by

Sarjana, Pencari atau Pencipta Lapangan Kerja?

-Opini-257 views

Oleh: Kurnia Paris Nainggolan, S.Pd
Guru Perbankan di SMK Teladan Sumut 1 Medan

Rendahnya minat lulusan sarjana Indonesia untuk menciptakan lapangan kerja sudah jadi berita klasik namun saat ini belum ada strategi aplikasi yang ampuh untuk mengatasi permasalahan ini. Keinginan untuk menciptakan lapangan kerja atau yang akrab disebut dengan job creator bukanlah materi baru bagi mahasiswa. Hal itu sudah didengung-dengungkan sejak dahulu agar setelah lulus nanti dapat menjadi job creator seperti pengusaha (Entrepreneur), pendiri/ pelopor (founder) atau direktur utama (Chief Executive Officer). Sayangnya, mayoritas sarjana Indonesia masih memilih menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Hal ini dapat kita lihat dari pernyataan Jusuf Kalla pada Dies Natalis ke-60 di UPN Yogyakarta November 2018 lalu, bahwa pemerintah merekrut PNS sebanyak 50 ribu orang per tahun di seluruh Indonesia. Dari 50 ribu orang tersebut, jatah sarjana hanya 10 ribu. Padahal, jumlah sarjana yang dihasilkan universitas di Indonesia mencapai 1 juta per tahun.
“Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kalimat Presiden pertama Ir.Soekarno ini, harusnya menjadi motivasi bagi sarjana untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas diri menjadi generasi emas Indonesia. Namun, banyak sarjana hanyut dalam khayalan profesi PNS, pegawai dan karyawan. Belum lagi kebudayaan orang tua yang mentitikberatkan kesuseksesan anak adalah ketika menjadi PNS dan karyawan di perusahaan yang bonafit. Alhasil, orang-orang yang bervisi menciptakan lapangan kerja semakin sedikit.
Setelah 4 tahun moratorium, pada tahun 2018 lalu, pemerintah kembali membuka formasi PNS. Ternyata yang mendaftar sangat banyak, yakni mencapai 4,4 juta orang, sedangkan yang diterima hanya 125 ribu orang. Artinya yang diterima hanya 3 persen dari total pelamar. Hanya orang – orang terbaik sajalah yang akan lulus, lalu bagaimana dengan sarjana yang tidak lulus CPNS ?
Bagaimana pun, PNS bukanlah satu – satunya cita – cita yang dapat mengukur kesuksesan, karena semua pekerjaan bisa menghantarkan kita kepada kesuksesan. Karya yang mumpuni dapat membangun negeri, karena negara yang generasi mudanya berani mengambil risiko adalah negara yang akan cepat maju, sebut saja Amerika, Jepang, dan Singapura.
Era Revolusi Industri 4.0 saat ini harusnya membuat pemuda lebih kompetitif, karena ada 3 hal literasi baru yang harus dikuasai, seperti (1) Literasi Data (kemampuan untuk membaca, analisis dan menggunakan informasi di dunia digital, (2) Literasi Teknologi (memahami cara kerja mesin aplikasi teknologi), dan Literasi Manusia. Hal ini sejalan dengan pernyataan Marmolejo, World Bank tahun 2017 bahwa mahasiswa lulusan sarjana baru membutuhkan kombinasi berbagai keahlian yang berbeda yang membuat solusi atas persoalan bangsa yang tidak hanya sekedar mencari kerja (PNS) melainkan pencipta lapangan kerja baru.
Visi menciptakan lapangan kerja, motto yang harus terpatri di dalam sanubari setiap sarjana. Sebenarnya, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya. Pertama, kita harus berani mengambil risiko. Mengambil risiko adalah bukti bahwa kita punya keberanian dan keyakinan terhadap apa yang kita sukai. Kalau kita sudah menyukai sesuatu, tentunya kita akan melakukan apapun untuk mewujudkannya. Kalau kita berani, pasti tidak akan ragu – ragu untuk meraihnya. Contohnya Mark Zuckerberg yang berani menyandang risiko drop out dari Universitas Harvard lantaran ingin fokus mengembangkan jejaring sosial facebook di masa itu. Kini facebook sudah menjadi perusahaan digital raksasa dengan 2,23 miliar pengguna aktif.
Kedua, bergabung dengan komunitas sevisi. Komunitas akan menjadi pengingat tempat bertumbuhkembangnya pengalaman dan pengetahuan. Sama halnya kalau kita tersesat di tengah jalan, maka jalan pulang adalah dengan bertanya kepada orang yang tahu jalan pulang. Demikian juga dengan keterlibatan di komunitas, akan banyak mentor yang sudah sukses dan berpengalaman yang dapat menunjukkan kita cara dan kiat-kiat untuk terus konsisten dalam berkarya. Hal ini pasti akan menumbuhkan minat dan semangat kita.
Ketiga, harus mengikuti kompetisi program wirausaha. Ala bisa karena biasa dan kebiasaan perlahan akan berubah menjadi karakter. Karakter kompetisi wirausaha sangat penting karena bisa menjadi tempat bagi siapa saja yang ingin merealisasikan ide bisnis untuk memulai usahanya. Ketika usaha sudah dimulai maka tinggal butuh keseriusan menjalankannya agar lebih besar lagi. Ketika usaha sudah besar, maka akan dapat merekut tenaga kerja. Beberapa contoh kompetisi yang bisa kita ikuti adalah kompetisi Wirausaha Muda Mandiri (WMM), kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (BMI), dan masih banyak kompetisi lainnya.
Keempat, Pemerintah perlu membuat mata kuliah dan praktek kewirausahaan pada semua jurusan di perguruan tinggi Indonesia, mengingat jumlah wirausaha Indonesia saat ini masih 3% dari total populasi Indonesia, masih tertinggal Malaysia dan Singapura yang sudah di atas 4%. Negara berkembang yang ingin menjadi negara maju tentunya harus memiliki standar wirausaha sebesar 14%. Artinya, diperlukan percepatan program kewirausahaan yang baik untuk mencapai hal tersebut.
Terus mencari pekerjaan sama sekali tidak salah, tetapi alangkah lebih baik jika lulusan perguruan tinggi berusaha keluar dari zona itu, dan mulai belajar menciptakan lapangan pekerjaan. Transportasi berbasis aplikasi dan e-commerce yang berkembang saat ini, merupakan karya para lulusan perguruan tinggi. Untuk itu, selagi masih muda sudah saatnya kita berusaha dan mulai menggagas sesuatu yang dapat berpengaruh positif bagi kemajuan bangsa dan negara.(***).

Comment

BERITA TERBARU