Saksi Mata

  • Whatsapp

Karya: Rusmin

Saksi mata menghela nafas. Amat panjang helaannya. Sepanjang narasi yang bergaung dan muncrat dari mulut-mulut kaum follower yang hidup dari bernarasi. Dari warung kopi ke warung kopi bernarasi tanpa lelah hingga mentari tenggelam.
“Adalah sebuah kebohongan yang teramat besar, kalau dikatakan bahwa Bapak Alok adalah seorang bawahan yang tidak loyal kepada pimpinannya. Anda tahu kan, bahwa selama ini beliau yang menjadi sumber kekuatan tersembunyi dalam menopang pergerakan pimpinannya. Kita tidak bisa menafikan realitas yang ada dan memang terjadi,” seru seorang follower dengan nada suara berapi-api bak orator sedang kampanye di panggung.
“Hanya Pak Aloklah yang diajak ke sana ke mari mendampingi pimpinannya. Dan itu realitas. Fakta yang sebenarnya,” sahut follower yang lain.
“Pertanyaannya, apakah pimpinannya bahagia kalau Pak Alok ikut dalam kunjungannya kemana-mana? Persoalannya apakah pimpinannya senang kalau Pak Alok berada di sekitarnya?” suara saksi mata berdesis. Sunyikan suasana warung kopi yang hingar bingar oleh narasi-narasi para follower.
Semua mata mencari sumber suara berbalut fakta kebenaran itu. Semua telinga mencari dari mana datangnya suara tiba-tiba itu dan mengagetkan mereka. Saling menatap satu sama lain.
Sore itu, langit terlihat mendung. Awan gelap. Segelap hati para follower yang sedang berkumpul di sebuah ruangan yang luas. Mereka masih membahas tentang suara yang muncul di warung kopi tadi tanpa terlihat naratornya. Mereka seolah terpukul dengan suara yang datang bak halilintar di siang bolong tanpa diundang.
“Kalau suara yang kita dengar di warkop tadi benar dan fakta, maka usaha kita untuk mempopulerkan Pak Alok di mata pimpinan dan publik terancam gagal. Suara itu mengandung fakta kebenaran yang nyata. Sebuah realitas yang memang benar-benar terjadi,” ungkap seorang follower dengan nada suara prihatin.
“Itu sebuah aksioma. Yang tak bisa terbantahkan. Suara itu mengandung kebenaran yang hakiki,” sambung follower yang lainnya. “Dan itu merusak agenda yang telah kita susun dengan sangat lama dan memakan banyak energi,” lanjutnya.
“Faktanya, saya mendengar dari beberapa kolega Pak Alok bahwa mereka tidak mau ikut dengan pimpinan kalau Pak Alok hadir. Soalnya Pak Alok cuma mengibarkan narasi. Tapi tak terbukti,” sahut follower yang lain.
“Kita saja yang banyak mengumandangkan narasi pencitraan tentang Pak Alok. Padahal realitanya Pak Alok tak seperti itu. Jauh dari yang narasi yang berkembang di publik, bahwa Pak Aloklah yang menjadi sumber kekuatatan Pak Pimpinan selama ini,” lanjutnya.
Semua terdiam mendengar narasi itu. Tak ada yang membantah. Ruangan menjadi hening. Sunyi senyap. Sesenyap narasi yang mulai layu ditelan fakta yang terjadi.
Publik kaget setengah mati. Pak Alok tak dipromosikan ke dinas yang mereka dan Pak Alok inginkan. Pimpinan dengan beraninya justru menurunkan Pak Alok ke jabatan yang lebih rendah dari yang kini dibebankan kepadanya. Pak Alok terkulai di sudut ruang kerjanya. Para follower lemas setengah mati. Narasi pencitraan yang mereka gaungkan ke ruang publik gagal. Bahkan mereka kini mendapat sorotan dari publik.
“Ternyata mereka itu yang selama ini menyusun narasi pencitraan tentang Pak Alok ke ruang publik,” ujar seorang pengunjung warung kopi.
“Kok kamu baru tahu. Berarti selama ini kamu terbius dengan narasi mereka di warkop ini tentang Pak Alok, ya?” tanya seorang pengunjung warkop kepada temannya.
“Saya kan cuma mendengar apa yang selalu mereka narasikan di warkop ini. Saya pikir faktanya demikian,” jawabnya.
“Pada era digital seperti sekarang ini, narasi tentang pencitraan bisa didesign. Bisa direkayasa. Tapi satu hal yang tak bisa direkayasa. Itu yang bernama fakta. Fakta kebenaran tak akan mampu kita rekayasa dengan cara apapun,” urai temannya.
Sinar matahari mulai terasa panas. Cahayanya menembus dinding ruangan Pak Alok yang berpendingin. Tapi pendingin ruangan bermerk terkenal itu tak mampu mendinginkan jiwa Pak Alok yang terkulai. Lemas ditelan ambisi tanpa prestasi. Narasi pencitraan yang didesignnya selama ini terbuka lebar. Dan publik mulai mencium aroma narasi berbayar itu. Para follower pun mulai meninggalkannya secara diam-diam. Tak mampu melawan suara publik yang datang ke arah mereka secara tiba-tiba.
“Siapa yang membuka aib ini?” tanya Pak Alok kepada bawahannya. “Siapa yang membuat stigma ini ke public?” sambung dengan nada penuh suara berbalut kecurigaan.
“Bapak sendirilah,” jawab bawahannya dengan nada suara enteng.
“Lho kok saya?” tanya Pak Alok penuh keheranan dengan jawaban bawahannya.
“Bukankah apa yang selama ini bergema di ruang publik tentang kiprah Bapak terhadap Pak Pimpinan memang tak terbukti? Bukankah Bapak tak pernah menjadi sumber kekuatan Pak Pimpinan? Hanya narasi pencitraan itu yang menggambarkan seolah-olah Bapak menjadi sumber kekuatan Pak Pimpinan. Realitanya kan tidak demikian. Dan itu terpantau dengan jelas oleh mata publik. Tak samar-samar. Tak bisa direkayasa. Fakta tentang kiprah Bapak selama ini telah terlihat dengan sangat jelas di mata publik. Tak bisa dijawab dengan narasi dan narasi,” urai bawahannya dengan gamblang.
Mendengar paparan bawahannya, Pak Alok cuma terdiam seribu bahasa. Tak ada lagi narasi bersemangat yang selama ini menjadi ciri khas dirinya. Tak ada lagi. Mulutnya seolah terkunci. Tak ada lagi yang patut dinarasikannya. Semua pintu fakta telah terbuka dengan sangat lebar. Semua jendela kepalsuan tak dapat ditutupinya dengan rapat-rapat. Pak Alok tak dapat membayangkan bagaimana citra dirinya di muka publik. Stigma hitam pasti telah tertancap dalam jiwa mereka tentang dirinya.
Kini hanya kepasrahan yang menjalari seluruh tubuh ambisi Pak Alok. Hanya kepasrahan yang mengalir dalam tubuhnya. Hanya kepasrahan yang mengalir dalam darah raganya. Hanya itu saja. Tak ada yang lain. Sama sekali tak ada.
Sekelompok burung Camar mulai ramaikan cakrawala. Menghias langit yang mulai gelap. Sebuah tanda senja akan tiba. Sementara cahaya matahari mulai berselimut di ujung barat alam raya semesta ini. (***)

Related posts