Saintifik Approach & Hots untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Generasi Milenial

  • Whatsapp

Oleh: Anggi Ethovianti, S.Pd.
Guru SMAN 1 Pemali, Kabupaten Bangka

Tuntutan terhadap mutu pendidikan menjadi syarat penting guna menjawab tantangan perubahan dan perkembangan dalam berbagai aspek kehidupan. Arus globalisasi, kemajuan teknologi dan informasi yang cukup pesat, perkembangan industri kreatif, dan pergeseran budaya merupakan tantangan eksternal yang mau tidak mau, suka tidak suka harus kita hadapi. Oleh karena itu, dibutuhkan kebijakan dan strategi yang tepat untuk mendukung terwujudnya manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif.

Langkah nyata yang sudah diambil oleh pemerintah terkait dengan mutu pendidikan adalah dengan adanya penyempurnaan kurikulum. Penyempurnaan dilakukan pada beberapa aspek, salah satunya dengan memperbaiki proses pembelajaran. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses menjelaskan konsep dasar proses pembelajaran adalah bahwa peserta didik dipandang sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Sehingga pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengonstruksi pengetahuan dalam proses kognitifnya.

Sehubungan dengan konsep dasar pembelajaran, untuk meningkatkan mutu pembelajaran pada Kurikulum 2013, proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik atau pendekatan berbasis proyek keilmuan. Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah meningkatkan kemampuan intelektual, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Hal ini dapat membentuk kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik, melatih peserta didik dalam mengkomunikasikan ide-ide khususnya dalam menulis karya ilmiah, serta mengembangkan karakter peserta didik. Untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan peningkatan mutu dan kualitas pendidikan, pendekatan saintifik dapat diimplementasikan dalam beberapa model pembelajaran seperti Discovery Learning (DL), Problem Based Learning (PBL), dan Project Based Learning (PjBL).

Peningkatan mutu pendidikan tidak cukup dilakukan hanya dengan meningkatkan mutu pembelajaran saja, tetapi faktor pendukung utama lainnya seperti di bidang penilaian juga harus disesuaikan dengan tuntutan pemecahan masalah yang harus dimiliki peserta didik pada masa depan. Langkah yang diambil pemerintah untuk meningkatkan sistem penilaian adalah dengan memasukkan soal HOTS (High Order Thingking Skills) di dalam soal Ujian Nasional (UN). Soal HOTS pertama kali diterapkan pada UN 2018. Lalu pada tahun 2019 ini, pemerintah tidak hanya memasukan soal HOTS di dalam UN, bahkan di soal USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) sebanyak 15% adalah soal HOTS. Hal ini menunjukkan komitmen dan keseriusan pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan Indonesia.

Pertama kali munculnya soal HOTS dalam UN 2018, membuat peserta didik “menjerit” dan mengeluhkan susahnya soal UN. Oleh karena peserta ujian nasional merupakan generasi milenial, maka keluhan mereka pun membanjiri akun Instagram Kemendikbud. Pada tahun ini, keluhan membanjiri akun Instagram Kemendikbud pasca-UN mata pelajaran matematika dan peminatan. Mengapa soal HOTS sulit dijawab oleh generasi milenial?

Begitu mendengar kata HOTS, banyak peserta didik yang mengatakan soal ini sulit. Padahal belum tentu soal HOTS adalah soal yang sulit untuk dijawab. Hanya saja, peserta didik belum terbiasa dan belum terlatih untuk mengerjakan soal HOTS. Hal ini disebabkan peserta didik sudah terbiasa dengan soal LOTS (Low Order Thingking Skill). Pada soal LOTS, kemampuan yang diuji hanya mengingat, memahami, dan menerapkan saja. Berbeda dengan soal HOTS yang menuntut siswa untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta model/simpulan dari informasi yang disediakan. Soal HOTS adalah instrumen penilaian hasil belajar yang menuntut peserta didik untuk melatih dan meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dengan berpikir tingkat tinggi, peserta didik didorong agar mampu berpikir secara luas dan mendalam sesuai dengan materi yang dipelajarinya.

Selama ini, dalam proses pembelajaran masih mengimplementasikan soal LOTS. Tidak heran ketika muncul soal HOTS yang butuh penalaran dan berpikir kritis, banyak peserta didik yang menganggapnya sulit. Oleh karena itu, sebaiknya soal HOTS diimplementasikan sedini mungkin dalam proses pembelajaran, sehingga generasi milenial mulai dilatih dan terbiasa mengerjakan soal HOTS.

Menurut pendapat Penulis, jika dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik, sangat tepat rasanya apabila proses penilaian hasil belajar peserta didik menggunakan soal HOTS. Hal ini dikarenakan selama proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik, peserta didik sudah dilatih untuk berpikir tingkat tinggi, sehingga dapat menyelesaikan suatu permasalahan secara sistematik. Berdasarkan hal tersebut, alat ukur yang sesuai untuk mengukur ketercapaian tujuan dan keberhasilan pembelajaran adalah soal HOTS.

Beberapa tip strategi belajar efektif bagi generasi milenial dalam menghadapi soal HOTS terutama pelajaran Fisika, misalnya sebagai berikut: (1) jangan menghafal rumus, tetapi pahamilah konsep materi. Jika kita memahami konsep materi, kita dapat menurunkan rumus dengan mudah; (2) pelajarilah hubungan antarbab. Misalnya, ketika mempelajari Hukum Newton tentang gravitasi, maka kita juga harus memahami konsep vector karena ilmu fisika sangat berkaitan satu sama lain; (3) menguasai konsep dasar matematika yang baik karena fisika tidak terpisahkan dari matematika; (4) perbanyak latihan karena semakin banyak berlatih, maka akan semakin banyak pula hubungan antarbab bahkan hubungan antardisiplin ilmu yang kamu kuasai.(***).

Related posts