Sebelas Tokoh Adat dan Sejarawan Senyubuk Berkumpul

  • Whatsapp
Tetua, tokoh adat, dan sejarawan foto bersama Bupati Beltim, usai dalam seminar menentukan Hari Jadi Desa Senyubuk, yang diadakan di Gedung Serba Guna Kecamatan Kampit, Selasa (15/10/2019). (foto: istimewa).

Putuskan 7 April Hari Jadi Desa Senyubuk

Kelapa Kampit – Desa Senyubuk Kecamatan Kelapa Kampit menggelar Seminar Hari Jadi Desa Senyubuk. Sebanyak 11 orang tetua, tokoh adat, dan sejarawan berkumpul dalam seminar yang diadakan di Gedung Serba Guna Kecamatan Kampit, Selasa (15/10/2019).

Seminar satu hari itu pun memutuskan 7 April akan ditetapkan sebagai Hari Jadi Desa Senyubuk. Tahun 2019 ini, salah satu desa tertua di Kabupaten Beltim itu sudah genap berusia 142 tahun.

Penggalian sejarah mengenai hari jadi didasari oleh buku catatan sejarah Peta Tambang Staatsblad tahun 1887. Buku peta yang dikeluarkan oleh Pemerintah colonial Belanda saat itu sudah menyebutkan tentang nama Desa Senyubuk yakni ‘Senjoebok’.

Bupati Beltim, Yuslih Ihza yang turut membuka seminar mengatakan Pemkab Beltim sangat mendukung adanya perumusan terbentuknya Desa Senyubuk. Setiap desa diharapkan dapat mengetahui tentang sejarah, jati diri, identitas serta keunggulan yang ada.

“Desa Senyubuk mempunyai jati diri sebagai wujud kecintaan dan kebanggaan akan sejarah masa lalu. Ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah,” kata Yuslih.

Diakui Yuslih, dari 39 desa yang ada di Kabupaten Beltim baru Desa Senyubuk yang memiliki ide untuk mengelar seminar seperti ini. Ia pun berharap desa-desa lain akan mencontoh dan mengadopsi yang dilakukan Desa Senyubuk.

“Ini kan hal yang baik kalau dicontoh dari desa lain juga akan lebih baik. Harapannya nanti dari tahu sejarah, desa akan berkembang menjadi desa yang kuat, maju, mandiri dan demokratis,” ujar Yuslih.

Camat Kelapa Kampit, Syahril mengungkapkan Desa Senyubuk merupakan salah satu barometer Kecamatan Kelapa Kampit. Jika pembangunan di Desa Senyubuk bangkit maka Kecamatan Kelapa Kampit juga terangkat.

“Senyubuk inilah barometer dari Kecamatan Kelapa Kampit. Intinya kalau desa ini bangkit, bisa membangkitkan kecamatan namun tidak melepaskan kontribusi desa-desa yang lain,” tambah Syahril.

Berasal dari Nama Sungai dan Sepasang Anak

Selain mencari hari jadi Desa Senyubuk, seminar juga diadakan untuk mencari asal usul nama Senyubuk. Diyakini Senyubuk atau nama dulunya Senjoebok berasal dari nama sungai kecil yang ada di Desa Senyubuk sendiri, yakni Aik Penyabok.

“Senyubuk atau Senyubok itu dulunya berasal dari nama mata air yang dari dulu ada, letaknya tepat di belakang rumah Kik Dukun Bakti,” ungkap Kepala Desa Senyubuk Annasrul Hakim.

Namun versi lain juga menyatakan Senyubuk berasal dari sepasang nama anak Belanda ‘Sinyo’ dan anak keturunan etnis Tionghua ‘Abok’ yang tinggal di Desa Senyubuk, lama kelamaan jadilah Senyubok.

“Tapi khusus untuk versi ini harus kita kaji kembali. Karena sebelum Belanda dan Cina datang kan nama Senyubuk itu sudah ada,” jelas Annas.

Asal usul nama Desa Senyubuk sendiri nantinya akan diangkat pada Toonel atau drama teather ‘Hikayat Senjoebok’. Toonel akan dilangsungkan pada puncak Festival De Senjobok II pada 18 Oktober 2019 mendatang.

“Jadi nanti kita cetuskan dalam seminar dan kita sampaikan dalam Toneel itu asal usul Senjoebok,” terang Annas. (yan/kmf/3).

Related posts