by

Rumah Tua di Ujung Jalan

Karya: Musda Quraitul Aini
(SMP Negeri 2 Tukak Sadai)

Langit masih mendung seolah matahari enggan menampakkan cahayanya. Angin sepoi pun meniup daun daun kering yang ada di pohon. Terlihat dedaunan jatuh melayang lembut, kemudian berserakan di tepi jalanan. Dinginnya udara pagi terasa di setiap lekukan tubuh, menembus kulit membuat bulu tubuh bergidik.
Seorang anak yang berpakaian putih biru rapi lengkap dengan segala atributnya tampak berjalan sambil membaca buku. Fira, remaja itu yang bersekolah di salah satu SMP ternama di Kabupaten Bangka Selatan. Menurut teman temannya, Fira pintar, baik dan rajin. Selain itu, mempunyai sifat selalu ingin tahu, dan rasa penasaran tinggi.
Hari ini Fira berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Saat asyik membaca buku yang sedari tadi dipegangnya, tiba tiba terdengar benda jatuh di sebuah rumah tua yang dilewati. “praaakkkkkkk”
“Astaga.. bunyi apa itu?” katanya kaget sembari menoleh ke arah rumah itu.
“Ya ampun rumah ini besar banget, suara apa tadi tapi kok kaya gak ada siapa-siapa,” gumamnya keheranan.
Saat Fira ingin membuka pintu gerbang rumah itu, tiba tiba saja balok kayu kecil melayang jatuh di sampingnya. Ia terkejut dan merasa ketakutan. Saking takutnya ia berlari kencang meninggalkan rumah tua itu.
Ketika sampai di sekolah, “Eh,, Fira kamu kenapa? Kok ngos-ngosan gitu?” tanya Luna. “Kaya dikejar hantu hahaha,” lanjut teman sekolahnya itu mengejek.
“Kamu ini,, hmm.. Gak papa kok cuman takut terlambat aja,” jawab Fira sambil menaruh tas.
“Eh, Lun.. aku mau nanya nih,” imbuhnya. “Kamu tau, rumah gede deket sekolah kita?” tanyanya.
“Rumah tingkat dua di ujung jalan sana?” kata Luna.
“Iya,, rumah mewah dekat gang itu punya siapa yah?” tanya Fira lagi.
“Sepengetahuan aku, rumah itu sudah lama gak ditinggalin,” jawab Luna.
“Ohh.. kenapa itu?” desak Fira.
“Enggak tau juga sih, tapi katanya rumah itu udah lama banget gak ditinggalin karena berhantu gitu,” tukas Luna.
“Berhantu…. masa sih?” Fira keget.
“Iya, yang aku dengar dari warga sekitar sih seperti itu. Emangnya kenapa Fir?” tanya Luna.
“Enggak papa sih, cuma tadi pagi aku kan lewat rumah itu terus kaya ada yang aneh aja dengan rumah itu,” kata Fira.
Mendengar Fira dan Luna membicarakan rumah tua, salah satu teman lelaki mereka menghampiri. Rupanya ia Tyas. Jika ada yang membicarakan rumah tua di ujung jalan itu, Tyas selalu ikut nimbrung di pembicaraan itu. Dialah orang yang lebih tahu tentang seluk beluk rumah tua itu. Maklum saja, letak rumah Tyas hanya berjarak 3 rumah.
“Fir, kamu kok mau aja sih lewat depan rumah itu?” tanya Tyas.
“Lah emangnya kenapa?” tanya Fira heran.
“Yah gak papa sih,” kata Tyas.
Ani yang sedari tadi mendengarkan percakapan teman-temannya itu, mulai merasa jenuh dan kelaparan.
“Udahan yuk, dari pada kita berdebat gaje (gak jelas) gini mending kita ke kantin yuk. Aku laper banget nih,” ajak Ani.
“Oke deh, ayo ke kantin. Tapi aku ditraktirkan.. hehehe,” kata Tyas tertawa.
“Huuuuuuu,” ujar mereka bertiga serentak.
