Robohnya Kampung Kami

No comment 260 views

Karya: Rusmin

“Bongkar,” seru seorang pria setengah baya kepada petugas alat berat yang telah siap beraksi dengan suara penuh wibawa. Kumis tebalnya yang mulai memutih menandakan kewibawaannya sebagai seorang komandan. Dan hanya dengan satu sentuhan, beberapa bangunan rumah pun hancur berkeping-keping diganyang alat berat jenis exavator itu.
Jerit tangis pun menghambur ke udara bebas yang mulai menghitam sebagai pertanda sebuah kota akan roboh. Dan dalam hitungan detik pun, desingan batu dan alat-alat lainnya berterbangan menghampiri alat berat dan para petugas. Petugas mulai kocar kacir mencari perlindungan diri. Bentrok tak terhindarkan. Sejumlah korban bergelimpangan penuhi jalan dan gang-gang sempit. Darah pun menjadi penghias aspal. Merah kental menghitam.
Kendati hanya dalam belasan menit, bentrokan berdarah di pagi Jumat itu membuat suasana duka di Kampung Duka. Para petugas kemanan mensterilkan kondisi. Demikian pula dengan para pemuka agama. Saling bahu membahu mempersuasi masyarakat untuk tenang dan menjaga situasi damai yang berujung kepada lahirnya kebahagian bagi kedua belah pihak.
“Saudara-saudara. Kita harus tenang dan tenang. Jangan mudah terprovokasi,” ujar seorang pemuka masyarakat di hadapan warga yang membludak.
“Benar Pak. Tapi mereka telah merampas hak kita. Mereka telah berlakon bak penjajah baru. Maka kita melawan,” jawab seorang warga yang rumahnya hampir terkena aksi exavator.
“Justru itu, kalau kita tak tenang dan tak bersatu padu maka kita akan kalah. Dan ketenangan adalah sumber kemenangan kita melawan kesewenang-wenangan ini,” lanjut pemuka masyarakat dengan nada bijaksana.
Masyarakat yang berkumpul pun terdiam. Membisu bak patung mendengar arahan pemuka masyarakat mereka.
Sementara itu di tempat yang sama tak jauh dari lokasi berkerumunan masyarakat Kampung Duka. Sejumlah petugas keamanan daerah tampak ditenangkan oleh komandannya. Beberapa petugas kemanan daerah banyak yang dilarikan ke rumah sakit terdekat bersama dengan para warga Kampung Duka.
“Kita ini tidak bisa bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan tugas. Ingat kita memiliki aturan tersendiri. Dan bagi mereka yang bertindak diluar kewenangan maka yang bersangkutan harus mendapat hukuman sesuai dengan aturan,” tegas sang Komandan dengan nada tinggi.
Semua petugas keamanan daerah terdiam. Hanya desis nafas yang menggema di heningnya siang.
“Kalian harus paham, kita bukan sedang berhadapan dengan musuh. Tapi kita sedang berusaha melaksanakan tugas dengan cara-cara yang manusiawi walaupun banyak yang bilang kita ini arogan dan tak manusiawi dalam bertindak,” lanjutnya.
Para anggotanya terdiam lagi dan menunduk malu.
Di Balai daerah, petinggi daerah tampak sedang asyik menjawab pertanyaan para kuli tinta yang memburunya. Dan dengan gaya khasnya sebagai pemimpin, dia tegas menyatakan bahwa pembongkaran harus dilaksanakan.
“Pembongkaran harus dilanjutkan walaupun banyak resiko dan korban. Kita selama ini sudah mengalah dan mengalah kepada masyarakat,” ungkapnya dengan diksi kesal.
“Tidak ada toleransi dan tidak ada ganti rugi karena tanah itu adalah tanah milik negara,” lanjutnya sambil masuk ke dalam mobil.
Bagi masyarakat Kampung Duka yang merupakan penduduk asli daerah ini, kampung itu bukan sekadar tempat pemukiman semata. Namun di Kampung ini sejumlah peristiwa telah mereka lewatkan semenjak puluhan tahun yang lalu bersama para penghuni lainnya secara turun temurun.
Beragam kisah hidup telah mereka alami dan nikmati sebagai penduduk Kampung Duka. Tak heran mereka secara beranak pinak telah mendiami pemukiman itu sehingga melahirkan komunitas asli yang makin tersingkirkan dari sibuknya kota.
