Saatnya Tingkatkan Pencegahan Penyakit Tidak Menular

  • Whatsapp

Oleh: Hamdan Hariawan, M.Kep.
Dosen di Poltekes Maluku

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI menyatakan bahwa telah terjadi pergeseran penyakit atau transisi epidemiologi dari tahun 2007 hingga 2017. Kenaikan yang luar biasa terjadi pada Penyakit Tidak Menular (PTM). Pada tahun 1990 angka PTM berada pada angka 40 persen dan jauh meningkat menjadi 70 persen pada tahun 2017.
Berdasarkan laporan Riskesdas 2018, prevalensi Penyakit Tidak Menular juga jauh meningkat dibanding tahun 2013. Kanker naik dari 1,4 persen menjadi 1,8 persen, stroke naik dari 7 persen menjadi 10,9 persen, hipertensi dari 25,8 persen menjadi 34,1 persen, dan diabetes mellitus meningkat dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen. Tanpa disadari kenaikan prevalensi penyakit tidak menular tersebut berkaitan dengan peningkatan konsumsi berlebih masyarakat pada Gula, Garam, dan Lemak (GGL).
Hasil survei konsumsi makanan individu (SKMI) pada tahun 2014 menunjukkan bahwa 29,7 persen masyarakat Indonesia sudah mengonsumsi Gula Garam Lemak (GGL) melebihi rekomendasi WHO (World Health Organization) yaitu gula lebih dari 50 gram perhari, garam lebih dari 5 gram perhari, dan lemak lebih dari 67 gram perhari.
Dikutip dari Web Berita Satu bahwa tingkat konsumsi GGL berlebih masyarakat Indonesia semakin meningkat setipa tahunnya. Parahnya peningkatan konsumsi lemak sangat tinggi yaitu dari 12,8 persen pada tahun 2009 menjadi 40,7 persen. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya.
Berikutnya, dilansir dari depkes.go.id bahwa sebanyak 17,5 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular dari 56,5 juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2012. Setiap tahun sebanyak 2,1 juta korban meninggal karena diabetes, dan hingga saat ini tercatat sebanyak 422 juta orang di dunia terkena diabetes. Angka tersebut empat kali lebih banyak dari pada 30 tahun lalu. Untuk kasus PTM lainnya seperti hipertensi tercatat sebanyak 9,4 juta orang meninggal setiap tahunnya.
Sesuai mandat sidang umum PBB tentang Penyakit Tidak Menular pada 2011, negara-negara anggota PBB serta Organisasi Internasional Lainnya sepakat untuk mengurangi angka kematian yang disebabkan oleh PTM sebesar 25 persen pada 2025. Sebab, dampak PTM terhadap kematian penderitanya tercatat sebesar 63 persen atau 57 kematian di seluruh dunia setiap tahunnya.
WHO juga mencatat sebanyak 36 juta dari total kasus kematian yang terjadi di dunia disebabkan oleh PTM. Jumlah ini diprediksi akan treus meningkat, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. Bahkan WHO memproyeksikan bahwa PTM akan menjadi penyebab kematian secara global selama 20 tahun ke depan.
Selain itu, meningkatnya PTM tidak hanya berdampak pada morbiditas, mortalitas, dan disabilitas pada masyarakat, tetapi juga berdampak pada meningkatnya beban ekonomi masyarakat dan negara. Menurut data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bidang kesehatan pada 2016 pembiayaan PTM menghabiskan 14,6 triliun Rupiah. Angka tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya yaitu mencapai 14,3 triliun Rupiah pada 2015. Besarnya pembiayaan tersebut akan terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan peningkatan prevalensi PTM.
Penurunan prevalensi PTM melalui pencegahan merupakan tanggung jawab bersama antara Pemerintah dengan masyarakat serta stakeholder lainnya. Pemerintah telah memprogramkan beberapa usaha preventif terhadap PTM. Salah satunya melalui Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) dengan mengajak masyarakat untuk memperbanyak konsumsi buah dan sayur serta mengurangi konsumi Gula, Garam, dan Lemak dengan formula G4G1G5 per hari (empat sendok gula, satu sendok garam, dan 5 sendok lemak).
Tetapi hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang lebih memilih makanan dengan kandungan GGL yang tinggi seperti junkfood dan lainnya. Untuk itu Pemerintah perlu lebih memanfaatkan sumber daya yang ada. Contohnya dengan lebih mensosialisasikan program Germas dengan terjun langsung ke masyarakat, tidak hanya melalui media-media yang ada di fasilitas kesehatan seperti Puskesmas.
Terlebih lagi, ibu rumah tangga harus mampu memahami dan memperkirakan takaran Gula Garam Lemak (GGL) dari sumber makanan yang dimasak sehingga konsumsi GGL sesuai dengan anjuran. Selain itu, jenis dan sumber Gula Garam dan Lemak dari makanan lainnya harus juga dipahami setiap orang. Sehingga pemerintah juga seharusnya dapat membuatkan media yang dapat diletakkan di masing-masing dapur rumah tangga terkait makanan yang menjadi sumber GGL dan sering dikonsumsi masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga menekan angka konsumsi berlebih masyarakat pada GGL dengan mengeluarkan peraturan perundang-undangan berupa Permenkes Nomor 30 Tahun 2013. Aturan tersebut bersisi tentang pencantuman informasi kandungan Gula Garam dan Lemak serta pesan kesehatan pada label makanan kemasan dan direncanakan akan mulai diterapkan pada 2019 ini.
Akan tetapi, hingga triwulan 2019 masih belum ditemukan makanan kemasan dengan label informasi kandungan GGL pada makanan tersebut. Sehingga pemerintah perlu menegaskan kembali tekait aturan ini, dan diharapkan kepada pelaku usaha makanan kemasan untuk mentaati aturan tersebut sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah dan masyarakat. Saatnya meningkatkan pencegahan terhadap penyakit tidak menular.(***).

Related posts