Revolusi Industri 4.0: Antara Keuntungan dan Kerugian untuk Bangka Selatan

  • Whatsapp

 

 

Oleh: SAMSIR, ST.MM

Anggota Komisi 3 DPRD Bangka Selatan/ Sekretaris Umum DPD PKS Bangka Selatan

 

Disadari atau tidak, sekarang dunia termasuk Indonesia sudah memasuki era high competif untuk bisa tetap survive dalam menyambut hadir era teknologi global dengan hadir era revolusin 4.0, dan tak terkecuali Bangka Selatan juga akan ikut merasakan iklim persaingan dalam memperebut market share dan investor untuk bisa menggaet para investor bisa berusaha di Bangka Selatan dalam menunjang peningkatan kinerja pemerintahan mengeksplorasi sumber daya alam yang kita miliki.  Sudah siapkah Bangka Selatan untuk itu ?

Bangka Selatan yang merupakan satu daerah kecil terletak di bagian Selatan Pulau Bangka, dalam usia yang masih relatif muda memiliki luas wilayah 360 km persegi dengan total jumlah penduduk 172 ribu, 70 persen mengandalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor Perkebunan, Pertanian dan Perikanan baru dapat membiayai kebutuhan rumah tangganya +/- 65 miliar dari total 900 milar rupiah APBD pada tahun 2020, dan memiliki tingkat interdepensi (ketergantungan) fiscal yang sangat tinggi terhadap Pemerintahan Pusat.

Dari potensi Sumber Daya Alam, Bangka Selatan memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah di segala sektor khususnya sektor perkebunan, mulai dari perkebunan lada, perkebunan sawit, perkebunan karet, dan sekarang perkebunan ubi casesa (ubi Racub) sebagai alternative sumber penghasilan. Di Bidang Perikanan Bangka Selatan memilki potensi kandungan produksi ikan dan penyumbang ikan paling tinggi di Bangka Selatan. Di bidang pariwisata Bangka Selatan memiliki potensi Bahari dalam bentuk pantai dan pulau-pulau kecil indah yang belum tereksplorasi dan terkelola dengan baik, memiliki alam bawah laut dengan biota lautnya yang indah di wilayah Pulau Kelapan dan Kepulauan Pongok. Namun, sampai saat ini, belum bisa dimaksimalkan untuk dikelola sebagai sumber pendapatan asli daerah Bangka Selatan.

Kekayaan sumber daya alam yang melimpah tersebut sampai saat ini, belum bisa  dinikmati dan belum memberikan kontribusi yang significan untuk Bangka Selatan, karena semua aktivitas ekonomi kebanyakan terjadi di luar daerah Bangka Selatan. Hasil Produksi Timah aktivitas penjualannya di Pangkalpinang, Pabrik Karet ada di Bangka Induk, Tempat berlibur di Bangka Induk, belanja di Bangka Tengah dan Pangkalpinang, jual  hasil lada di Pangkalpinang. Dan tidak sampai 10 %  perputaran uang terjadi di Bangka Selatan, maka yang menikmati pajak dari aktivitas jual beli tersebut orang lain. Maka dengan munculnya kawasan insustry strategis sadai (KISS) bisa menumbuhkan daerah pertumbuhan ekonomi baru di Bangka Selatan dan memberikan manfaat untuk masyarakat Bangka Selatan.

Dengan hadirnya revolusi industry 4.0 sampai sejauh mana kesiapan Bangka Selatan bisa mempersiapkan diri menyambut hadirnya era reviolusi 4.0 yang tentunya tidak bisa dihindari jika Bangka Selatan mau tetap eksis dalam arena persaingan global market untuk bisa memberdayakan poteni sumber daya alam yang kita miliki untuk kemakmuran masyarakat Bangka Selatan. Tentunya hadirnya era revolusi 4.0 memaksa kita Bangka Selatan untuk bisa beradaptasi dengan perubahan, dan tuntuan zaman jika kita mau jadi pemenang dalam arena persaingan tingkat tinggi tersebut.

Masuknya era Revolusi industry 4.0 memaksa kita dan memberikan kita untuk memilih mengikuti dan menyesuaikan diri atau tetap bertahan minimal bisa survive dengan cara lama dan akan punah dengan sendiri seperti donosaurus.

Hadirnya era Revolusi Industri 4.0 akan memberikan keuntungan suatu daerah dan masyarakat jika kita mau beradaptasi  menyesuaikan dengan kebutuhan revolusi industry, dimana dengan revolusi industry 4.0 akan membuat biaya operasional menjadi effisen dan pekerjaan bisa effektive dengan biaya operasional yang lebih kecil. Namun disisi lain akan banyak menyingkirkan dan mengurangi kebutuhan Tenaga manusia dalam melakukan proses pelayanan public kepada masyarakat, sehingga hal ini akan memberikan multiflier effect berupa meningkatnya angka pengangguran, naiknya jumlah angkatan kerja tanpa pekerjaan yang berimbas pada menurunnya pendapatan perkapita masyarakat yang pada akhirnya berpotensi mendorong peningkatan index gini ratio yang akan membuat suatu daerah terlibat kekacauan. Kalau kondisi ini sampai terjadi, maka akan semakin memperlemah daya saing daerah,  jangankan mendatangkan investor baru yang sudah eksis saja bisa angkat kaki dari Bangka Selatan.

Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Menteri Kabinet Jilid I) sektor manufaktur Nasional Harus Siap Menuju perubahan besar dalam menghadapi revolusi industry 4.0. Konsekuensinya  pendekatan dan kemampuan baru diperlukan untuk membangun sistem produksi yang inovatif dan berkelanjutan. Karena, ketika suatu Negara atau daerah masuk ke revolusi industry 4.0. pertumbuhan industry yang menyeluruh dan berkelanjutan sudah pasti terjadi, begitu juga dengan daerah kita Bangka Selatan yang sekarang sudah mulai menunjukkan perkembangan dengan hadirnya Kawasan Industri Strategis Sadai di kecamatan Tukak Sadai. Sudah siapkah Kita Bangka Selatan menyambut revolusi Industry 4.0 ? Apakah kita akan menjadi bagian dari hadirnya Revolusi Industri tersebut, atau kita hanya akan menjadi penonton abadi atas pembangunan Kawasan industry Strategis Sadai tersebut. Atau jangan –jangan kita tidak bisa menikmati effect dari pembangunannya.

Masih menurut Airlangga Hartarto, ada beberapa hal yang harus dilakukan daerah untuk bisa mengambil keuntungan dengan hadirnya revolusi Industri 4.0 adalah sebagi berikut : Pertama, Daerah harus mendorong agar angkatan kerja di Indonesia dan untuk itu  Pemerintah daerah harus mendorong angkatan kerja begitu juga di Bangka Selatan untuk meningkatkan ketrampilannya untuk memahami penggunaan teknologi internet of things atau mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi industry. Untuk mendukung upaya tersebut pemerintah kabupstrn  juga harus menginisiasi pelaksaan pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dengan industry. Serta pengembangan program ini sekaligus menyiapkan tenaga kerja terampil yang siap pakai di dunia industry.

Kedua, Pemerintah daerah harus melakukan pemanfaatan tehnologi digital untiuk memacu produvtivitas  dan daya saing bagi industry kecil dan menengah ( IKM ) sehingga mampu menembus pasar nasional bahkan ekspor melalui program e-smart IKM. Program ini merupakan upaya memperluas pasar dalam rantai nilai dunia dan menghadapai era industry 4.0. Ketiga, dianjurkan Pemerintah daerah agar dapat menggunakan tehnologi digital seperti big data, autonomus robots, cybersecurity, dan Augmented reality.dimana system industry 4.0 ini akan memberikan keuntungan bagi industry , seperti menaikkan effesiensi dan mengurangi biaya sekitar 12 – 15 %. Keempat, menggunakan inovasi tehnologi melalui pengembangan start-up dengan memfasilitasi tempat inkubasi bisnis.

Dengan demikian, kehadiran revolusi Industri 4.0 tidak bisa kita tolak pasti terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan diri menyambut era revolusi industry tersebut bagaimana kita bisa tetap survie dan eksis. Perubahan teknologi memang selalu membawa dua dampak bagi manusia dan bagi daerah, yaitu positif dan negatif.

Adapun keuntungan dari revolusi industry apabila kita menerapkan dan menyambut dengan melakukan persiapan menghadapi revolusi industry 4.0 adalah: Pertama, mempunyai potensi memberdayakan individu dan masyarakat dan menciptakan peluang baru bagi ekonomi , social, maupun pengmbangan diri piobadi. Kedua, Mempermudah pekerjaan manusia terutama dalam kegiatan perindustrian. Ketiga, Memiliki data dan fasilitas produks yang terhubung ke claud computing juga akan menjamin keamanan data yang lebih baik tertata dan ringkas. Keempat, Menimalisir kemungkinan terjadinya human error , karena computer yang menjadian kontrol bisa menghasilkan  pekerjaan yang konsisten. Kelima, Menghasilkan untuk banyak bisnis bisa meningkatkan pendapatan , pangsa pasar, dan keuntungan. Keenam, Besar kemungkinan system yang digunakan akan lebih canggih semua dapat dikontrol dan dikendalikan secara realtime.

Disamping keuntungan, tentunya juga mempunyai sisi kerugian dan kekurangannya dengan hadirnya Revolusi 4.0 ini antara lain: Pertama, Kemungkinan berkurangnya kebutuhan tenaga manusia dalam proses industry karena semua sudah dilakukan secara otomatis oleh mesin. Kedua, Isu tentang keamanan data meningkat dengan mengintegrasikan system baru dan semakin banyaknya akses ke system itu. Ketiga, Isu privasi terkait informasi produksi dan kepemilikan. Keempat, Memerlukan control ketat dari manusia saat proses produksi. Karena tidak ada dan tidak akan pernah ada kecerdasan Aquation Intelegence yang mengalahkan kecerdasan manusia.

Sehingga siap  tidak siap mau tidak mau kita di Bangka Selatan sebenarnya sudah berada di era revolusi industry 4.0. Hanya saja kita  hidup di Negeri Junjung Behaoh belum menyadarinya, padahal tinggal menunggu effect-nya semakin terlihat jelas. Salah satu dampak sudah terjadi kecenderungan semakin massif adalah berubahnya pekerjaan kita.

Sayangnya, seperti yang kita ketahui sendiri kebanyakan masyarakat di Bangka selatan kita takut bersentuhan dengan perubahan (change), apalagi berkaitan dengan teknologi. Tidak akan ada yang mampu menghentikan laju teknologi. Kita hanya memiliki dua altenatif pilihan, terus belajar dan ikut maju bersama mengikuti perkembangan zaman bisa survie seperti jerapah, atau diam mengeluh dan tertinggal di belakang, dan akhirnya punah seperti dinosurus yang tinggal cerita. Pilihan itu ada di diri kita, apakah kita akan tetap eksis sebagai penghuni Bumi Junjung Behaoh yang bergerak maju sejajar dengan Daerah Otonomi baru lain, ataukah akan hilang dibubarkan dan bergabung dengan daerah lain. Jawabannya ada di kita dan masyarakat Negeri Junjung Behaoh. (***).

 

 

Related posts