“Pak Petinggi Daerah harus tahu, kami tinggal di sini semenjak dari dulu. Tanah ini adalah warisan dari nenek moyang kami yang kami warisi dan tinggalkan. Mohon Bapak memahaminya,” ungkap seorang warga dalam pertemuan dengan petinggi daerah beberapa hari sebelum penggusuran dilakukan.
“Benar sekali. Saya juga lahir dan besar disini, hingga akhirnya berkeluarga,” ungkap warga lainnya.
“Saya tahu dan pahami akan sejarah itu. Yang menjadi pertanyaan kenapa anda sekalian tak memiliki surat tanah yang syah sesuai dengan aturan di negeri ini? Kalau bapak-bapak tak memiliki surat yang syah artinya anda semua penduduk ilegal dan dapat dikatakan sebagai penyerobot tanah negara,” jelas petinggi daerah dengan nada berapi-api.
“Kami ini manusia Pak. Kami penduduk asli Kampung ini. Tradisi kami secara turun menurun di di sini tak mengenal kata menyerobot dan mengambil hak orang lain. Biar Bapak tahu banyak tanah di Kampung ini yang kami berikan secara gratis dan cuma-cuma kepada warga lainnya untuk perkembangan Kampung ini. Adalah naif kalau Bapak bilang kami sebagai penyerobot tanah negara. Dan perlu Bapak ketahui sebelum negara ini dideklarasikan moyang kami sudah tinggal dan hidup di sini. termasuk melawan penjajah,” ungkap tetua Kampung. Dan muka petinggi daerah pun memerah.
“Dan kalau memang kami dianggap sebagai penghalang pembangunan, maka bom saja kampung ini, Pak. Ayo lakukan sekarang,” seru seorang warga lainnya. Dan dialog pun terhenti. Para petugas keamanan kembali sigap menanangkan situasi pertemuan.
Di ruang kerja petinggi daerah, berkumpul sejumlah orang. Mereka tampak sedang asyik bertukar pikiran. Kadang nada bicara mereka seakan berbisik. Kadang suaranya mengeras gempitaklan bumi. Tak jarang suara ketawa terbahak-bahak dari mereka mewarnai pertemuan itu.
“Intinya kita minta Pakbos lah yang menyelesaikan bagaimana baiknya sehingga semua berjalan dengan baik. Bukankah proyek itu akhirnya jatuh kepada Pakbos juga,” ujar petinggi daerah sambil menoleh kepada seseorang berkulit putih yang sedari tadi cuma banyak berdiam diri.
“Siap. Siap,” jawabnya.
“Kalau memang masyarakat tak bisa diajak kompromi, laporkan saja kepada Presiden biar beliau yang menyelesaikannya. Bukankah beliau hobby blusukan ke daerah itu saat kampanye yang lalu,” ujar peserta rapat yang disambut tawa para peserta rapat.
“Ide yang brilian sekali. Biar Presiden saja yang ngurusnya. Kita terima beres saja. Tapi jangan lupa kita harus tetap blow up lewat media biar makin ramai,” ujar Petinggi Daerah.
“Dan Bapak petinggi daerah makin tinggi populeritasnya. Modal awal untuk dua tahun mendatang,” sela yang lain. Dan suara tawa kegembiraan kembali membahana di ruang rapat yang eksklusif itu.
Sementara di Kampung Duka tangis dan jerit anak-anak balita mengapung alam. Tangis mereka menjadi potret kehidupan bangsa ini. Gema tangisan anak-anak masa depan itu meresonansi jagad raya hingga ke pelosok alam dan nurani penghuninya. Mencairkan sinar mentari yang makin panas, menghantam jiwa-jiwa manusia penghuni kota.
Sinar mentari pagi cerahi bumi dengan sinarnya yang menyala. Terangi jiwa-jiwa yang sedang dalam perjalanan spiritual hidup. Cerahi raga manusia di bumi yang sedang berada dalam lingkar kekuasaan. Terangi para penghuni Kota yang sudah mulai kehilangan akal sehat dilumuri kekuasaan sesaat demi mencari jati diri sebagai penguasa. Sedangkan di Kampung Duka, sejumlah orang mulai beraktivitas kembali ditengah nurani para penguasa daerah yang mulai dilumuri kekuasaan akal sehatnya, sehingga mampu bertindak sebagai penjajah baru bagi bangsanya sendiri. Toboali, Bangka Selatan. (*)

No Response

Leave a reply "Robohnya Kampung Kami"