by

Saatnya Menggoreskan Tinta, Para Pendidik

-Opini-242 views

Oleh: Kartika Sari, M.Pd.I
Guru SMA Muhammadiyah Pangkalpinang

Bagi sebagian guru, menulis sangatlah sulit, membosankan, dan merupakan momok yang mengerikan. Sejak Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaain Negara Nomor: 03/V/PB/2010, Nomor: 14 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, banyak para pendidik yang khususnya guru plat merah (Guru PNS) hampir tidak bisa naik pangkat karena salah satu syarat kenaikan pangkat di dalam aturan tersebut, harus mampu membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI). Ada yang bertahun- tahun lamanya dan kadang sampai pensiun harus bertengger pada pangkat dan golongan, pembina/IV a. Hanya beberapa yang bisa sampai kepada pangkat dan golongan, Pembina Tk.I/IV b, Pembina Utama Muda/IV c, Pembina Utama Madya/IV d, apalagi sampai kepada Pembina Utama/IV e. Ini membuktikan bahwa iklim menulis di daerah khususnya di bumi serumpun sebalai ini, masih rendah sekali.
Alasan yang seringkali diungkapkan oleh banyak pendidik kita adalah tidak memiliki waktu luang, dan tidak memiliki skill (kemampuan) dalam bidang tersebut. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa tidak mampu menulis karena malas membaca, dan tidak memiliki kecerdasan yang tinggi (intelektual). Padahal, paradigma tersebut merupakan suatu yang sedikit keliru, dan harus dibuang jauh jauh.

Manfaat Menulis

Kita ketahui bersama, menulis merupakan serangkaian kegiatan yang sangat menyenangkan, yang bisa dilakukan banyak orang untuk membantu menuangkan ide – ide kreatifnya. Menulis sebenarnya mampu dilakukan oleh siapa saja, dengan bermodalkan keinginan, kemauan dan motivasi yang besar dalam meggoreskan tinta-tinta pena menjadi sebuah tulisan. Selain itu, seorang penulis dituntut untuk banyak membaca, karena membaca merupakan aktivitas pencarian “makna” dan “hakikat”, sehingga akan banyak ide ide kreatif yang muncul sebagai referensi dalam tulisannya.
Dengan menulis juga akan membuat otak tidak beku. Otak yang digunakan setiap harinya untuk berpikir, mencerna, dan menganalisis setiap persoalan dan keadaan, baik yang terjadi pada diri dan lingkungan sekitar kita, atau kegiatan-kegiatan di dalam kelas, akan menjadi cerdas. Menulis juga akan mengurangi volume untuk menginggat dan merekam masa-masa yang telah terlewati. Artinya, setiap kejadian akan tersimpan rapi, dan mudah untuk dibuka dan diingat kembali.

Menulis, Kebutuhan Guru

Sudah banyak karya yang menjadi inspirasi banyak orang, bahkan banyak karya yang bisa mengubah dunia. Karya Andrea Hirata dalam novelnya yang laris manis membawa angin segar bagi Pariwisata di Bangka Belitung. Ini menunjukkan begitu besarnya harga sebuah karya. Dapat dibayangkan jika para pendidik generasi bangsa mampu berkarya, menuliskan ide-ide membangun peradaban bangsa. Ide-ide itu, tertuang dalam sebuah karya baik berupa opini, Penilaian Tindakan Kelas (PTK), buku, dan karya-karya inovatif lainnya. Tentunya akan melahirkan banyak inspirasi dan manfaat bagi pendidikan di tanah air.
Berkaca dari kebermanfaatan yang begitu besar, sudah saatnya para pendidik, khususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini bergerak dan aktif untuk menulis, mampu menorehkan tinta, membangun inspirasi, menelurkan karya, dan menebarkan manfaat bagi kemajuan bangsa. Salam Literasi.(***).

Comment

BERITA TERBARU