by

RSUD Depati Hamzah Dilapor Malpraktik

TUNJUKAN DOKUMEN – Ibrohim, kuasa hukum orang tua almarhum balita Syahrul tampak menunjukkan dokumen transfusi darah kepada awak media dalam jumpa pers di Kantor PDKP Babel kemarin. Orang tua balita ini melaporkan RSUD DH Pangkalpinang ke Polda Babel dengan tuduhan mallpraktik, terkait transfusi darah. (Foto: Dwi Sadmoko)

Diduga Salah Transfusi Darah
Bocah 2 Tahun Meninggal Dunia

PANGKALPINANG – Kasus dugaan malpraktik, menimpa Syahrul Fajri (2) balita asal Gang Baong, Kelurahan Gabek 2, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang. Bocah itu akhirnya meninggal dunia pada 8 Desember 2017, akibat salah transfusi darah.
Orang tua Syahrul melalui kuasa hukumnya Ibrohim, SH dari Pusat Dukungan Kebijakan Publik (PDKP), saat memberikan keterangan pers kepada wartawn, Senin (11/12/2017) menyatakan akan menyiapkan langkah-langkah hukum terhadap kasus tersebut.
Dikatakan Ibrohim, kejadian bermula ketika Syahrul Fajri mengalami demam dan panas tinggi pada 6 Oktober 2017. Herman (orang tua laki-laki) lantas membawa Syahrul ke salah satu dokter praktek di Pangkalpinang.
“Berdasarkan rekam medis dokter tersebut menyatakan Syarul dirujuk ke RSUD Depati Hamzah (DH) Pangkalpinang,” ujar Ibrohim.
Mendapat rujukan, selanjutnya Syahrul dibawa ke IGD RSUDDH dengan kondisi demam. Selama berada di IGD Syahrul mendapatkan pelayanan kesehatan di ruang UGD dan selanjutnya dirawat inap.
“Setelah dilakukan pemeriksaan diperlukan tindakan transfusi darah, dan dokter jaga IGD melakukan pengambilan sample darah Syahrul Fajri dan menugaskan Herman mengambil darah ke PMI dengan golongan darah AB Rhesus+,” ungkapnya.
Saat di PMI sekitar pukul 22.23 WIB, Herman ditanya petugas PMI mengenai permintaan darah. Karena sesuai petunjuk yang ia peroleh dari perawat RSUD DH, maka Herman menjawab membutuhkan golongan darah AB, dan sekitar pukul 00.00 WIB Herman menerima darah AB dari PMI.
Sekitar pukul 00. 20 WIB dini hari, ketika akan dilakukan transfusi darah, perawat kembali mengkonfirmasi ulang tentang golongan darah Syahrul adalah AB. Herman dan istrinya menjawab mereka berdua sebagai orangtua adalah bergolongan darah A, namun transfusi golongan darah AB tetap dilakukan kepada Syahrul.
“Transfusi golongan darah AB ini dilakukan keesokan harinya tanggal 8 Oktober 2017 sebanyak 100CC dan selanjutnya besok tanggal 9-10-2017 sebanyak 100CC,” tambahnya.
Kemudian, setelah menjalani rawat inap selama 4 hari di RSUD Depati Hamzah, Syahrul Fajri dinyatakan dapat pulang oleh dr Budiono Sp.A. Meskipun Herman dan istrinya merasa anaknya SF masih terlihat pucat dan belum pulih.
Selang 2 minggu berada di rumah, kondisi SF terus menangis dan mengalami sesak nafas, bengkak-bengkak dan luka di perut “koreng”. Sehingga akhirnya pada tanggal 21 Oktober 2017 Herman memutuskan membawa SF untuk diperiksa di RSBT Pangkalpinang.
“Klien kami kaget pada saat dilakukan pemeriksaan di RSBT dan laboratorium Produa diketahui golongan darah Syahrul Fajri adalah A Rhesus +. Juga diketahui dari pemeriksaan di RSBT, Syahrul Fajri menderita penyakit Leukimia dan mendapat rujukan ke RS Cipto Mangun Kusumo,” kata Ibrohim.
Pada tanggal 7 Desember 2017, Herman membawa pulang buah hatinya dari perawatan di RSCM. “Kami pulang untuk membahas rencana selanjutnya dengan keluarga besar, sebab pihak dokter RSCM Jakarta yang menangani penyakit Syahrul menyatakan pengobatan anak kami membutuhkan waktu antara 2-5 tahun,” sambung Herman.
Terkait vonis sakit Leukimia sebelumnya terhadap anaknya Herman yang bekerja sebagai pedagang ikan keliling ini membantahnya.
“Awal masuk RSUD Depati Hamzah diagnosa tidak mengidap penyakit tersebut, ini bisa saja terjadi pada saat tranfusi darah,” lanjut Herman dengan mata berkaca-kaca.
Lalu Syahrul Fajri dinyatakan meninggal pada 8 Desember 2017. Sebelumnya Syahrul pada pukul 05.00 WIB, sempat mendapat pertolongan medis di RSBT berupa oksigen dan infus, selanjutnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) di Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Namun Syahrul Fajri menghembuskan nafas terakhir di RSUP pada pukul 10.00 Wib.
Menanggapi dugaan mall praktik ini, Paralegal Senior PDKP Babel, Jhon Ganesha menegaskan pihaknya akan mengambil langkah-langkah hukum.
“Ini preseden yang buruk bagi dunia kesehatan di Bangka Belitung. Kami (Lawyer dan Paralegal) sudah melaporkan permasalahan ini ke pihak Polda Babel,” kata dia didampingi Andira, SH.
Terpisah ketika dikonfirmasi tentang hal ini, Direktur RSUD Depati Hamzah dr Syahrizal membantah bahwa telah terjadi salah transfusi darah selama perawatan Syahrul oleh pihaknya.
“Petugas kami mengambil sampel darah Syahrul Fajri, karena di RSUD belum tersedia bank darah maka (sample darah) kami bawa ke PMI. Di PMI dilakukan pemeriksaan dan ditetapkan golongan darah pasien AB. Sebelum ditransfusi ke tubuh korban kami pun menelpon pihak PMI dan mereka menyatakan golongan darah pasien AB,” elaknya.
Karena itu Syahrizal mengaku pihaknya merasa bingung terhadap tuduhan yang menyatakan bahwa pihak RSUD melaukan kesalahan prosedur dalam tranfusi darah.
“Karena kami belum memiliki bank darah dan yang melakukan pemeriksaan darah pihak PMI. Selama transfusi darah, dokter kami selalu mendampingi dan melihat perkembangan kesehatan pasien, tidak ada tanda-tanda gangguan kesehatan Hemoglobin dari 3,7 menjadi 11,9 itu suatu peningkatan dan artinya tubuh pasien menerima transfusi darah ini,” tandasnya. (das/6)

Comment

BERITA TERBARU