by

Revitalisasi Pendidikan & Kebudayaan Melalui Gerakan Penguatan Karakter Nasionalisme

Oleh: Ati Lasmanawati, M.Pd.
Guru SMA Negeri 1 Sungailiat, Bangka

Ati Lasmanawati, M.Pd

Pendidikan, Kebudayaan dan Karakter
Pendidikan adalah sarana mencetak generasi penerus bangsa untuk menjadi manusia-manusia berkualitas, sebagai generasi yang dapat memajukan kehidupan bangsa dan negara. Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 Pasal 3 bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan dari pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sedangkan menurut Socrates yang telah menyampaikan sejak 2500 tahun yang lalu, tujuan yang paling mendasar dari pendidikan adalah membuat seseorang menjadi “good and smart”. Manusia yang terdidik seharusnya menjadi orang bijak, yaitu yang dapat menggunakan ilmunya untuk hal-hal yang baik (beramal shaleh), dan dapat hidup secara bijak dalam seluruh aspek kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara. Oleh karenanya, sebuah sistem pendidikan yang berhasil adalah yang dapat membentuk manusia-manusia berkarakter yang sangat diperlukan dalam mewujudkan sebuah negara kebangsaan yang terhormat.

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik, sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pendapat Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, yang mengemukakan bahwa “Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita yang selaras dengan dunianya” (Kemdikbud, 2017).

Terkait dengan kebudayaan, menurut Wikipedia bahwa kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual, dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Sedangkan Edward Burnett Tylor mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Menelaah ketiga pengertian tersebut, ada unsur muatan penekanannya sama, yaitu kata budi atau akal, norma dan moral. Ketiga kata tersebut terkait erat dengan nilai karakter. Hal ini memaknai bahwa nilai karakter ternyata bukan hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi nilai karakter menjadi suatu bagian dari kebudayaan.

Dalam Pasal 2 UU 5 tahun 2017, ditegaskan bahwa Pemajuan Kebudayaan berazaskan toleransi, keberagaman, kelokalan, lintas wilayah, partisipatif, manfaat, keberlanjutan, kebebasan berekspresi, keterpaduan, kesederajatan dan gotong royong. Dengan Tujuan untuk mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, memperkaya keberagaman budaya, memperteguh jati diri bangsa, memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa, menderdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan citra bangsa, mewujudkan masyarakat madani, meningkatkan kesejahteraan rakyat, melestarikan warisan budaya bangsa, dan mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia, sehingga Kebudayaan menjadi haluan pembangunan nasional (Pasal 4). Isi yang termuat dalam pasal tersebut, menegaskan bahwa muatan azas kebudayaan menjadi bagian dari nilai-nilai karakter yang harus dikuatkan dalam diri setiap manusia, khususnya pada peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.

Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills) sebagai manifestasi dari nilai, kemampuan, kapasitas moral, serta ketegaran dalam menghadapi kesulitan maupun tantangan (TIM PPK Kemdikbud, 2017). Karakter mengandung nilai-nilai yang khas baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.
Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir (cerdas, kritis, inovatif, ingin tahu, berpikir terbuka, produktif, berorientasi Ipteks, dan reflektif), olah hati (beriman dan bertakwa, jujur, amanah, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko pantang menyerah, rela berkorpan, dan berjiwa patriotik), olah raga (bersih dan sehat, disiplin, sportif, tangguh, handal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinative, kompetitif, ceria, gigih), dan olah rasa/ karsa (ramah, saling menghargai, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalisme, kosmopolit, mengutamakan kepentingan umum, bangga menggunakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, dan beretos kerja).

Pentingnya Revitalisasi Pendidikan dan Kebudayaan
Mengacu pada Wikipedia, pengertian dari revitalisasi bisa berarti proses, cara dan atau perbuatan untuk menghidupkan atau menggiatkan kembali berbagai program kegiatan apapun. Sehingga secara umum pengertian dari revitalisasi merupakan usaha-usaha untuk menjadikan sesuatu itu menjadi penting dan perlu sekali. Revitalisasi dapat dilakukan dengan menggalakan ragam kegiatan sesuai dengan program kebijakan pemerintah yang saat ini menjadi prioritas utama, khususnya dalam pada pencapaian program “Nawa Cita”, yang salah satu program sedang gencar digalakan kembali adalah terkait dengan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa saat ini revitalisasi pendidikan dan kebudayaan penting untuk dilakukan?

Bukan rahasia umum, apabila kita mengatakan bahwa Indonesia mengalami ketertinggalan dalam mutu pendidikan baik pendidikan formal maupun non formal. Sementara kita tahu bahwa pendidikan memiliki peranan penting dalam pembangunan bangsa, karena pendidikan merupakan salah satu bagian yang menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia. Sehingga sudah seharusnya kita dapat meningkatkan sumber daya manusia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya dari negara lain. Inilah yang menjadi kenyataan pahit bahwa Indonesia ternyata selama ini memiliki kualitas pendidikan yang masih rendah dengan sumber daya manusia yang belum kompetitif, walaupun sudah mulai memasuki Abad 21.

Keragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, ternyata tidaklah membuat generasi muda bangsa lebih mencintai budayanya sendiri. Fenomena yang terjadi seiring dengan perkembangan zaman era globalisasi dengan masuknya budaya barat ternyata menimbulkan pengaruh yang besar bagi kebudayaan Indonesia. Masyarakat lebih mengikuti kebudayaan barat dan mengabaikan kebudayaan negaranya sendiri walaupun budaya yang dimiliki jauh lebih beragam dan unik. Masuknya kebudayaan barat tanpa disaring oleh masyarakat dan diterima secara mentah atau apa adanya, mengakibatkan terjadinya degradasi yang sangat luar biasa terhadap kebudayaan asli. Lihatlah kondisi yang terasa pada generasi muda saat ini, semakin sedikit di antara mereka yang memiliki minat untuk melestarikan musik, tarian, dan budaya tradisional. Perlahan namun pasti jika hal ini dibiarkan terjadi, maka kita harus siap menerima kenyataan bahwa keragaman kebudayaan Indonesia akan semakin luntur dan mungkin tidak lagi dikenali oleh generasi penerus bangsa di masa depan.

Perkembangan zaman dan beragam permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, khususnya yang terkait dengan generasi muda sebagai penerus bangsa ternyata menjadi salah satu alasan pentingnya dilakukan revitalisasi pendidikan dan kebudayaan. Beragam potret buram pendidikan di Indonesia yang saat ini terjadi, menandakan bahwa rendahnya nilai karakter anak-anak bangsa. Dalam dunia pendidikan, tidak akan terlepas dari peran si pandai dan peran pemalas. Yang miris terjadi adalah bagi peserta didik yang pandai aau memiliki pendidikan yang tinggi, ternyata ada yang jiwanya rendah dengan kesadaran untuk mengabdi di negaranya. Karena kebanggaan akan besarnya finasial yang didapat dengan bekerja diluar negeri dan merasa bangga jika dapat menetap di luar negeri karena gengsi ternyata membuat Negara ini semakin kehilangan generasi-generasi unggul yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa. Bagaimana negera ini semakin maju, jika generasi cerdasnya tidak mau berpartisipasi membangun bangsanya sendiri dan bangga menjadi bagian dari kemajuan bangsa lain?

Sedangkan kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan yang bukan hanya sekedar perilaku bullying, tetapi sudah merambah pada tindak pembunuhan walaupun dengan dalih membela diri atau bentuk pembinaan pada adik tingkatnya, menjadi salah satu fenomena yang sudah mulai marak terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Perilaku peserta didik yang melakukan seks bebas bukan hanya di luar sekolah, namun saat ini sudah berani untuk melakukannya di dalam lingkungan sekolah, dan menganggap bahwa tindak asusila tersebut menjadi hal yang lumrah dialami oleh anak muda zaman sekarang atau dengan istilah mereka “kids zaman now”, menjadi fenomena yang miris untuk dialami bangsa ini. Tayangan-tayangan yang mengumbar perilaku tidak sesuai dengan adat dan budaya bangsa ini, ternyata menjadi perilaku yang dibanggakan dan merasa patut untuk ditiru oleh mereka yang mengaku sebagai kids zaman now.

Maraknya kasus yang terjadi terkait dengan perilaku pelajar baik dari mulai sekolah dasar sampai mahasiswa yang rela untuk menjajakan diri dengan alasan mencukupi kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup seperti apa? Kenyataannya adalah banyak yang melakukan tindakan asusila karena tuntutan gaya hidup (life syle) yang tidak sesuai dengan kemampuan orang tua. Sehingga mereka melakukan jalan pintas dengan menjual diri atau mencari pasangan yang dapat memenuhi kebutuhan gaya hidup tingginya tersebut (Hight Class). Bagaimana mereka sebagai peserta didik dapat belajar dengan baik, jika dalam pikirannya telah tertanam racun dunia yang membuat diri terlena dan tidak peduli dengan pentingnya menjaga pendidikan yang akan berguna untuk masa depannya, masa depan bangsa dan negaranya. Tanpa disadari atau tidak, perilaku-perilaku negatif yang dilakukan oleh peserta didik sebagai generasi muda saat ini tidak terlepas dari pengaruh budaya luar yang tidak terfilter dengan baik. kebudayaan yang seharusnya menjadi ciri khas bangsa ini, perlahan-lahan mulai ditinggalkan seiring dengan tergerusnya perubahan zaman. Inilah yang mendasari pentingnya dilakukan revitalisasi pendidikkan dan kebudayaan demi kelangsungan kehidupan bangsa dan negara yang maju dan bermartabat.