Tyas dan Ani segera menuju ke kantin, kemudian diikuti oleh Luna. Sementara, Fira masih berdiri diam. Luna pun kembali menghampiri Fira. “Ayo Fir!!” ajak Luna. Wajah Fira tak menunjukkan ekspresi apapun. Ia masih penasaran mengenai misteri di rumah tua itu. Pembicaraan dengan temannya tadi membuat rasa penasaran terhadap rumah itu semakin besar. Dia berniat untuk menyelidiki rumah itu keesokan harinya.
“Eh kalian udah pada makan belum?” tanya Luna keesokan harinya saat di kelas.
“Udah,” jawab Ani.
“Fir, kamu kok diam terus?” tanya Luna.
“Engg.. gak papa kok,” jawabnya.
“Apa kamu masih penasaran sama rumah tua itu?” tanya Luna.
“(Fira mengangguk) gimna nanti malam kita selidiki rumah itu?” usul Fira.
“Apppaaa!!! Selidiki.. No No No!!” kata Ani sambil menggeleng.
“Kamu takut ya?” kata Luna menggoda.
“Enak saja.. Takut? Siapa yang takut,” kata Ani lantang.
“Jadi,, mau enggak nanti malam?” tanya Fira.
“Oke deh habis maghrib kita kumpul di rumah kamu yah,” ucap Luna menunjuk Fira. “Okee,” serentak mereka bertiga.
Hari semakin gelap. Suasana di sekitar sanapun mulai terasa sepi. Ani, Luna dan Fira telah berkumpul di rumah Fira. Mereka sedang mempersiapkan rencana untuk menyelidiki rumah tua itu. Peralatan yang hendak dibawa pun telah disiapkan.
“Gimana kalian udah siap belum?” tanya Fira.
“Kalau aku sih siap siap aja tapi enggak tau tuh si Ani,” jawab Luna sembari melirik Ani.
“(Menepuk pundak Luna) ih.. aku udah siap kali,” kata Ani.
“Tyas, gimana?” lanjut Ani.
“Tyas udah nunggu di rumahnya,” jawab Luna.
“Oke.. kita berangkat sekarang,” ajak Fira mantap.
Setelah beberapa lama berjalan, mereka bertemu dengan Tyas. Remaja lelaki itu sudah menunggu di depan rumahnya dengan segala peralatan misi penyelidikan malam itu. Kemudian mereka berempat melanjutkan perjalanan ke rumah tua.
Saat di depan gerbang rumah kosong…
“Ya ampun nih rumah serem banget ya,” kata Ani merinding.
“Iya.. bener katamu,” tukas Tyas sepakat.
“Kalian takut ya?” tanya Luna menggoda.
“Ih… siapa yang takut,” jawab Ani sok berani.
“Udah udah… ayo kita masuk,” ajak Fira.
Mereka pun perlahan-lahan membuka gerbang pagar rumah tua itu dan langsung mengendap-ngendap masuk ke dalam rumah.
“Ya ampun ini rumah berdebu amat ya? Kaya enggak pernah dibersihin aja,” kata Ani.
“Hustt.. ini kan rumah kosong,” kata Tyas.
“Ehh.. iya ya..” kata Ani meringis.
“Ya udah yok kita naik ke atas,” ajak Fira.
Mereka berempat pun naik ke atas rumah tersebut. Sembari memvideokan seluruh isi rumah tua itu, mereka perlahan menaiki anak tangga.
“Ani,, Jangan lupa rekam yah,” ucap Fira.
“Ani.. kamu dengar enggak sih?” tanya Luna.
Karena tak ada tanggapan dari Ani, mereka bertiga menoleh ke belakang. Tak Ada Ani di belakang mereka.
“Ani kemana? Kok enggak ada?” tanya Luna.
“Tyas,, di mana Ani?“ tanya Fira.
“Tadi dia ada di belakang ku, tapi sekarang …,” kata Tyas menggeleng.
Mereka memanggil Ani, namun tetap tak ada jawaban. Suasana rumah itupun semakin menyeramkan. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali melanjutkan misi sembari mencari temannya yang hilang. Para remaja itu mengamati keadaan dalam rumah tua. Suasana dingin semakin menambah keseraman rumah tua itu. Tiba-tiba….
“Aaaaaaaaaaaaaa,” sontak mereka bertiga berteriak.
