Sang Jelata

  • Whatsapp

Karya: Rusmin

Malam semakin menjauh. Lolongan anjing hutan liar pun terdengar lirih. Hampir-hampir tak berdesis. Cahaya rembulan ikut mulai enggan mengibarkan sinarnya yang indah. Malam semakin hening. Sehening hati lelaki yang tiap hari berbaju safari. Suaranya amat religi. Panjatkan doa kepada Sang Maha Pencipta.
“Ya, Allah, Yang Maha Pengasih. Ampuni dosa-dosa kami dan dosa-dosa pemimpin kami yang telah tersesat dan menyesatkan kami dalam hidup,” ujarnya dengan nada suara yang sangat dalam sambil tengadahkan kedua tangannya.
ÔÇťAmpunilah kesalahannya dan luruskan jalan pikirannya ke jalan yang lurus,” lanjut lelaki itu dikeheningan malam.
Sementara di tempat berbeda doa senada pun dipanjatkan oleh lelaki yang sehari-hari selalu mengendarai mobil berplat merah.
“Ya, Allah luruskan pikiran pemimpin kami dari kesesatan duniawi. Ampunilah segala dosanya,” doanya dalam keheningan malam.
Para lelaki pengemban amanah itu amat tidak menyangka bila kesetiaannya kepada pemimpin harus berbuah pahit. Tidak menyangka sama sekali. Mereka terkejut, dibalik kereligiusan Sang Pemimpin ternyata terselip sebuah kerakusan besar yang tak dapat mereka bayangkan sebelumnya sebagai bawahan. Mereka sama sekali tak menyangka. Sama sekali tak menyangka. Apalagi selama ini, dimata publik, pemimpin mereka dikenal sebagai orang yang religius dan sederhana serta disiplin dalam bekerja.
“Memang benar sekali, Bung. Kesederhanaan tak menjamin seseorang akan rakus dan kemaruk akan harta,” ujar lelaki berbaju safari saat mereka bertemu di waktu istirahat jam kantor.
“Iya. Saya sama sekali tak menyangka. Sama sekali tak menyangka. Kalau tahu akan begini ujungnya, saya tak mau diamanahkan beliau jabatan sebagai kepala dinas,” ungkap temannya dengan nada suara amat menyesal.
Mentari meredup. Sinarnya seolah enggan menyinari bumi yang makin ganas. Ada rasa simpati dari sang mentari kepada para lelaki itu.
Mereka masih ingat saat dipanggil Sang Pemimpin untuk membahas masalah anggaran yang ada di dinas mereka. Dan sebagai bawahan keduanya sungguh berniat untuk membantu menyukseskan program pemimpin sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada rakyat yang telah memilih.
“Saya minta dana anggaran yang ada di dinas kalian itu bisa diserahkan kepada saya untuk membeli sapi yang akan saya berikan kepada petani. Apalagi kalian kan tahu visi misi saya soal bidang peternakan ini,” papar Sang Pemimpin di ruang kerjanya yang super luas itu.
“Siap, Pak,” ujar keduanya.
“Saya ingin memberikan sapi yang baik dan berkualitas super kepada para petani biar mereka bahagia dan bisa dijadikan sebagai modal usaha mereka. Dan secara kebetulan saya mempunyai sahabat yang memiliki peternakan sapi yang berkualitas,” lanjut Sang Pemimpin dengan nada penuh heroik.
“Dan kalau ada sesuatu dengan penegakan hukum pun, saya siap membantu kalian. Saya ada dibelakang kalian. Saya tak akan membiarkan kalian sendirian,” sambungnya meyakinkan bawahannya.
Tanda-tanda ketidakberesan mulai terlihat saat sapi-sapi bantuan itu diserahkan kepada petani. Para peternak banyak yang enggan menerima bantuan itu karena kualitas sapi amat jelek. Bahkan jenis sapi pun tidak sesuai dengan peruntukannya.
Kegundahan hati para lelaki itu mulai melanda, ketika media mulai memberitakan tentang sapi-sapi bantuan yang tak jelas peruntukannya.
Keluhan para peternak penerima bantuan pun mulai bergema dan menjadi konsumsi publik. Keluhan bantuan sapi itu seolah-olah sudah menjadi narasi umum dalam setiap pertemuan masyarakat. Tak ada yang mereka bicarakan selain soal bantuan sapi. Seolah-olah narasi tentang sapi begitu membahagiakan mereka.