Revitalisasi Pendidikan dan Kebudayaan Melalui Penguatan Karakter Nasionalisme
Mengapa revitalisasi pendidikan dan kebudayaan dilakukan melalui penguatan karakter nasionalisme? Nilai karakter nasionalisme menurut Notosusanto (1979) yang mengutif dari george Mc. T. Kahin adalah suatu ide yang mengisi hati manusia dengan suatu pikiran baru dan mendorong untuk menterjemahkan dalam tindakan berupa aksi yang diorganisasi. Karena itu, nasionalisme bukan semata-mata suatu kelompok yang diikat dan dijiwai oleh kesadaran bersama, melainkan juga merupakan suatu kelompok yang ingin mengungkapkan dirinya kedalam apa yang dianggapnya bentuk tertinggi dari kegiatan yang terorganisasi yakni negara yang berdaulat”. Penekanannya bahwa nasionalisme merupakan spirit, semangat, moril, yang hidup pada diri manusia demi keagungan bangsa. Lebih lanjut dikemukakan Kartodirdja (1972), bahwa nasionalisme harus mengandung aspek affective, yaitu semangat solidaritas, unsur senasib, unsur kebersamaan dalam segala situasi sehingga seluruh warga bangsa sadar akan kebangsaannya.

Gerakan penguatan nilai karakter nasionalisme, khususnya pada peserta didik sebagai generasi bangsa ini, diharapkan dapat menjadi salah satu strategi dalam melakukan revitalisasi pendidikan dan budaya bangsa. Dalam nilai karakter nasionalisme, ada muatan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Subnilai nasionalisme yang mencakup antara lain: apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan,taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku,dan agama. (TIM PPK Kemdikbud, 2017).

Apabila dalam diri generasi muda Indonesia telah tertanam dengan kuat nilai karakter ini, maka niscaya bangsa ini akan menjadi bangsa yang kokoh dalam segi pendidikan dan maju dalam kebudayaannya. Karena nilai yang terkandung dalam karakter nasionalisme merupakan perasaan cinta dan bangga, kecintaan alamiah terhadap tanah air, mengakui adanya dan menghargai sepenuhnya keanekaragaman pada diri bangsa Indonesia, perasaan membela tanah air apabila dalam keadaan terancam, selalu berhubungan baik dan toleransi terhadap orang lain, memiliki rasa perduli, setia kawan, dan cinta damai, perduli terhadap lingkungan, perduli terhadap masalah-masalah sosial, dan masalah kenegaraan baik nasional maupun internasional.

Gerakan penguatan karakter nasionalisme pada diri generasi muda, dapat membuat mereka sadar dan memiliki rasa peduli untuk tetap kembali membangun bangsanya walaupun mereka telah mengenyam pendidikan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri. Akan selalu ada rasa kebanggaan dan cinta terhadap bangsanya sendiri, terutama rasa kecintaan dan bangga akan keragaman budaya yang dimiliki. Tertanam kuat rasa nasionalisme dalam diri generasi muda akan membuat mereka berpikir beribu kali untuk melakukan tindakan yang tidak terpuji, apakah terkait dengan: tindakan asusila atau pergaulan bebas yang membuat identitas mereka menjadi tidak jelas, tindakan kekerasan, rasa malas untuk menuntut ilmu, tidak memiliki rasa toleransi, dan beragam tindakan negatif lain yang akan dihindari oleh generasi yang memiliki kesadaran untuk setia dan menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsanya. Jiwa nasionalisme yang mengakar pada diri generasi muda penerus bangsa ini, akan membuat mereka berusah untuk tetap menjadi generasi yang baik yang bukan hanya dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri tetapi dapat bermanfaat untuk orang lain, baik keluarga, tetangga, masyarakat maupun bangsanya. Oleh karena itu, penting untuk melakukan.

Semoga pemerintah Indonesia dapat melakukan beragam cara untuk menjadikan gerakan penguatan karakter nasionalisme sebagai salah satu solusi dalam mengatasi beragam permasalahan yang terjadi dan di masa depan dapat mengancam keberlangsungan kehidupan bangsa dan Negara ini. Utamanya bagi generasi muda yang ada di jenjang sekolah baik mulai dari SD sampai SMA/SMK, nilai karakter nasionalisme yang harus ditumbuhkan dalam diri peserta didik, dilakukan baik melalui proses pembelajaran di dalam kelas maupun pembelajaran yang dilakukan peserta didik di luar kelas. Peserta didik yang baik, yang dapat bermanfaat bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi dapat bermanfaat untuk orang lain, baik keluarga, tetangga, masyarakat maupun bangsanya. Inilah salah satu alasan kuat, mengapa penting sekali dilakukan gerakan penguatan karakter nasionalisme sebagai bentuk revitalisasi pendidikan dan kebudayaan di Negara Indonesia tercinta ini. (****).

Comment

BERITA TERBARU