“Tenang cuma mati lampu kok. Tyas kamu bawa senter kan?” tanya Fira.
“Tyas,,, Tyas!!!” kata Fira sembari meraba-raba.
Sesaat kemudian lampu kembali hidup. Fira dan Luna terkejut tak ada Tyas di belakang mereka. Tak pelak Fira dan Luna saling memandang kebingungan. Mereka berpelukan dan memandangi sekeliling ruangan itu.
“Tyas kemana?”tanya Luna. Fira menggeleng.
“Jangan-jangan rumah ini bener ada hantunya…’’ kata Luna merinding.
“Hust.. gak usah berpikir aneh-aneh,” sergah Fira sembari memutuskan untuk melanjutkan misi sambil mencari Ani dan Tyas.
Hari sudah semakin larut. Jarum jam di tangan Fira menunjukkan pukul sepuluh malam.
‘Uudah jam 10.00, gimana nih?” tanya Luna.
“Bagaimanapun kita harus mencari mereka,” kata Fira.
“Iya udah deh,” ucap Luna.
Mereka kembali mencari keberadaan kedua temannya. Saat sedang berjalan, tak sengaja Fira melihat sesuatu di dalam sebuah lemari yang berdebu.
“Apa itu, Lun?’ ’tanya Fira penasaran.
“Enggak tauu.. kotaknya dikunci,” jawab Luna sembari menarik-narik kotak.
“Hmm.. ayo kita cari kuncinya, siapa tau ada di sekitar sini,” ajak Fira.
Setelah beberapa lama. “Lun, gimana udah ketemu kuncinya?” tanya Fira.
“Lun… Luna…” kata Fira sembari menoleh ke belakang.
Fira terkejut ternyata Luna sudah tidak ada lagi di belakangnya. Ia kemudian mencari ketiga temannya yang secara misterius menghilang. Saat sedang melewati sebuah kamar, ia mendengar suara di dalam kamar itu. Ia mendekati pintu kamar secara perlahan. Tak sengaja Luna melihat anak anak yang disekap di dalam kamar melalui celah-celah pintu. Di sana juga terdapat ketiga temannya yang menghilang.
“Tyas, Ani, Luna,” gumam Fira.
“Aku harus menolong mereka tapi gimana caranya?” tanya Fira dalam hati.
Ia lalu memberanikan diri untuk menyelematkan teman-temannya dan berteriak ke arah orang tak dikenal itu. Mendapati keberadaannya telah diketahui, seseorang itu berusaha menangkap Fira. Fira berteriak ketakutan. Seseorang itu akhirnya berhasil menangkap Fira.
Namun, tiba-tiba… “Bruuukk…” Seseorang tak dikenal itu jatuh tersungkur. Ternyata ada warga desa di belakang penjahat itu. Seseorang itu pingsan tak sadarkan diri dipukul kayu.
Warga desa ternyata menyusul Fira dan teman-temannya ke rumah tua. Karena mereka tidak kembali pulang walaupun malam sudah larut. Warga khawatir akan keselamatan mereka. Informasi itu didapatkan dari kakaknya Tyas. Karena sebelum pergi, Tyas sempat meminta izin kepada kakaknya untuk menyelidiki rumah tua itu.
Ternyata, cerita mengenai rumah tua berhantu itu hanya untuk menutupi kejahatan orang yang tak dikenal. Sebenarnya, kejahatan seseorang itu hampir ketahuan Fira saat ia melewati rumah tua ketika pergi ke sekolah. Namun, orang tak dikenal itu melemparkan balok kecil ke arahnya, kemudian bersembunyi. Itulah yang membuat Fira pada waktu itu lari ketakutan meninggalkan rumah tua itu.
Kini misteri rumah hantu itu telah terungkap. Bahwa di rumah itu tidak ada hantu, melainkan penjahat yang menggunakan rumah tua itu untuk menyekap anak anak yang sering bermain di sekitar rumah kosong. Sadai, 30 Desember 2017. (Penulis adalah siswa binaan Rusmin, Cerpenis Rakyat Pos). (***)

Berikan masukan

Comment

BERITA TERBARU