Dan yang amat meluluhlantakan hati mereka ketika persoalan ini disampaikan kepada Sang Pemimpin, justru pengemban amanah rakyat itu malah menyalahkan bawahannya sebagai kepala Dinas yang tidak bertanggungjawab.
“Bapak-bapak kan sebagai pengguna anggarannya. Kalian harus bertanggungjawab atas semua itu. Kalian saya beri amanah sebagai kepala dinas harus mempertanggungjawabkannya. Masa saya yang harus bertanggungjawab. Saya ini pemimpin daerah. Bukan pemimpin dinas seperti kalian,” kata Sang Pemimpin dengan nada keras.
Dan para lelaki berbaju safari itu pun hanya terdiam. Membisu seribu bahasa. Suasana ruang kerja Sang Pemimpin pun hening. Sehening hati para kepala dinas yang sedang galau dan resah.
Kegundahan hati kian parah dan mulai dirasakan kepala dinas ketika aparat hukum menyidik kasus bantuan sapi itu. Dan keduanya pun harus berurusan dengan aparat hukum. Salah satu dari mereka bahkan hampir pingsan saat diperiksa aparat hukum.
Sementara Sang Pemimpin seolah-olah tak bersalah. Cuci tangan atas permasalahan yang menimpa bawahannya. Tak memberi dukungan sedikit pun. Seolah-olah membiarkan kepala dinasnya menerima hukuman. Seakan-akan itu perbuatan mereka.
Bahkan demi pencitraan dirinya sebagai pemimpin yang sederhana, dirinya di koran meminta aparat hukum untuk menuntaskan masalah sesuai dengan hukum yang berlaku.
“Saya katakan bahwa saya mendukung langkah penegakan hukum terhadap kepala dinas di daerah ini yang telah menyalahi wewenangnya. Saya tidak ingin di daerah ini ada korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Saya dukung langkah aparat hukum. Korupsi harus dibasmi di daerah ini,” ungkapnya dengan diksi yang berapi-api kepada pewarta saat mewawancarainya.
“Dan tolong kalian tulis bahwa saya sudah mewanti-wanti mereka agar berhati-hati dalam bekerja. Saya sudah seringkali sampaikan kepada para kepala dinas bahwa daerah ini zona korupsi. Tak ada tempat bagi mereka yang ingin dan berniat korupsi di daerah ini. Ini sudah saya sampaikan berkali-kali dalam setiap pertemuan dengan mereka,” sambungnya sambil meninggalkan kerumunan juru warta yang mewawancarainya.
Dan paginya disaat mentari bersinar dengan cahaya yang terang benderang, kepala dinas yang membaca komentar Sang Pemimpin pun langsung membanting koran yang tak habis mereka baca.
“Dasar pemimpin licik. Pemimpin tak tahu malu,” ungkap keduanya hampir secara bersamaan.
“Semoga Allah mengampuni dosa pemimpin kita,” ujar mereka dengan suara yang hampir berbarengan pula.
Sinar mentari mulai meredup. Padahal hari masih tergolong pagi. Tak ada kecerahan. Tak ada sama sekali. Hanya keredupan yang terlihat di bumi.
Kini keduanya hanya bisa pasrah dan memasrahkan diri dengan status baru sebagai tersangka. Sebuah atribut baru yang kini mereka sandang. Keduanya hanya bisa meluntakan diri dengan status baru sebagai koruptor. Keduanya hanya bisa memanjatkan doa kepada Sang Maha Pencipta agar Sang Pemimpin itu diberi jalan yang lurus dan tidak menzolimi bawahannya.
Pagi mulai menggeliat. Kokok ayam warnai bumi. Geliat mentari yang baru terbangun dari mimpi panjangnya mulai menerangi bumi dan penghuninya. Tak terkecuali menerangi jiwa dan hati Sang Pemimpin daerah kembali ke jalan yang lurus. Jalan yang diridhoi oleh Sang Maha Pencipta. Dan itulah doa dari mereka. Doa para kepala dinas yang telah terlunta-lunta karena penzhaliman dilakukan pemimpin mereka tanpa rasa perikemanusian. (***)

Related posts