan balita dengan smartphones (ponsel pintar), hanya agar si anak tidak rewel atau berhenti menangis. Ini merupakan perilaku yang salah. Selain cahaya radiasi yang buruk bagi kesehatan mata, tanpa sadar orang tua sudah menjadikan ponsel pintar sebagai solusi agar anak tidak nakal dan mengganggu.
Anak-anak diperkenankan menggunakan ponsel pintar dan internet ketika usianya sudah cukup. Pemakaiannya pun harus lebih dititikberatkan pada mencari bahan-bahan pelengkap pembelajaran di sekolah. Membudayakan kebiasaan-kebiasaan baik seperti makan bersama dan meluangkan waktu berbicara mengenai sekolah, keluarga dan hal-hal positif lainnya secara rutin niscaya akan menjauhkan anak dari dampak buruk medsos. Pada akhirnya anak-anak tidak hanya akan lebih menghargai waktu bersama keluarga, tapi juga mendapatkan perhatian yang bisa mendukung keberhasilan pendidikannya. Paling tidak itulah cacatan kecil dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap tanggal 2 Mei. (***).

Related posts