RPP tidak Hilangkan Prinsip Pengembangan Kreativitas Guru

  • Whatsapp

Oleh: Agus Herdian S.Kom

Muat Lebih

Guru Multimedia SMKN 1 Parittiga, Bangka Barat

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau disingkat RPP, adalah pegangan seorang guru dalam mengajar di dalam kelas. RPP dibuat oleh guru untuk membantunya dalam mengajar agar sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada hari tersebut. Menurut Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar. Selanjutnya, menurut Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 lampiran IV tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran, tahapan pertama dalam pembelajaran menurut standar proses adalah perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. RPP adalah rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu mengacu pada silabus.

Setiap guru di setiap satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP untuk kelas di mana guru tersebut mengajar (guru kelas) di SD dan untuk guru mata pelajaran yang diampunya untuk guru SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK. Pengembangan RPP dapat dilakukan pada setiap awal semester atau awal tahun pelajaran, dengan maksud agar RPP telah tersedia terlebih dahulu dalam setiap awal pelaksanaan pembelajaran. Pengembangan RPP dapat dilakukan secara mandiri atau secara berkelompok.

Mencermati pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim yang menyatakan  penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalam kebijakan Merdeka Belajar didedikasikan untuk para guru agar dapat meringankan beban administrasi guru, tentunya patut diapresiasi. RPP yang tadinya ada belasan komponen, jadi tiga komponen inti, yaitu tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan asesmen atau penilaian pembelajaran. Dengan adanya kebijakan baru tentang penyederhanaan RPP ini, guru bebas membuat, memilih, mengembangkan, dan menggunakan RPP sesuai dengan prinsip efisien, efektif, dan berorientasi pada murid. Efisien berarti penulisan RPP dilakukan dengan tepat dan tidak menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Efektif berarti penulisan RPP dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berorientasi pada murid berarti penulisan RPP dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan, ketertarikan, dan kebutuhan belajar murid di kelas.

RPP  merupakan salah satu senjata penting seorang guru saat akan mengajar di kelas. Tanpa RPP  yang baik, maka guru tidak akan mengajar dengan baik di kelas. Namun, apakah membuat RPP itu adalah sesuatu yang mudah? Melihat dari RPP yang dibuat oleh guru selama ini, untuk sekali pertemuan tatap muka saja, dapat menghabiskan belasan lembar kertas. Belum lagi jika memasukkan materi belajar, bisa tambah beberapa lembar lagi. Sementara dalam RPP tersebut sudah kita masukan referensi bahan ajaran tersebut. Jadi, untuk membuat satu Kompetensi Dasar saja butuh puluhan lembar kertas. Tak heran kiranya jika kita melihat seorang guru yang membuat RPP untuk satu semester  hingga menghabiskan lebih dari satu rim kertas. Apakah semakin tebal RPP, proses mengajar guru tersebut menjadi lebih baik? Yang terjadi adalah, boros dan makan banyak waktu untuk mencetak RPP.

Seorang guru dihadapkan pada urusan administrasi yang njelimet, ia tidak akan  fokus untuk mentransfer dan mengkomunikasikan ilmu pengetahuan melalui mata pelajaran terhadap siswa. Ia tidak akan punya banyak waktu untuk berkreasi melaui pembelajaran yang lebih efektif, menyenangkan dan mengoptimalkan potensi peserta didik. Celakanya, sejumlah guru yang tidak ingin repot dan ribet dengan segala urusan administrasi ini, memilih jalur cepat yaitu copy dan paste alias njiplak. Minimal dimodifikasi sedikit. Peduli amatlah pada idealisme, kreatifitas dan lain sebagainya. Apalagi berorientasi siswa. Yang penting, saat asessmen atau supervisi, guru memiliki RPP. Tak heran pula karena repot dan susahnya membuat RPP ini, sejumlah guru tidak pernah mengupdate RPP, dan hanya ganti tahun pembelajaran.

Sebelum kebijakan Menteri Nadiem Makarim ini terbit, sejumlah guru telah berkreasi untuk membuat RPP yang memuat tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan asessmen atau penilaian pembelajaran dalam  selembar kertas. Meskipun secara produktivitas, efektif dan efisien, RPP selembar tersebut sangat bisa diandalkan, namun kadangkala, berkreasi membuat sesuatu yang dianggap tidak standar dapat dianggap salah karena menyimpang dari aturan baku.

Penyederhanaan RPP untuk mengurangi beban administrasi guru ini, hendaknya tetap memperhatikan prinsip pengembangan RPP, karena RPP disusun sebagai terjemahan dari ide kurikulum dan berdasarkan silabus yang telah dikembangkan di tingkat nasional ke dalam bentuk rancangan proses pembelajaran untuk direalisasikan dalam pembelajaran dengan menyesuaikan apa yang dinyatakan dalam silabus dengan kondisi di satuan pendidikan. Menyesuaikan  kemampuan awal peserta didik, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik. Mendorong partisipasi aktif peserta didik. Sesuai dengan tujuan Kurikulum 2013 untuk menghasilkan peserta didik sebagai manusia yang mandiri dan tak berhenti belajar, proses pembelajaran dalam RPP dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mengembangkan motivasi, minat, rasa ingin tahu, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, semangat belajar, keterampilan belajar dan kebiasaan belajar.  Kemudian, mengembangkan budaya membaca dan menulis serta memberikan umpan balik positif, penguatan, pengayaan, remedi. Pemberian pembelajaran remedi dilakukan setiap saat setelah suatu ulangan atau ujian dilakukan, hasilnya dianalisis, dan kelemahan setiap peserta didik dapat teridentifikasi.

Melalui RPP yang hanya selembar itulah, nantinya akan membuat siswa lebih meningkat kompetensinya karena guru tidak terbebani lagi oleh kesibukan yang sifatnya administratif saja. Sebaik dan sebagus apapun sebuah RPP adalah lebih penting seorang guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan  apa yang terdapat pada RPP tersebut,  daripada mencetak RPP berlembar-lembar tapi tidak melaksanakan proses pembelajaran. (***).

Pos terkait